Beranda       Nasional       Internasional       Life Style       Olah Raga       Opini       Sorot
Rehat 

Lestarikan Budaya Lokal Daerah Dengan Menggelar Kerapan Kambing
Sabtu, 12-01-2019 | 23:26 wib
Oleh : Farid Fahlevi
Probolinggo pojokpitu.com, Ada berbagai cara untuk melestarikan budaya daerah, seperti yang dilakukan paguyuban petani di Kota Probolinggo, Jawa Timur. Mereka menggelar tradisi kerapan kambing dengan tujuan tradisi ini agar tetap lestari.

Dengan aba-aba hitungan 1,2 dan 3, sepasang kambing kerapan kambing dilepas dan harus berlari di lintasan sepanjang 170 meter dari garis start menuju garis finish, di Lapangan Kelurahan Jrebeng Kulon, Kota Probolinggo.

Dibelakang kambingpun juga ikut berlari, katakan saja joki atau biasa disebut penghentak kambing, agar kambing bisa berlari lebih kencang.

Biasanya joki harus orang yang mampu berlari kencang, mengikuti kambing sambil membawa cambuk kecil.

Kerapan kambing yang ada di Kota Probolinggo mungkin sedikit berbeda dengan di daerah lain, di kota mangga ini,setiap peserta harus sepasang kambing dan dilengkapi keleles layaknya kerapan sapi.

Banyak kelucuan yang terjadi saat kambing-kambing dilepas. Mulai kambing tak mau berlari, kambing menabrak pembatas lintasan, hingga kambing malah berputar-putar saat mendekati garis finish.

Merawat kambing kerap balap ini terbilang cukup rumit dan lumayan mahal, mulai dari memberi jamu-jamuan, seperti puluhan telur ayam kampung hingga memberi minuman ber energi.

Jika akan bertanding biaya untuk merawat, dua kali lipat lebih besar dari hari-hari biasanya.

Samad, salah satu peserta kerapan kambing yang berasal dari Kelurahan Posangit kidul ini mengatakan, meski belum pernah juara, kambing kerap miliknya sudah menghabiskan uang jutaan rupiah hanya untuk biaya perawatan saja.

Biasanya jika kambing yang sering juara, nilai jualnya akan meningkat tajam. Setiap pasang kambing bisa dihargai 10 hingga 15 juta rupiah.
 
Sementara itu, Pramito Legowo, ketua panitia, menjelaskan,  kerapan kambing ini akan terus dilaksanakan setiap tahun 2 kali, "Biasanya memasuki musim tanam atau musim panen," kata Pramito Legowo.

Diharapkan ke depan budaya ini terus tetap lestari agar nantinya bisa dinikmati oleh generasi selanjutnya. (yos)

Berita Terkait


Lestarikan Budaya Lokal Daerah Dengan Menggelar Kerapan Kambing

Biar Menang , Kambing Juga Harus Latihan Lari

Unik dan Lucu Lomba Karapan Kambing di Jombang

Unik, Lomba Karapan Kambing di Lumajang


Sponsored Content

loading...
Berita Utama Lihat Semua

Berita Terkini Lihat Semua

Berita Terpopuler Lihat Semua

Surabaya Raya Lihat Semua

Rehat Lihat Semua



Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber