Beranda       Nasional       Internasional       Life Style       Olah Raga       Opini       Sorot
Tempo Doeloe 

Histori Warna Memandu Revitalisasi
Kamis, 06-12-2018 | 19:43 wib
Oleh : Nanang Purwono
Surabaya pojokpitu.com, Belakangan, setelah forum diskusi Begandring Soerabaia menginisiasi Heritage Trip pada Minggu (2/12), yang diikuti oleh puluhan pegiat sejarah dari lintas komunitas, kegiatan pengecatan warna warni pada sederetan rumah panggung di jalan Panggung Surabaya menjadi viral. Kalangan pemerhati tidak setuju dengan pengecatan warna warni pada bangunan lama, yang menjadi icon jalan Panggung. Jalan Panggung adalah satu satunya ruas jalan, yang berpagar rumah-rumah bertingkat yang sejak dahulu kala sudah berfungsi sebagai rumah dan toko (ruko).

Menurut Iman Kristian, Kepala Bidang Pembangunan, Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Cipta Karta dan Tata Ruang sebagai pelaksana pengecatan, bahwa pengecatan warna warni di jalan Panggung ini sudah mendapat persetujuan dari Tim Ahli Cagar Budaya. Standar acuannya adalah kawasan konservasi yang ada di Malaysia dan Singapura. Di sana rumah-rumah serupa dicat warna warni. Ada merah, hijau, kuning, biru dan ungu bak warna pelangi di masa pancaroba. Konon di negeri itu, kehadirannya mampu mendorong pertumbuhan ekonomi dan bisnis lewat sektor pariwisata.

Berangkat dari keberhasilan itu, Surabaya meniru. Tujuannya untuk menghidupkan kawasan kota lama menjadi lebih bermutu. Pemerintah kota Surabaya berjibaku. Organisasi Perangkat Daerahnya dipacu. Warga pun diharap bisa bersatu, rawe rawe rantas malang malang putung. Ringan sama dijinjing, berat sama dipikul.

Alhamdulillah, warga bahu membahu. Produsen cat pun bertemu, siap menyediakan bergalon galon cat siap ulas. Istilah kreasi tanpa batas melalui kuas terbuka luas. Hasilnya jelas, rumah-rumah panggung sebagian telah dikuas warna warna tegas dan keras. Bagi para produsen cat, yang dalam revitalisasi ini telah bermitra dengan pemerintah kota, cat yang warna warni adalah etalasenya. 

Melihat jalan Panggung yang berpelangi, para pegiat sejarah lintas komunitas tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali berdiskusi dan berembug untuk mencari solusi atas apa yang sudah terjadi. Studi banding pun terbuka. Anggota komunitas, yang pernah berkunjung ke negara manca, bercerita tentang upaya revitalisasi di sana. Juga ada cerita dari mereka yang berkesempatan melancong sebagai wisatawan. Juga muncul pendapat dari mereka yang berkesempatan hidup sebagai mahasiswa dan pekerja. Bahkan ada yang sekedar dapat cerita dan berselancar di dunia maya. Tanpa ada kompromi yang dikompori, mereka sepakat berpendapat bahwa jalan Panggung tidak selayaknya diperlakukan bagai pelangi, seperti di negara Jiran dan kepala Singa.

Menurut mereka, kedua negara itu memiliki sejumlah ruas jalan yang masih menyimpan bangunan bangunan lamanya. Jika salah satu ruas jalan dengan bangunan lamanya diwarna warni, mereka masih memiliki ruas lainnya dengan aplikasi cat yang tetap ramah sejarah. Dengan demikian, pendatang masih bisa menikmati keaslian yang benar benar dikonservasi dan satu bagian yang rela didekorasi demi pundi ekonomi.  

Berbeda dengan di Surabaya. Surabaya hanya memiliki jalan Panggung. Satu satunya jalan dengan rumah-rumah panggungnya yang khas Melayu. Jalan Panggung adalah sebagian dari kawasan Kampung Melayu, yang pernah ada di Surabaya. Kampung Melayu tersebut di kala Indonesia masih menjadi koloni Belanda. Kampung Melayu berdiri berdampingan dengan Kampung Pecinan di sebelah selatan dan Kampung Arab di sebelah utaranya. Sementara di sebelah barat, di seberang Kalimas berdiri Kampung Eropa, yang bernama Stad van Soerabaia. Konon, rumah-rumah panggung di jalan Panggung, secara arsitektur, tak ubahnya rumah rumah Melayu yang ada di Malaysia dan Singapura.

Warna adalah bagian dari histori. Rumah-rumah di jalan Panggung memang tak satu pun tertetapkan sebagai bangunan cagar budaya yang layak dilindungi. Tapi kawasan ini akan teramat sayang jika tak dipayungi produk hukum cagar budaya untuk alasan lestari. Beberapa contoh bagaimana warga dan pemerintahnya melindungi warisan budaya, khususnya dalam hal aplikasi cat, adalah negeri Belanda. Di kota Amsterdam, Rotterdam, Utrecht, Delft, Groningen dan lain lain adalah contoh bagaimana mereka memperlakukan gedung gedung tuanya dengan pilihan warna cat yang ramah sejarah. Warnanya tidak mencolok bagai pelangi di musim pancaroba.

Komunitas pegiat sejarah, tat kala melihat penampilan jalan Panggung yang berpendar mencolok mata, berharap ada upaya penyelamatan warna sebagai bagian dari misi revitalisasi. (yos)



Berita Terkait


Histori Warna Memandu Revitalisasi

Menapaki Jejak Kota Lama Surabaya

Revitalisasi Kota Lama: Menghadirkan Kemolekan Chinese Voorstraat di Jalan Karet

Berita Utama Lihat Semua

Berita Terkini Lihat Semua

Berita Terpopuler Lihat Semua

Surabaya Raya Lihat Semua

Rehat Lihat Semua



Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber