Berita Terbaru :
Empat Pasien Reaktif Dijemput Jalani Isolasi
Hasil Rapidtest 815 Karyawan Pabrik Rokok Madiun Non Reaktif
Bupati Kunjungi 8 Orang Yang Dikarantina Karena Mudik
Ratusan Pedagang di 3 Pasar Bojonegoro Ikut Rapid Test
Tambang Batu Kapur Runtuh, Alat Tambang Rusak Tertimbun
Optimalkan Laboratorium, Surabaya Tak Perlu Mobil Tes PCR
Kasus Covid 19 di Jatim Capai 4.409 Orang
PMI Kirim Bantuan Ventilator ke RS Muhammadiyah Lumajang
Manfaatkan Mobile PCR, Ratusan Petugas Medis dan Masyarakat Tulungagung Diuji Swab
Doni Monardo : Mobil PCR Untuk Provinsi Jatim, Namun Khusus Untuk Kota Surabaya
Memang, Test PCR Lebih Akurat Dibandingkan Rapid Test
Pemprov Bantah Bantuan Mobil PCR Dari BNPB Khusus Kota Surabaya
Penyakit GERD Sering Muncul Setelah Lebaran, Apa Penyebabnya?
Penjual Ketupat Matang Tetap Bertahan di Tengah Pandemi Covid-19
Golkar Ingatkan Walikota Surabaya Jangan Cari Sensasi di Tengah Pandemi Covid-19
   

Hari Musik Nasional Kuatkan 9 Maret Sebagai Tanggal Lahir WR Soepratman
Opini  Rabu, 31-10-2018 | 00:06 wib
Reporter : Nanang Purwono
Surabaya pojokpitu.com, Akhir-akhir ini dalam suasana peringatan Hari Sumpah Pemuda 2018, mencuat polemik perbedaan tanggal dan tempat lahir komponis besar W.R. Soepratman. Sebenarnya isu merupakan isu lama yang muncul sejak tahun 1977. Yakni ketika ada pengakuan dari pemerintah kabupaten Purworejo, Jawa Tengah yang menyatakan bahwa W.R. Soepratman lahir di desa Sumongari, kabupaten Purworejo pada 19 Maret 1903. Bukan di Jatinegara pada 9 Maret 1903 sebagaimana ditetapkan oleh PN Surabaya (1958) atau sesuai data pada nisan W.R Soepratman di pemakaman umum Kapas, Surabaya (1938).

Keluarga ahli waris W.R. Soepratman di Surabaya, Soerachman Kasansengari, yang mendengar pengakuan berbeda ini, merasa gusar. Soerachman Kasansengari adalah putera Oerip Kasansengari, yang adiknya (Bero Santoso Kasansengari) menikah dengan adik W.R. Soepratman (Gijem Soepratinah). Selama ini keluarga Kasansengari malakukan pelurusan sejarah kelahiran W.R. Soepratman seorang sendiri. Meski begitu, ia tidak pernah berhenti melakukan perlawanan untuk menepis pengakuan baru oleh pemerintah kabupaten Purworejo. Sampai akhirnya dalam suasana peringatan Sumpah Pemuda tahun 2018 ini, dukungan terhadapnya bermunculan.

Dalam sebuah sarasehan Pelurusan Sejarah W.R. Soepratman (29/10) di pusat perbelanjaan Kaza Surabaya, dukungan itu datang dari berbagai elemen. Mulai dari pemerhati sejarah, pelajar dan mahasiswa, seniman, akademisi hingga politisi. Sikap ini terlihat dari isian angket yang dikumpulkan seusai sarasehan. Semua angket menunjukkan bahwa semua peserta percaya bahwa W.R. Soepratman lahir di Jatinegara pada 9 Maret 1903. Bukan di desa Sumongari, Purworejo, Jawa Tengah pada 19 Maret 1903 sebagaimana diakui oleh pemerintah kabupaten Purworejo.

Keyakinan lintas profesi mengenai kelahiran W.R. Soepratman di Jatinegara pada 9 Maret 1903 sangat beralasan dan masuk akal. Karena pemerintah Republik Indonesia pun mengakui tanggal 9 Maret 1903 adalah hari kelahiran W.R. Soepratman, yang otomatis terkait dengan Jatinegara sebagai tempat kelahirannya. Pemerintah Republik Indonesia dalam rangka menetapkan Hari Musik Nasional mengacu pada tanggal 9 Maret 1903 yang diyakini sebagai data kelahiran W.R. Soepratman. Penetapan ini dalam upaya memberikan jasa kepada W.R. Soepratman atas jasa dan karyanya dalam penciptaan lagu kebangsan Indonesia Raya.

Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, melalui keputusannya nomer 10 tahun 2013 menetapkan bahwa tanggal 9 Maret adalah Hari Musik Nasional. Sebenarnya rencana untuk menjadikan tanggal 9 Maret sebagai Hari Musik Nasional ini sudah disusun sejak tahun 2003, di era pemerintahan Presiden Megawati Soekarno Putri atas usul dari Persatuan Artis Pencipta Lagu dan Penata Musik Rekaman Indonesia (PAPPRI).

Namun, dalam prosesnya membutuhkan waktu yang lama, hampir satu dekade. Hal ini memang tidak lepas adanya dualisme data kelahiran W.R. Soepratman yang selama ini ada. Setelah melalui kajian-kajian yang cerman dan tidak gegabah, akhirnya diyakini dan disepakati bahwa tanggal 9 Maret 1903 dipakai sebagai penanda Hari Musik Nasional. Dengan demikian sesungguhnya tanggal 9 Maret 1903, yang merupakan tanggal lahir W.R. Soepratman, menjadi semakin kuat keberadaannya secara hukum dan lebih menguatkan ketetapan Pengadilan Negeri Surabaya pada tahun 1958.

Dengan penetapan 9 Maret sebagai Hari Musik Nasional, tentu memiliki latar belakang makna dan tujuan. Makna dan tujuan dari penetapan ini adalah untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap musik nasional, meningkatkan kepercayaan diri dan motivasi pegiat musik Indonesia, serta meningkatkan prestasi pada tingkat nasional, regional, dan internasional, termasuk memperkuat eksistensi data tempat dan tanggal lahir W.R. Soepratman.

Maka jelaslah sudah mana data kelahiran W.R. Soepratman yang benar dan yang hoax. Maka, pemerintah kota Surabaya seharusnya bisa memilih salah satu data yang pantas disematkan di museum W.R. Soepratman di jalan Mangga 21 Surabaya. (yos)

Berita Terkait

Track Wisata Sejarah Musik di Surabaya Siap Direncanakan

Sejumlah Komunitas Pemerhati Sejarah Peringati Hari Musik di Pusara WR Soepratman

Ratusan Siswa di Surabaya, Peringati Hari Musik Nasional

Hari Musik Nasional Kuatkan 9 Maret Sebagai Tanggal Lahir WR Soepratman
Berita Terpopuler
Golkar Ingatkan Walikota Surabaya Jangan Cari Sensasi di Tengah Pandemi Covid-19...selanjutnya
Metropolis  6 jam

19 Kampung Tangguh Covid-19 Diresmikan Bertahap di Tulungagung
Peristiwa  15 jam

Keberadaan Kandang Dinilai Ganggu Wisata Monumen Kresek
Peristiwa  13 jam

Doni Monardo : Mobil PCR Untuk Provinsi Jatim, Namun Khusus Untuk Kota Surabaya
Politik  4 jam



Cuplikan Berita
Gelombang Tinggi Terjang Pantai Selatan Lumajang
Pojok Pitu

Puluhan Rumah Warga Pantai Sine Terendam Banjir Rob
Pojok Pitu

Banjir Terjang 5 Kecamatan di Tengah Pandemi Covid-19
Jatim Awan

Dua Truk Pasir Terseret Lahar Dingin Semeru
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber