Beranda       Nasional       Internasional       Life Style       Olah Raga       Opini       Sorot
Opini 

Pelestarian Kota: Bangunan Tua Tidak Hanya Dirawat, Tapi Perlu Dimanfaatkan Untuk Kesejahteraan Rakyat.
Senin, 19-11-2018 | 15:00 wib
Oleh : Nanang Purwono
Surabaya pojokpitu.com, Undang Undang Cagar Budaya No 11 Tahun 2010 jauh lebih baik dibandingkan dengan UU No 5 Tahun 1992. UU nomor 11 Tahun 2010 ini memiliki semangat, yang tidak hanya melindungi benda dan bangunan cagar budaya, tetapi juga adanya semangat agar memanfaatkan benda dan bangunan cagar budaya itu untuk kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat. Rupanya semangat ini seiring dengan upaya, yang dilakukan pemerintah kota Surabaya terhadap aset kota lamanya. Salah satu sudut kota lama, yang kini menjadi perhatian, adalah jalan Karet, yang kelak akan terkoneksi dengan upaya yang sama di jalan Panggung.

Jalan Karet, jika dipandang secara fisik, masih menyisakan kemegahan pagar rayanya (bangunan-bangunan lamanya) dan detak urat nadi perekonomian serta hembusan nafas perdagangan. Jalan Karet dulu adalah salah satu pusat bisnis dan perdagangan di kota lama Surabaya. Kala itu, di era kolonial hingga pasca kemerdekaan di tahun 1950-an, jalan Karet bernama Chinese Voorstraat. Banyak bangunan megah, yang di dalamnya menggelinding dinamika perniagaan. Yang paling terkenal karena jaringannya yang terhubung ke negeri Belanda dan Eropa adalah Nederlands Handels Maatschappij (NHM) atau Maskapai Perdagangan (Perniagaan) Belanda. Hingga kini, bekas bangunan itu masih berdiri megah meski hanya wajahnya saja.

Konon di sepanjang jalan Karet, yang membujur utara-selatan, menjadi eksotika kota lama Surabaya, yang tanpa dipromosikan, sudah populer dan menjadi jujugan warga kota dan wisatawan. Alasannya, peninggalan masa lalunya yang masih menghiasi jalan Karet dengan apa adanya, bagai lorong waktu yang bisa menguak masa lalu kota Surabaya.

Tempat ini sempat mendapat perhatian staf International Council on Monuments and Sites (ICOMOS) dari United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) di sela sela penelitiannya di kota Probolinggo tahun 2016. Saat melihat kawasan jalan Karet dan jalan Jembatan Merah, mereka berkata bahwa mereka menyayangkan jika peninggakan masa lalu Surabaya ini terbiarkan begitu saja dan akhirnya punah ditelan jaman.

Selain itu, kehadiran warga kota untuk tujuan-tujuan fotografi dan studi, yang bertemakan bangunan bangunan lama, adalah bukti bahwa peninggalan kota lama ini adalah aset. Karenanya, keberadaannya patut dijaga dan dipelihara. Dalam hal ini, pemerintah tentu harus hadir untuk upaya pelestarian dan penyediaan sarana untuk tujuan edukasi, penelitian hingga pariwisata.

Menata Jalan Karet.
Identifikasi masalah jalan Karet bisa menjadi langkah awal dalam menentukan langkah berikutnya dalam proses revitalisasi jalan Karet. Dan, yang tidak kalah pentingnya juga dari revitasisasi ini adalah targetnya.

Apa target dari revitalisasi ini? Jika target dari revitalisasi ini sudah jelas dan permasalahan lapangan sudah teridentivikasi, maka langkah berikutnya adalah mencari solusi atas masalah yang ada. Lantas, apa yang menjadi masalah di jalan Karet, lalu apa solusinya?.

Sebelum  mengidentivikasi masalah, setidaknya kita perlu mengetahui fakta yang menjadi daya tarik dari obyek-obyek di jalan karet. Daya tarik di jalan Karet adalah kekunoan bangunan bangunannya. Meskipun, jumlahnya tidak sebanyak dulu dan kondisinya juga tidak seindah dulu. Kini ada beberapa bangunan yang hilang, terganti dengan bangunan baru. Bahkan ada yang lenyap dari lahannya, alias dibongkar dan tidak dibangun lagi. Juga ada beberapa bangunan yang berubah wajah. Yakni menjadi ruko. Namun, ada sebagian kecil yang masih utuh.

Dari kondisi dan fakta seperti di atas, tentu tujuan revitalisasi tidak membangun kembali bangunan-bangunan yang rusak atau bahkan yang sudah tiada dan yang sudah berbentuk bangunan baru. Lantas, seperti apa revitalisasi di jalan Karet ini mesti dilakukan? Bangunan-bangunan lama dengan kondisi apa adanya perlu mendapat sentuhan bersama agar tidak semakin rusak. Kemudian siapa akan melakukan apa dalam konteks revitalisasi ini?

Pemerintah dan pemilik atau penyewa bangunan adalah stakeholders yang harus bersama-sama aktif menyambut revitalisasi ini agar ke depan Jalan Karet dapat membuka peluang mensejahterakan masyarakat.

Ranah Pemerintah
Ada beberapa pekerjaan, yang langsung bisa dikerjakan oleh pemerintah. Yaitu hal-hal yang berada di tempat umum. Misalnya penataan parkir dan  kendaraan. Perlunya dilakukan penataan parkir dan kendaraan ini karena selama ini kendaraan-kendaraan ekspedisi yang bongkar muat barang menjadi penyebab buruknya lalu lintas di jalan karet. Akibatnya adalah kemacetan dan tertutupnya wajah bangunan bangunan lama, yang menjadi obyek pandangan mata.

Untuk mengatasi masalah ini, maka perlu adanya pelarangan bagi kendaraan besar berparkir dan berbongkar muat di jalan Karet. Lantas apa solusinya? Di balik deretan bangunan, yang berdiri di barat jalan Kare,t terdapat lahan kosong yang lebarnya bisa 3 kali badan truk. Karenanya, lahan kosong tepi kali ini perlu ditata dan dibangun menjadi terminal truk ekspedisi. Sementara bongkar muat dari-dan-ke kantor atau gudang ekspedisi dilakukan dengan mobil shuttle, yang lebih kecil. Yaitu semacam mobil boks.

Pekerjan lainnya adalah membuat pedastrian di sepanjang jalan Karet. Dari pengamatan lapangan, yang selanjutnya dipadukan dengan sumber sejarah yang memotret jalan Karet tahun 1950an, bahwa tepi jalan sisi barat bisa dibuat trotoar yang lebarnya hingga 3 meter. Sisi terluar pedastrian ini berada di atas box culvert yang sudah ada. Sementara sisi timur jalan bisa dibuat pedastrian  dengan lebar 2 meter. Alasannya adalah  menyesuaian keberadaan box culvert. Dengan ukuran 3 meter untuk lebar pedastrian barat dan 2 meter untuk pedastrian timur, maka ukuran ini menyisakan badan jalan selebar 5 meter. Karenanya, di atas jalan ini tidak boleh ada truk besar yang parkir.

Dengan tersedianya pedastrian, pekerjaan berikutnya adalah pemasangan lampu Penerangan Jalan Umum (PJU) dengan design yang khas pecinan. Design ini bisa diadopsi dari gaya arsitektur, yang ditemukan di kawasan pecinan ini. Tak ketinggalan kursi-kursi besi sebagai pelengkap untuk menikmati keindahan jalan Karet dari atas trotoar. Agar informatif, perlu juga dipasang papan-papan informasi, yang memberikan riwayat singkat spot spot penting di jalan Karet, yang dulunya bernama Chinese Voorstraat.

Mengingat jalan Karet ini sarat dengan beban kendaraan, ditambah dengan muatan sehingga tonase kendaraan yang melintas cukup besar. Karenanya, kwalitas jalan harus kuat. Maka pembangunan jalan dengan konstruksi beton akan menjaga kelangsungan dan keawetan jalan Karet. Kemudian, di atasnya dipasang batu alam kotak kotak yang tersusun rapi. Kondisi jalan dan design jalan seperti ini juga akan memberikan kekhasan jalan Karet dari jalan jalan lainnya.

Ranah Warga atau Pemilik Bangunan
Tidak semua bangunan yang ada dii jalan Karet ini ditempati pemiliknya. Umumnya disewakan. Bahkan ada yang mangkrak dan kosong alias tidak ditempati. Untuk bangunan yang masih ditempati, si pengguna perlu mendapat imbauan tentang apa yang harus dilakukan dalam gerakan revitalisasi ini. Sedangkan, untuk bangunan yang dibiarkan mangkrak, kiranya pihak pemerintah yang harus bertindak sesuai kebutuhan.

Aktivitas umum di jalan Karet ini adalah ekspedisi, sisanya berupa perkantoran dan bahkan ada dua blok ruko. Diantara itu ada satu usaha kuliner yang menempati rumah kuno berarsitektur Cina, yang designnya mirip dengan dua rumah abu milik keluarga Han dan The. Usaha kuliner khas tionghwa ini perlu mendapat penyuluhan untuk menunjang kawasan sejarah kota lama ini.

Dengan penataan fisik ini, setidaknya memberi perubahan nyata akan perwajahan jalan Karet. Dengan sarana yang ada ini (trotoar, PJU, kursi dan papan informasi), pengunjung bisa dengan nyaman menikmati kekunoan jalan Karet sepanjang hari. Ketika siang sampai sore tidak hanya obyek bangunn kuno yang menjadi perhatian, tapi juga aktivitas bisnis dan ekonomi bisa menjadi obyek pengamatan.

Untuk menunjang kenyamanan di saat menikmati jalan Karet, unsur kuliner yang sehat dan higienis perlu tersedia. Meski, jajanan bakso terkadang mewarnai jalan Karet. Karenanya perlu dibuka tempat sebagai restorasi untuk memanjakan lidah penikmat kota lama Surabaya. Sambil berjalannya waktu, aktivitas sosial budaya perlu diciptakan untuk menambah semarak dan hidupnya jalan Karet. (yos)

Berita Terkait


Pelestarian Kota: Bangunan Tua Tidak Hanya Dirawat, Tapi Perlu Dimanfaatkan Untuk Kesejahteraan Rakyat.

Berita Utama Lihat Semua

Berita Terkini Lihat Semua

Berita Terpopuler Lihat Semua

Surabaya Raya Lihat Semua

Rehat Lihat Semua



Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber