Beranda       Nasional       Internasional       Life Style       Olah Raga       Opini       Sorot
Opini 

Mas TRIP Jatim dan Gubernur Jatim Bahas Perubahan Nama Jalan
Kamis, 20-09-2018 | 21:53 wib
Oleh : Nanang Purwono
pojokpitu.com, Gubernur Jawa Timur Soekarwo akhirnya mengundang perwakilan Paguyuban Mas TRIP untuk membahas polemik pergantian sebagian nama jalan di gedung Grahadi Kamis siang (20/9). Undangan ini menyusul surat audensi yang telah dilayangkan Paguyuban Mas TRIP ke kantor gubernur. Hadir dalam pertemuan itu antara lain pelaku sejarah Marbai dan Soemanto, Sekreatris Paguyuban Mas TRIP Andy Kristyono dan Biro Hukum Enny Wisnu. Bersama mereka adalah pegiat sejarah Surabaya, Kuncarsono dan penulis.

Sementara itu hadir di pihak pemerintah propinsi Jawa Timur adalah Gubernur Jawa Timur Soekarwo, yang didampingi oleh sejarawan Prof. Aminudin Kasdi dan pakar komunikasi politik Suko Widodo dari Unair Surabaya. Di hadapan tamu Grahadi, Soekarwo menjelaskan maksud dan tujuan dibuatnya rekonsiliasi budaya Jawa Sunda. Menurutnya rekonsiliasi budaya ini untuk menghapus stigma yang masih ada di masyarakat bahwa Jawa dan Sunda belum bisa akur. Terbukti masih adanya kesulitan ketika ada perkawinan campuran antar adat Jawa dan Sunda, seperti pengalaman hidup gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan.

Latar belakang, yang menjadi ide rekonsiliasi budaya ini, adalah peristiwa perang Bubat antara kerajaan Majapahit dan Pasundan yang terjadi pada abad 14. Profesor Aminudin Kasdi, sejarawan Unesa, yang menjadi salah satu anggota tim Pemerintah Propinsi Jawa Timur, menjelaskan panjang lebar mengenai sejarah perang Bubat, termasuk kitab-kitab kuno yang bercerita tentang perang Bubat sebagai acuan sumber sejarah.

Sayang penjelasan yang bagus itu kurang lugas untuk dipahami oleh para sesepuh TRIP, yang tidak lain adalah pelaku sejarah di lokasi pertempuran Gunungsari. Dalam kesempatan bisa bertemu dengan gubernur, Mbah Marbai tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia langsung bertanya kepada Gubernur mengenai ruas jalan yang sebelah mana yang akan dikorbankan demi rekonsiliasi itu. Menurut Suko Widodo, pakar komunikasi politik Universitas Airlangga, bahwa rekonsiliasi itu memang harus saling berkorban.

Dalam perkembangannya, seiring dengan tekanan dan protes dari warga, ruas jalan Gunungsari, yang awalnya akan diganti total mulai dari ujung timur di Joyoboyo hingga ujung barat di pertigaan akses pintu tol, secara gradual mengalami penyesuaian, semakin pendek.

Penyesuaian pertama, ruas terdampak diukur dari pertigaan jalan Gajah Mada ke arah barat hingga batas pintu tol. Penyesuaian kedua, seperti yang disepakati oleh DPRD Surabaya, ruas terdampak terukur mulai pertigaan rolak Gunungsari ke arah barat hingga pintu tol.

Konon, penyesuaian ini masih ditentang oleh banyak fihak, terutama oleh Paguyuban Mas TRIP dan Komunitas Peduli Sejarah Surabaya. Serangkaian aksi pun dilakukan. Khususnya aksi yang justru menggali sejarah Gunungsari sebagai bagian dari pendidikan publik. Akibatnya, semakin banyak publik memahami sejarah Gunungsari dan sekaligus mengapresiasinya.

Bagi Paguyuban Mas TRIP dan publik peduli sejarah sendiri, polemik ini semakin menambah dan memperkuat pemahaman mereka terhadap sejarah Gunungsari, mulai dari sejarah klasik, sejarah kolonial hingga sejarah kemerdekaan. Konon dari aksi konstruktif dan edukatif ini membuat pemerintah propinsi Jawa Timur melakukan penyesuaian berikutnya.

Penyesuaian ketiga, ruas terdampak diukur mulai dari pertigaan jembatan Bumi Marinir Gunungsari hingga ke pertigaan akses jalan ke tol. Penyesuaian ketiga adalah langkah kompromi dan sekaligus solusi mengenai polemik ruas jalan terdampak di jalan Gunungsari. Penggeseran dari batas rolak Gunungsari ke arah barat ke pertigaan jembatan Bumi Marinir Gunungsari ini dilakukan setelah mempelajari kesejarahan yang ada di depan kawasan berbukit Gunungsari, yang kini menjagi Yani Golf.

Pada ruas antara batas pertigaan jembatan Bumi Marinir Gunungsari dan pertigaan jalan akses ke pintu tol ini tidak ada rumah warga. Ruas jalan ini murni diapit oleh sungai. Di bagian selatan adalah Kali Surabaya. Di bagian utaranya adalah kali irigasi.

Mendengar perkembangan mengenai ruas jalan yang terdampak, yang tentu semakin bertambah pendek, kira-kira menjadi 450 meter dan tidak mengganti ruas jalan di depan area perbukitan Yani Golf Gunungsari, yang dianggap paling bersejarah bagi keluarga Mas TRIP, setidaknya sedikit melegakan keluarga veteran Mas TRIP. Untuk menambah keyakinan mengenai lokasi ruas jalan terdampak, Paguyuban Mas TRIP, yang didampingi relawan peduli sejarah bersama sama dengan Kepala Humas dan Protokoler Benny Sampir Wanto dan rekan, meninjau lokasi hasil penyesuaian ketiga ini usai pertemuan dengan gubernur.

Monumen Nyala Gunungsari

Dalam peninjauan ke lokasi ruas jalan terdampak di Gunungsari, kedua belah pihak melihat secara langsung kondisi fisik ruas terdampak tersebut. Panjang jalan sekitar 450 meter, berada di antara dua aliran sungai dan tidak ada rumah di tepi jalan tersebut. Di sebrang sungai sisi utara memang terdapat perkampungan, namun keberadaannya berada dalam area kampung Jarsongo dan Jogoloyo. Bisa jadi status administrasi tersebutmengikuti nama kampung. Yakni kampung Jarsongo dan Jogoloyo atau tidak beralamat di jalan Gunungsari.

Namun demikian, sepanjang 450 meter pun masih terhitung memotong ruas jalan Gunungsari. Sebagai pengganti, pihak TRIP bersama relawan peduli sejarah Surabaya mengusulkan dibuatnya sebuah monumen di sekitar area bersejarah di perbukitan Gunungsari. Pendirian monumen ini dimaksudkan untuk menjaga eksistensi sejarah heroik Gunungsari, terlebih setelah sebagian ruas jalan Gunungsari diubah namanya menjadi jalan Prabu Siliwangi.

Maka dengan didirikannya sebuah monumen di kawasan Gunungsari nantinya, hal ini semata mata untuk tetap menjaga memori kolektif tentang kesejarahan Gunungsari, yang tidak hanya terwujud dalam bentuk jalan tapi juga berbentuk kawasan perbukitan Gungungsari, yang pernah menjadi benteng pertahanan terakhir arek arek Surabaya. Usulan pendirian monumen ini disambut baik oleh Benny Sampir Wanto dan rekan yang selanjutnya akan dilaporkan ke Gubernur Soekarwo.

Pendirian monumen bertujuan mengajak publik lebih memahami sejarah Gunungsari, memvisualkan atau memperkenalkan empat sosok pejuang TRIP yang kerangkanya diketemukan di area lapangan golf pada tahun 1992, serta menjaga dan melestarikan nilai-nilai kepahlawanan dan perjuangan bangsa.(end)







Berita Terkait


Mas TRIP Jatim dan Gubernur Jatim Bahas Perubahan Nama Jalan

Semangat Hijrah di Jalan Gunungsari dan Dinoyo.

Belajarlah Sejarah Agar Tidak Hilang Jati Dirimu

Diskusi Sejarah yang Mencerahkan


Tolak Perubahan Nama Jalan, Pejuang Veteran Ikut Geruduk Kantor Dewan

Tak Setuju Perubahan Nama Jalan, Begini Sikap Fatchul Muid

Menakar Polemik Perubahan Nama Jalan di Era Reformasi Birokrasi Pakde Karwo

Warga Tolak Perubahan Nama Jalan Dinoyo dan Gunungsari
Berita Utama Lihat Semua

Berita Terkini Lihat Semua

Berita Terpopuler Lihat Semua

Surabaya Raya Lihat Semua

Rehat Lihat Semua



Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber