Beranda       Nasional       Internasional       Life Style       Olah Raga       Opini       Sorot
Sosok 

Toni Wijaya, Pioner Pembudidaya Koi Kelas Internasional Asal Blitar
Jum'at, 02-11-2018 | 14:15 wib
Oleh : Moch.Asrofi
Blitar pojokpitu.com, Ikan yang bersulam emas atau perak disebut oleh masyarakat luas dengan ikan koi ini merupakan ikan hias kelas internasional yang paling digemari. Bagi pecinta ikan koi, jenis ikan yang indah dan menarik ini biasanya ikut dalam lomba baik tingkat nasional maupun internasional.

Salah satunya Toni Wijaya, pemilik Proklamator Koi Blitar dari dusun Bulu, Modangan, Nglegok, Blitar yang sering mengikuti kontes tingkat nasional maupun internasional. Dirinya bahkan peternak koi terbaik dari Blitar yang mampu go internasional dan sudah tergabung dalam anggota Asosiasi Pecinta Koi Indonesia (APKI).

Awalnya, Toni hanyalah karyawan perusahaan di Surabaya, di tahun 2008 ia penasaran dan mencoba menganalisis potensi pembudidayaan ikan koi di daerahnya, yakni Kecamatan Nglegok yang memiliki keuntungan besar. Dari situlah, ia kerap bertanya ke pembudidaya-pembudidaya ikan koi untuk bagaimana caranya agar go internasional.

Dengan semangatnya yang tinggi dan ingin terus berinovasi, kini berbagai juara tingat kabupaten, nasional bahkan internasional pernah di raihnya. Salah satunya, kontes koi juara 1 piala Bupati dan juara satu 1 juga piala Presiden. Saat ini di rumahnya setidaknya memiliki ribuan ikan koi jenis Gosanke Kohaku dan Sanke Showa yang terjual hingga ke daerah lain, luar pulau sampai ke manca negara.

Jika dibandingkan dengan kota lain, koi di Blitar khususnya milik Toni memang memiliki keunggulan tersendiri yakni dari warnanya yang cerah, body yang mirip dengan koi impor dan cepat besar. Keunggulan inilah bisa di perhatikan dari cara pembudidayaannya yang super selektif.

Toni Wijaya menjelaskan, awalnya mencari indukan yang berumur 2,5 tahun dengan size sekitar 60-65 cm yang siap untuk di pindahkan dengan pejantan size sekitar 45-50 cm minimal 2 tahun. Setelah di pindahkan kira-kira butuh 3 hari anakan koi menetas, yang 30 persen tidak bisa menetas karena keadaan alam, cuaca dan kondisi indukan. Untuk 70 persen yang bisa masuk kolam sawah hanya 60 persen, yang lainnya karena mati terlalu padat di tempat perpindahan, faktor alam dan sebagainya.

"Dari kolam sawah bisa di sortir umur 40 hari dengan size 7-10 cm, itu sortiran pertama. Kira-kira bisa di buang hampir 60 persen dan yang layak di pelihara hanya 40 persen. Setelah 2 bulan berikutnya, saat size 17-20 cm disortir lagi separo, 20 persen yang dipelihara, yang lainnya di jual grade c. Untuk mencapai 30 cm butuh waktu 2 bulan, sehingga dari 20 persen bisa di ambil hanya 5 persen yang bisa dibesarkan 30-50 cm," ungkapnya.

Diketahui di Proklamator Koi Blitar yang digagas oleh Toni Wijaya ini memiliki grade C hingga grade A. Untuk grade pasar disebut Grade C yang memiliki harga miring dengan penjualan sekitar 500 ekor. Berbeda lagi dengan Grade B memiliki harga jual kelas menengah dan untuk Grade A memiliki kelas istimewa sekitar 50 ekor serta yang paling fantastis 2 atau 3 ekor yang menjadi Show Quality, bagian inilah yang pantas untuk kontes. Semua hal itu tergantung kualitas dan motif dan inilah mengapa ikan koi memiliki harga jual yang sangat tinggi hingga milyaran rupiah.

"Harapan saya, para petani pembudidaya ikan koi khususnya di Blitar dan pada umumnya di Indonesia jangan bosan untuk berinovasi menemukan bladder-bladder atau darah keturunannya kualitas yang bersaing dengan koi impor. sehingga bisa mengeluarkan produk berkualitas  dengan level internasional, bisa di akui bahwa pembudidayaan koi di Indonesia mampu bersaing dengan koi-koi impor," tutur Toni, Jumat (2/11/2018). (end)


Berita Terkait


Toni Wijaya, Pioner Pembudidaya Koi Kelas Internasional Asal Blitar

Berita Utama Lihat Semua

Berita Terkini Lihat Semua

Berita Terpopuler Lihat Semua

Surabaya Raya Lihat Semua

Rehat Lihat Semua



Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber