Beranda       Nasional       Internasional       Life Style       Olah Raga       Opini       Sorot
Opini 

Ironi Di Pesan Pembukaan Museum Wr Soepratman
Minggu, 11-11-2018 | 16:18 wib
Oleh : Nanang Purwono
pojokpitu.com, Kepada anak-anak dan generasi muda, Walikota Tri Rismaharini berpesan agar tidak menyakiti orang lain, termasuk membully teman sekolah. Pesan ini disampaikan dalam sambutan peresmian museum WR. Soepratman (10/11). Sementara, bagi keluarga dan kerabat WR. Soepratman di Surabaya, tidak disebutnya tempat-dan-tanggal lahir WR Soepratman di museum adalah sikap yang menyakiti hati mereka. Jadi, pesan walikota Surabaya sedikit bertentangan dengan fakta lapangan akibat tidak adanya keterangan tempat-dan-tanggal lahir WR Soepratman di museum.

Tanggal 10 November 2018 sengaja dipilih menjadi hari peresmian museum WR Soepratman. Hari in bertepatan dengan Hari Pahlawan, yang diperingati oleh segenap bangsa Indonesia. Bertepatan dengan Hari Pahlawan dimaksudkan agar semangat kepahlawanan yang terkandung di dalam museum bisa menginspirasi pengunjung museum. Kehadiran museum ini melengkapi wisata ziarah ke makam WR Soepratman di jalan Kenjeran, yang jaraknya sekitar 2 kilometeran.

Kehadiran museum sangat baik karena menambah wahana belajar sejarah bagi warga kota Surabaya. Warga kota Surabaya sungguh layak memiliki museum WR Soepratman karena status kotanya yang berjuluk kota pahlawan dan WR Soepratman bukan sekedar pahlawan biasa. Ia pahlawan besar, yang menginspirasi generasi muda di jamannya (1928) melalui lagu ciptaannya, yang akhirnya ditetapkan sebagai lagu Kebangsaan Indonesia Raya.

Koleksi di dalam museum ini sudah lumayan. Ada replika biola, ada manekin lengkap dengan jas seperti yang dikenakan WR Soepratman. Termasuk ada foto foto perjalanan hidup WR Soepratman mulai dari tahun awal kehidupannya (1903) hingga kematiannya (1938). Rumah wafatnya sendiri di jalan Mangga 21 Surabaya menjadi benda display, yang sekaligus untuk mendisplay benda-benda dan literasi yang menggambarkan WR Soepratman.

Sayang, museum ini tidak mencantumkan informasi tempat-dan-tanggal kelahiran WR Soepratman. Menurut Kepala Dinas Pariwisata kota Surabaya, Antiek Sugiarti, tempat-dan-tanggal kelahiran WR Soepratman masih kontroversial. Ada dua versi mengenai tempat-dan-tanggal kelahiran WR Soepratman.

Versi pertama datang dari Surabaya, suatu tempat dimana WR Soepratman wafat dan di kebumikan pada 17 Agustus 1938. Di batu nisan dan prasasti di komplek makamnya sudah lama tertulis bahwa WR Soepratman lahir di Jatinegara pada 9 Maret 1903. Selanjutnya data kelahiran ini dikuatkan secara hukum di Pengadilan Negeri Surabaya, yang hasilnya keluarlah penetapan PN Surabaya yang isinya menetapkan bahwa WR Soepratman lahir di Jatinegara pada 9 Maret 1903. Ketetapan PN Surabaya ini selanjutnya menjadi seperti akte kelahiran.

Menurut ayat (2) pasal 32 UU no 32 tahun 2006 tentang administrasi kependudukan bahwa: Pencatatan kelahiran, yang melampaui batas waktu 1 (satu) tahun, kelahiran yang lahir di Indonesia, dilaksanakan berdasarkan penetapan pengadilan negeri. Ketetapan Pengadilan Negeri Surabaya tahun 1958 tentang kelahiran WR Soepratman berbunyi bahwa WR Soepratman lahir di Jatinegara pada 9 Maret 1903.

Sementara itu versi lainnya muncul dari Purworejo. Pihak pihak di Purworejo mengklaim bahwa WR Soepratman lahir di dusun Sumongari, Purworejo pada 19 Maret 1903. Hal yang sama juga dilakukan oleh pihak Purworejo, yaitu mendaftarkan ke Pengadilan Negeri Purworejo dan hasilnya PN Purworejo menyetujui dan menetapkan (1977) bahwa WR Soepratman lahir di Sumongari, Purworejo pada 19 Maret 1903. Sejak tahun 1977 inilah, dualisme kelahiran WR Soepratman mencuat.

Selama itu pula (1977) keluarga dan kerabat dekat WR Soepratman melakukan perlawanan terhadap berita adanya tempat kelahiran WR Soepratman di lain tempat. Yaitu di Purworejo Jawa Tengah. Berita dualisme data kelahiran ini meledak saat pemerintah kota Surabaya akan menjadikan Rumah Wafat menjadi museum. Namanya museum, sudah barang tentu yang menjadi focal point adalah sosok WR Soepratman baik melalui data foto maupun literasi. Di museum ini, pada persiapan peresmian sempat terpasang informasi bahwa WR Soepratman lahir di Purwokerto pada 19 Maret 1903.  Protespun semakin kencang dan keras kepada pemerintah kota agar meluruskan fakta sejarah yang ada.

Bagi Surabaya, dasar fakta yang dipakai adalah sumber sumber sejarah mualai dari sumber tertulis, sumber lisan dan sumber benda. Sumber tertulis adalah literatur-literatur yang memuat data sejarah lahirnya WR Soepratman. Sumber lisan adalah keluarga dan kerabat dekat WR Soepratman. Sedangkan sumber bendanya adalah makam WR Soepratman. Semual sumber ini mengatakan bahwa tempat-dan-tanggal lahir WR Soepratman adalah di Jatinegara pada 9 Maret 1903.

Tidak salah dan tidak heran bila Istana Negara menggunakan data sejarah itu sebagai landasan beberapa Keputusan Presiden. Keputusan presiden tentang Penganugerahan Pahlawan Nasional sebagaimana tertuang dalam Kepres no 016/TK/1971 tanggal 20 Mei 1971 dan Keputusan Presiden no 10 tahun 2013 tentang Hari Musik Nasional yang jatuh pada 9 Maret.

Di hadapan para undangan, yang juga dihadiri oleh cucu WR Soepratman baik yang dari Jakarta maupun dari Surabaya, walikota Tri Rismaharini berpesan, khususnya kepada generasi muda dan pelajar sekolah, agar bisa meneladani sosok WR. Pahlawan. "Pahlawan itu tidak menyakiti orang lain", begitu petikan sambutan Tri Rismaharini, yang secara khusus ditujukan kepada pelajar. "Oleh karena itu jangan membully kawan kawan di sekolah karena itu menyakiti orang lain", begitu tambahan pesan Risma kepada pelajar dan generasi muda yang hadir di pembukaan museum.

Sebagaimana pesan yang terkandung dalam lagu kebangsaan Indonesia Raya, khususnya yang tersurat dalam lirik "Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, untuk Indinesia Raya". Berdasarkan pesan lirik itu, Risma kembali menegaskan agar antar sesama jangan pernah menyakiti baik secara lahir maupun batin.

Namun, apa yang dirasakan oleh cucu dan kerabat WR Soepratman di Surabaya, tidak adanya informasi tentang tempat-dan-tanggal kelahiran WR Soepratman di museum membuat mereka sakit. Mereka kawatir sejarah kelahiran WR Soepratman akan terhapuskan karena alasan kontroversial, yang kemudian berujung dengan tidak dicantumkannya informasi tempat-dan-tanggal lahir WR Soepratman. Belum lagi kebingungan yang muncul setelah berziarah ke makam WR Soepratman, kemudian berkunjung di museum, dimana mereka tidak menemukan data kelahiran WR Soepratman. Lantas siapa yang bertanggung jawab?

Museum adalah wahana untuk menyajikan data baik berupa benda maupun literasi. Museum adalah rekam jejak peristiwa baik yang menyangkut tempat dan tokoh. Karenanya, museum WR Soepratman juga harus bisa menghadirkan fakta, khususnya fakta kelahiran WR Soepratman. Meski fakta ini mengetengahkan dua versi yang berbeda.

Penyajian literasi di museum itu penting, karenanya tidak boleh salah. Menghilangkan atau tidak mencantumkan data lahir (padahal rujukan data lahir itu ada) itu sama dengan mengaburkan sejarah. Buruknya, tidak dicantumkannya data kelahiran itu bisa dianggap menghilangkan sejarah.

Siapapun di balik museum ini hendaknya bersikap arif dan bijaksana dalam menyajikan museum kepada publik di tengah adanya kontroversi ini. Museum harus memberikan edukasi kepada pengunjung. Pengunjung, dengan nalarnya, akan bisa berfikir secara dewasa dengan adanya fakta kontroversi mengenai kelahiran WR Soepratman. Asalkan mereka mendapat penjelasan di museum.
Karenanya, tindakan yang bijak, yang tidak menyakiti hati orang lain, sebagaimana disampaikan walikota Tri Rismaharini pada pembukaan museum, adalah dengan cara mencantumkan tanggal dan tempat lahir versi Surabaya, yaitu lahir di Jatinegara pada 9 Maret 1903. Kemudian ditambahkan versi Purworejo yang menyatakan bahwa WR Soepratman lahir di Purworejo pada  19 Maret 1903. Dengan demikian ada sinkronisasi data sejarah antara yang ada di makam WR Soepratman dan yang ada di museum. Meski disana tersaji versi lain.

Apapun data yang ada adalah fakta dan museum adalah wadah fakta .

Berita Terkait


Ironi Di Pesan Pembukaan Museum Wr Soepratman

Museum WR Soepratman Diresmikan Tanpa Data Tempat Dan Tanggal Lahir

Besok Diresmikan, Museum WR. Soepratman Masih Berantakan

Ubaya Buka Museum Sejarah Kerajaan Mojopahit


Museum Musik Indonesia Promosikan Alat Musik Sampeh Ke Seluruh Pulau Jawa

Museum Barang Bekas Kulit Limbah Botol Plastik Diubah Menjadi Kerajinan Bernilai Tinggi

Ubaya Buka Museum Sejarah Kerajaan Mojopahit

Museum Angkut Diledakan Teroris
Berita Utama Lihat Semua

Berita Terkini Lihat Semua

Berita Terpopuler Lihat Semua

Surabaya Raya Lihat Semua

Rehat Lihat Semua



Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber