Beranda       Nasional       Internasional       Life Style       Olah Raga       Opini       Sorot
Opini 

Dulu, WR Soepratman Mempersatukan Yang Tercerai Berai. Kini, Riwayatnya Dicerai Berai.
Sabtu, 27-10-2018 | 15:27 wib
Oleh : Nanang Purwono
Surabaya pojokpitu.com, Andai Wage Rudolf Soepratman, pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya, masih hidup, usianya gepan 105 tahun dan beliau tentu akan mengutuk pihak pihak yang mencerai beraikan riwayatnya. Ia pun akan murka terhadap pembohong sejarah, yang telah memunculkan data tempat dan tanggal lahirnya, yang tidak sesuai dengan data kelahiran yang sudah ada sebelumnya.

Riwayat W.R. Soepratman, sebagai mana tertulis dalam buku "Lagu Indonesia Raya dan W.R. Soepratman Penciptanya", karya Oerip Kasansengsari (1967) tersaji secara terperinci mulai dari riwayat kelahiran hingga kematian, termasuk peran beliau dalam menginspirasi seluruh putera bangsa dalam Kongres Pemuda ke-2 di Batavia pada tahun 1928 untuk kemudian memerdekakan negerinya dari belenggu penjajahan.

Lagu Indonesia Raya adalah lagu ciptaannya, yang untuk kali pertama dikumandangan dalam Kongres Pemuda ke-2. Lirik lirik lagu Indonesia Raya ini mengandung semangat untuk memerdekakan Inddonesia. Pesan ini tertulis pada bagian refrain, yang berbunyi "Indoneis Indoneis Merdeka Merdeka, Hiduplah Indonesia Raya:

Sontak, kur lagu Indonesia Raya, yang diiringi dengan alunan nada biola WR Soepratman, seolah menghipnotis seluruh peserta Kongres yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Ada Jong Java, Ambon, Celebes, Sumatra, Batak, Sunda, Bali dan masih ada lagi lainnya. Dari alunan nada dan pesan lirik lagu Indonesia Raya ini membuat para peserta kongres sepakat secara aklamasi menjadikan lagu Indonesia Raya sebagai lagu kebangsaan.

Kesepakatan penetapan lagu Indonesia Raya sebagai lagu kebangsaan ini berjalan seiring dengan ikrar sumpah suci pemuda, yang bertanah air satu, tanah air Indonesia; berbangsa satu bangsa Indonesia dan berbahasa satu, bahasa Indonesia. Itulah isi Sumpah Pemuda, yang tercetus pada 28 Oktober 1928.

W.R. Soepratman, melalui lagu ciptaannya Indonesia Raya, benar-benar terkait dengan sejarah Sumpah Pemuda, yang lahir pada 28 Oktober 1928. W.R. Soepratman beserta lagu ciptaannya Indonesia Raya adalah simbol persatuan bangsa, yang sekarang telah terbingkai dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Kini, di pasca meninggalnya W.R. Soepratman (setelah 1938) dan pasca kemerdekaan (setelah 1945), justru riwayat W.R. Soepratman seolah dibuat pertentangan. Tempat dan tanggal lahir W.R. Soepratman menjadi perdebatan. Menurut keluarga ahli waris W.R. Soepratman, Soerachman Kasansengari dengan sumber hukum berupa penetapan Pengadilan Negeri Surabaya yang terdaftar dengan No: 1560/1958 S.P. berbunyi bahwa W.R. Soepratman  lahir di Jatinegara, Jakarta, pada 9 Maret 1903.

Sementara itu, ada pihak lain, yaitu pemerintah kabupaten Purworejo, Jawa Tengah yang mengklaim (1977) bahwa W.R. Soepratman di lahirkan di desa Somongiri, kec Bagelan, kab Purworejo,  Jawa Tengah pada tanggal 19 Maret 1903. Sejak itulah dualisma data kelahiran W.R. Soepratman ini mencuat. Untungnya, kontroversi ini tidak banyak diketahui oleh publik.

Namun, sejak pemerintah kota Surabaya sibuk mempersiapkan rumah tempat wafatnya W.R. Soepratman untuk dijadikan museum, di sanalah di dalam museum, yang bertempat di jalan Mangga 21 Surabaya tersaji informasi mengenai tempat dan tanggal kelahiran W.R Soepratman, yang tidak sama dengan informasi yang telah terpahat di makam WR Soepratman. Padahal, Jarak antara kedua tempat ini kurang lebih 2 kilometer.

Kehadiran data riwayat pahlawan nasional, W.R. Soepratman, di dua lokasi bersejarah itu sungguh aneh dan bahkan memalukan bagi kota Surabaya, yang berjuluk sebagai kota Pahlawan. Dimanakah selama ini tim ahli cagar budaya, pihak-pihak terkait dan bahkan pemangku kotanya? Mereka harus hadir untuk meluruskan sejarah W.R. Soepratman, sebelum museum W.R. Soepratman ini dibuka untuk umum pada 10 November 2018. Alangkah malunya kota, yang berjuluk kota pahlawan ini, ketika pemangku kotanya keliru dalam menyajikan informasi.

Maka, dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 2018 serta dalam menyambut datangnya Hari Pahlawan pada 10 November 2018, pihak pihak terkait seperti Dinas Kebudayaan dan Pariwisata kota Surabaya dan Dinas Perpustakaan dan Kearsioan kota Surabaya, yang saat ini sibuk mempersiapkan peresmian museum W.R. Soepratman, hendaknya meninjau ulang data dan informasi mengeni W.R. Supratman.

Pada Jumat (26/10) penulis sempat berkunjung ke dua lokasi (makam dan rumah wafat WR Soepratman) dan hasilnya adalah bahwa di kedua tempat itu memang menyajikan informasi yang berbeda. Informasi di makam menyebutkan bahwa WR Soepratman lahir di Jatinegara, Jakarta, pada 9 Maret 1903. Sementara di rumah wafat W.R. Soepratman terdapat data kelahiran yang menyebutkan bahwa W.R. Soepratman lahir di desa Somongari, kecamatan Bagelan, kabupaten Purworejo, Jawa Tengah pada 19 Maret 1903.

Kota Surabaya sebagai kota pahlawan, kota yang rakyatnya menghargai para pahlawannya, hendaknya tidak keliru dalam menyajikan sejarah para pahlawannya. Menurut penulis, Kota Surabaya hendaknya berpijak pada sumber-sumber otentik baik dari buku "Lagu Indonesia Raya, W.R. Supratman Penciptanya" (1967) dan ketetapan Pengadilan Negeri Surabaya dengan Daftar No. 1569/1958 S.P.  Jika pemerintah kabupaten Purworejo memiliki data yang berbeda, biarlah mereka memakainya. Jangan, kemudian pemerintah kota Surabaya menggunakan data dari temuan mereka .

Perlu diketahui bahwa buku "Lagu Indinesia Raya dan WR Soepratman Penciptanya" adalah buku yang didukung oleh gubernur jawa timur, pandam V Brawijaya serta walikita Surabaya kala itu (1967). Jadi kebenaran isi buku itu dapat dipertanggungjawabkan. Apalagi penulis, Oerip Kasansengari, adalah kerabat dari W.R. Soepratman. (yos)




Berita Terkait


Gerakan Pemuda Anshor Digembleng Polisi di Waduk Pondok

Siswa Perkuat Makna Sumpah Pemuda Dengan Baju Adat

Pelurusan Sejarah Kelahiran WR. Soepratman

Ratusan Siswa Diajak Mengumandangkan Sumpah Pemuda


Begini Magna Hari Sumpah Pemuda Bagi Ronnie Sianturi

Peringati Sumpah Pemuda dengan Lestarikan Tari Remo

Sumpah Pemuda, Diingatkan Bahaya Radikalisme

Rafleksi Hari Sumpah Pemuda, PMII Laukan Aksi Long March
Berita Utama Lihat Semua

Berita Terkini Lihat Semua

Berita Terpopuler Lihat Semua

Surabaya Raya Lihat Semua

Rehat Lihat Semua



Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber