Beranda       Nasional       Internasional       Life Style       Olah Raga       Opini       Sorot
Opini 

Penulis adalah pemerhati sejarah Surabaya
Jalan Gunungsari, Etalase Kesejarahan Gunungsari
Minggu, 07-10-2018 | 19:14 wib
Oleh : Nanang Purwono
Surabaya pojokpitu.com, Upaya mempertahankan dan menjaga nama jalan Gunungsari memang sangat beralasan. Banyak obyek bersejarah, yang teruntai oleh jalan Gunungsari. Setidaknya tergali ada 11 obyek bersejarah di sekitar kiri kanan jalan Gunungsari, yang membujur dari timur (Joyoboyo) hingga ke barat di kawasan perbukitan Gunungsari (Yani Golf).

Wajarlah jika berbagai pihak, yang peduli dengan rona kesejarahan di Gunungsari, memprotes atas rencana pemerintah propinsi Jawa Timur, yang akan mengganti nama jalan gunungsari menjadi nama prabu Siliwangi. Alhamdulillah, protes yang terus menerus dilayangkan secara konstruktif oleh pemerhati sejarah dan Paguyuban MasTRIP Jawa Timur kepada pemerintah propinsi, telah membuahkan hasil.

Ruas jalan terdampak, yang awalnya sepanjang 2300 meter, secara berangsur, surut menjadi 500 meter. Pergantian nama jalan, yang awalnya akan membawa konsekwensi perubahan administrasi kependudukan dan surat surat lainnya di wilayah Gunungsari akhirnya berubah menjadi zero perubahan administrasi. Dari ruas yang awalnya ber-KK, menjadi zero KK. Akhirnya perubahan nama jalan ini tidak berdampak seperti yang dikabarkan sebelumnya.

Namun, bagi keluarga besar veteran Mas TRIP, perubahan nama jalan itu tetap saja berpengaruh bagi mereka. Sebab seruas jalan itu adalah bagian dari saksi bisu jalur mundurnya para orang tua mereka, yang tergabung dalam tentara pelajar TRIP ketika didesak oleh tentara Sekutu pada 28 November 1945. Bahkan sebagian tentara pelajar itu ada yang tewas dalam mempertahankan wilayah kota Surabaya di Gunungsari.

Meskipun ruas jalan, yang akan berganti nama ini, terhitung wilayah di luar batas pertahanan terakhir pejuang pejuang Surabaya, yang lokasinya tersentral di perbukitan Gunungsari (sekarang menjadi area lapangan Golf dan hotel). Bagi keluarga Paguyuban Mas TRIP, ruas jalan terdampak ini menjadi jalur napak tilas perjuangan Mas TRIP yang diperingati setiap tahun. Mereka berpendapat bahwa hilangnya seruas saksi bisu di jalan Gunungsari berpotensi berdampak pada hilangnya nilai sejarah yang sudah tertoreh di Gunungsari.

Untuk mengantisipasi dampak negatif dari perubahan nama jalan, meski hanya 500 meter, Paguyuban Mas TRIP Jawa Timur setelah berembuk dengan sesepuh pelaku pejuang di palagan Gunungsari, mengambil jalan tengah yang win-win solution. Yakni meminta kepada pemerintah propinsi Jawa Timur untuk dibangunkan monumen Perjuangan Mas TRIP di Gunungsari. Diharapkan keberadaan monumen di Gunungsari ini akan memberi petunjuk kepada khalayak umum akan nilai sejarah perjuangan bangsa yang tertoreh di bumi Gunungsari.

Usulan Status Cagar Budaya untuk Jalan Gunungsari
Kelak dengan tertandainya kawasan Gunungsari dengan monumen perjuangan Mas TRIP, makan jalan Gunungsari yang membujur dari timur ke barat di tepi utara kali Surabaya ini terpatok dengan monumen perjuangan. Di ujung timur jalan Gunungsari sudah terpatok dengan monumen Wira Surya Agung (kawasan Wonokromo) dan di ujung barat kelak dengan monumen Perjuangan Mas TRIP atau monumen Nyala Gunungsari.

Dengan tetenger, yang akan mengunci jalan Gunungsari ini, maka jalan Gunungsari layak disemati dengan status cagar budaya. Bukan hanya alasan peristiwa bersejarah perang kemerdekaan saja, namun banyak peristiwa bersejarah yang tertoreh di kawasan ini jauh sebelum perang kemerdekaan. Kesejaraan ini pula yang harus diangkat seiring dengan menjelmanya jalan Gunungsari sebagai etalase dan landmark yang berstatus cagar budaya.

Catatan dan bukti kesejarahan apa saja yang ada di antara dua monumen yang memagari jalan Gunungsari. Dalam penelusuran yang dilakukan penulis, setidaknya ada 11 obyek bersejarah di kawasan ini. Mereka adalah:

1.Jalur Pelarian Raden Wijaya (1292).                                                                                                              
Buku "Er Werd Een Stad Geboren", karya GH von Faber menceritakan perjalanan Raden Wijaya beserta pengikutnya, termasuk Ronggolawe, yang akan menuju pulau Madura. Di jalan Gunungsari itulah, rombongan Raden Wijaya menapakkan kaki, menyusuri tepian sungai untuk sampai di Surabaya sebelum menyeberang ke pulau Madura.

2.Benteng Ngasem (1292).                                                                                                                                     
Nama desa Ngasem tersebut dalam kisah perjalanan Raden Wijaya. Desa Ngasem bersebelahan dengan Desa Pulosari. Kini nama Ngasem telah hilang dan nama desa Pulosari menjadi sebuah kampung di wilayah Gunungsari. Dulu di desa Ngasem inilah, Raden Wijaya sempat berhenti sebelum melanjutkan perjalanan ke utara. Dari desa Ngasem, Raden Wijaya mendapat bantuan 600 prajurit untuk menghadapi serangan Raja Jayakatwang yang memburunya sejak dari wilayah Singasari.

3.Punden Puteri Ayu Pandan Sari                                                                                                                                       
Punden menjadi petunjuk arkeologi dan kekunoan suatu wilayah, termasuk petunjuk adanya peradaban dan disanalah di Gunungsari masih terdapat sebuah makam kuno, punden, yang masih diuri uri oleh warga setempat. Bersih desa menjadi agenda tahunan yang digelar oleh warga kampung Pulosari. Kearifan lokal itu masih menjadi warna warga di era melanial.

4.Pusat Pertahanan Militer                                                                                                                                 
Buku Pertempuran 10 November mencatat bahwa, di jaman Jepang 1942 - 1945, di kawasan perbukitan bumi Gunungsari sempat menjadi pusat pertahanan militer Jepang. Ketika perang mempertahankan kemerdekaan, sisa persenjataan Jepang yang ada di Gunungsari sempat digunakan oleh pejuang-pejuang Surabaya. Karenanya ketika pejuang Surabaya mundur meninggalkan pusat kota, perbukitan Gunungsari menjadi titik pertahanan sampai akhirnya Sekutu membombardir Gunungsari dari segala arah (darat, laut dan udara). Di kawasan perbukitan Gunungsari inilah ketika pejuang Surabaya kalah, Surabaya secara total dikuasai Sekutu. Tanggal 28 November 1945 tercatat benteng Gunungsari jebol.

5.Makam Gezaghebber Rohthenbuhler                                                                                                             
Masih di kawasan perbukitan Gunungsari. Disana masih bertengger makam kuno dari seorang penguasa VOC, Gezaghebber, yang bertugas di wilayah Jawa bagian timur. Ia bernama FJ Rohthenbuhler, meninggal 21 April 1836. Ia pernah tinggal di gedung negara Grahadi yang kala itu masih bernama Tuin Huis te Simpang. Karena kesalahan yang ia lakukan, ia dihukum secara sosial dengan dilarangnya dimakamkan di pemakaman di Surabaya ketika ia meninggal. Ia dibuang di luar Surabaya dan bertempat di tanah yang tinggi, heuvel top Gunungsari.

6.Soerabaia Golf Club                                                                                                                                                                    
Soerabaia Golf Club, sekarang menjadi Yani Golf, adalah club olah raga golf yang usianya sudah sangat tua. Olah raga yang mengambil lokasi di wilayah perbukitan Gunungsari ini dibuka pada tahun 1898. Di jamannya, daerah Gunungsari merupakan daerah luar kota dengan setting alamnya yang indah. Dibuka oleh perusahaan minyak NV. Shell Wonokromo dan menjadi jujugan warga Eropa di Surabaya ketika ingin berolah raga golf. Tahun 1965 nama Soerabaia Golf Club brubah menjadi Lapangan Golf Ahmad Yani, yang selanjutnya terkenal dengan nama Yani Golf.

7.Kam Militer (Kodam V Brawijaya)      
Komplek militer Kodam V Brawijaya, yang ada sekarang, adalah bekas kam militer Belanda. Kam ini langsung bersinggungan dengan jalan Gunungsari sebagai akses keluar masuk dari sisi selatan. Bahkan di wilayah kam inilah pernah ada lapangan terbang sipil yang membujur dari kawasan hotel Singasana hingga ke timur di komplek lapangan upacara Kodam.. Di jamannya lapangan terbang itu dikenal dengan nama Darmo Vliegvelt. Karena berkembangan kebutuhan dan penyesuaian, maka hilanglah lapangan terbang tersebut.

8.Jalur Pertahanan Pejuang                
Selain pernah dipakai sebagai jalur perjalanan Raden Wijaya di tahun 1292, jalan Gunungsari juga menjadi jalur perahanan pejuang pejuang Surabaya. Dari Wonokromo, mereka bergerak ke barat menyusuri jalan Gunungsari (Goenoengsariweg) dan merapat di sentra pertahanan di perbukitan Gunungsari.

9.Monumen Kancah Yudha Mas TRIP 
Masih terkait dengan riwayat pejuang-pejuang kemedekaan yang mundur ke Gunungsari, bahwa di kawasan perbukitan di area lapangan golf pernah diketemukan jenazah pejuang kemerdekaan beserta persenjataan yang mereka miliki. Mereka tidak lain adalah tentara Pelajar Republik Indonesia (TRIP). Dari lokasi penemuan ini, kemudian dibangunlah sebuah monumen Kancah Yudha Mas TRIP. Setiap tahun di tempat dini, dilakukan napak tilas perjuangan Mas TRIP.

10.Jembatan Gantung                           
Selama ini sosok jembatan baja yang menggantung di atas kali Surabaya ini tidak pernah luput dari pandangan kita tat kala melewati jembayan Wonokromo. Dari usia jembatan, jelas sudah lebih dari 50 tahun. Sifatnya langka karena satu satunya yang ada dari peninggalan masa lalu.  Konstruksinya juga unik dan menarik.

11.Pintu Air (Sluis) Gunungsari           
Satu lagi yang menjadi peninggalan masa lalu di kali Surabaya adalah Rolak beserta Sluis, pintu air yang menghubungkan antara permukaan air tinggi dan rendah sehingga bisa dilalui oleh transportasi air kala itu. Kini bekas infrastruktur ini masih bertengger di tepian kali dan menjadi pijakan warga untuk memancing. Di Surabaya terdapat 3 sluis (Gunungsari, Wonokromo dan Gubeng). Sluis sluis ini menunjukan peran penting sungai sebagai sarana transportasi kala itu.

Semua obyek tersebut di atas adalah bukti kesejarahan yang patut dijaga dan semua diakses lewat jalan Gunungsari. Maka tidak berlebihan jika obyek obyek bersejarah itu menjadi pendukung jalan Gunungsari sebagai etalase dan landmark Gunungsari untuk menjadi jalan Cagar Budaya. (nang)








Berita Terkait


Akibat Kendaraan Melebihi Muatan, Banyak Jalan Nasional Rusak di Jatim

Peserta Asal Bangkingan Finish Pertama di Tugu Pahlawan

Wah Jalan Sememi Bakal Lebih Lebar

Sering Dilalui Truk Tanah Uruk, Jalan Kampung Rusak Parah


Akibat Kendaraan Melebihi Muatan, Banyak Jalan Nasional Rusak di Jatim

Warna - Warni Jalan Panggung Dinilai Hilangkan Identitas Kampung Melayu

Jalan Deandles Dan Pemukiman Warga Terendam Banjir Bandang

Ribuan Orang Ikuti Gerak Jalan Perjuangan Mojokerto Surabaya
Berita Utama Lihat Semua

Berita Terkini Lihat Semua

Berita Terpopuler Lihat Semua

Surabaya Raya Lihat Semua

Rehat Lihat Semua



Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber