Berita Terbaru :
Penyebaran Covid-19 di Desa Wage Diredam Dengan Tracing Lingkungan
Air Bengawan Solo Berwarna Merah Kehitaman, Diduga Tercemar Dari Hulu
Pemancing Tersangkut Karang, Lalu Digulung Ombak
Ini Patut Menjadi Perhatian, Biker Tewas Dilindas Truk
Di Tengah Pandemi Covid 19, Ekspor Hasil Perikanan Ditarget Meningkat
Selama Pandemi Corona Sudah 5 Nakes Sidoarjo Meninggal Dunia
Pemkab Bondowoso Akan Bangun Rumah Janda Tua Makan Daun Talas
Gandeng Kampus, KPU Kota Blitar Bentuk Sekolah Demokrasi
Bayi Perempuan Ditemukan Tewas di Tepi Pantai Tuban
DKPP Pecat Angota KPU Surabaya Kholid Asyadulloh
Bupati Lumajang Kembali Cekcok Dengan Pengawas PT Luis
Dasar Bejat ! Kakek 68 Tahun di Blitar Cabuli Balita 4 Tahun
8 Pelaku Pemerkosa Janda Muda di Kokop Bangkalan Akhirnya Dibekuk
Interpelasi Dinilai Sangat Prematur dan Bukan Kewenangan Komisi C
Sekolah Mulai Sosialisasikan Pembelajaran Daring Untuk Siswa Baru
   

Hari Musik Nasional Kuatkan 9 Maret Sebagai Tanggal Lahir WR Soepratman
Opini  Rabu, 31-10-2018 | 00:06 wib
Reporter : Nanang Purwono
Surabaya pojokpitu.com, Akhir-akhir ini dalam suasana peringatan Hari Sumpah Pemuda 2018, mencuat polemik perbedaan tanggal dan tempat lahir komponis besar W.R. Soepratman. Sebenarnya isu merupakan isu lama yang muncul sejak tahun 1977. Yakni ketika ada pengakuan dari pemerintah kabupaten Purworejo, Jawa Tengah yang menyatakan bahwa W.R. Soepratman lahir di desa Sumongari, kabupaten Purworejo pada 19 Maret 1903. Bukan di Jatinegara pada 9 Maret 1903 sebagaimana ditetapkan oleh PN Surabaya (1958) atau sesuai data pada nisan W.R Soepratman di pemakaman umum Kapas, Surabaya (1938).

Keluarga ahli waris W.R. Soepratman di Surabaya, Soerachman Kasansengari, yang mendengar pengakuan berbeda ini, merasa gusar. Soerachman Kasansengari adalah putera Oerip Kasansengari, yang adiknya (Bero Santoso Kasansengari) menikah dengan adik W.R. Soepratman (Gijem Soepratinah). Selama ini keluarga Kasansengari malakukan pelurusan sejarah kelahiran W.R. Soepratman seorang sendiri. Meski begitu, ia tidak pernah berhenti melakukan perlawanan untuk menepis pengakuan baru oleh pemerintah kabupaten Purworejo. Sampai akhirnya dalam suasana peringatan Sumpah Pemuda tahun 2018 ini, dukungan terhadapnya bermunculan.

Dalam sebuah sarasehan Pelurusan Sejarah W.R. Soepratman (29/10) di pusat perbelanjaan Kaza Surabaya, dukungan itu datang dari berbagai elemen. Mulai dari pemerhati sejarah, pelajar dan mahasiswa, seniman, akademisi hingga politisi. Sikap ini terlihat dari isian angket yang dikumpulkan seusai sarasehan. Semua angket menunjukkan bahwa semua peserta percaya bahwa W.R. Soepratman lahir di Jatinegara pada 9 Maret 1903. Bukan di desa Sumongari, Purworejo, Jawa Tengah pada 19 Maret 1903 sebagaimana diakui oleh pemerintah kabupaten Purworejo.

Keyakinan lintas profesi mengenai kelahiran W.R. Soepratman di Jatinegara pada 9 Maret 1903 sangat beralasan dan masuk akal. Karena pemerintah Republik Indonesia pun mengakui tanggal 9 Maret 1903 adalah hari kelahiran W.R. Soepratman, yang otomatis terkait dengan Jatinegara sebagai tempat kelahirannya. Pemerintah Republik Indonesia dalam rangka menetapkan Hari Musik Nasional mengacu pada tanggal 9 Maret 1903 yang diyakini sebagai data kelahiran W.R. Soepratman. Penetapan ini dalam upaya memberikan jasa kepada W.R. Soepratman atas jasa dan karyanya dalam penciptaan lagu kebangsan Indonesia Raya.

Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, melalui keputusannya nomer 10 tahun 2013 menetapkan bahwa tanggal 9 Maret adalah Hari Musik Nasional. Sebenarnya rencana untuk menjadikan tanggal 9 Maret sebagai Hari Musik Nasional ini sudah disusun sejak tahun 2003, di era pemerintahan Presiden Megawati Soekarno Putri atas usul dari Persatuan Artis Pencipta Lagu dan Penata Musik Rekaman Indonesia (PAPPRI).

Namun, dalam prosesnya membutuhkan waktu yang lama, hampir satu dekade. Hal ini memang tidak lepas adanya dualisme data kelahiran W.R. Soepratman yang selama ini ada. Setelah melalui kajian-kajian yang cerman dan tidak gegabah, akhirnya diyakini dan disepakati bahwa tanggal 9 Maret 1903 dipakai sebagai penanda Hari Musik Nasional. Dengan demikian sesungguhnya tanggal 9 Maret 1903, yang merupakan tanggal lahir W.R. Soepratman, menjadi semakin kuat keberadaannya secara hukum dan lebih menguatkan ketetapan Pengadilan Negeri Surabaya pada tahun 1958.

Dengan penetapan 9 Maret sebagai Hari Musik Nasional, tentu memiliki latar belakang makna dan tujuan. Makna dan tujuan dari penetapan ini adalah untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap musik nasional, meningkatkan kepercayaan diri dan motivasi pegiat musik Indonesia, serta meningkatkan prestasi pada tingkat nasional, regional, dan internasional, termasuk memperkuat eksistensi data tempat dan tanggal lahir W.R. Soepratman.

Maka jelaslah sudah mana data kelahiran W.R. Soepratman yang benar dan yang hoax. Maka, pemerintah kota Surabaya seharusnya bisa memilih salah satu data yang pantas disematkan di museum W.R. Soepratman di jalan Mangga 21 Surabaya. (yos)

Berita Terkait

Track Wisata Sejarah Musik di Surabaya Siap Direncanakan

Sejumlah Komunitas Pemerhati Sejarah Peringati Hari Musik di Pusara WR Soepratman

Ratusan Siswa di Surabaya, Peringati Hari Musik Nasional

Hari Musik Nasional Kuatkan 9 Maret Sebagai Tanggal Lahir WR Soepratman
Berita Terpopuler
Pemkab Bondowoso Akan Bangun Rumah Janda Tua Makan Daun Talas
Rehat  2 jam

Selama Pandemi Corona Sudah 5 Nakes Sidoarjo Meninggal Dunia
Kesehatan  2 jam

Ini Patut Menjadi Perhatian, Biker Tewas Dilindas Truk
Peristiwa  2 jam

RDP Soal Program BPNT Memanas
Peristiwa  10 jam



Cuplikan Berita
Viral Hasil Tes Rapid Peserta UTBK Berubah
Pojok Pitu

Dokter dan Satpam Postif Covid 19, Puskesmas Wates Mojokerto Ditutup Sementara
Pojok Pitu

Delapan Terkena Corona, Membuat Ribuan Karyawan PT KTI Diliburkan
Jatim Awan

Ternyata Satu Tersangka Pengambilan Paksa Jenazah Positif Covid 19
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber