Berita Terbaru :
Total 6 Orang Positif Covid-19 Asal Magetan Sembuh
Cegah Virus Corona, 1.262 Napi di Jatim Dibebaskan
Sudah Lebih dari Sejuta Orang di Dunia Terjangkiti Virus Corona
Warga Desa Ngablak Terapkan Karantina Wilayah Mandiri
Cegah Corona, Forkopimda Koordinasi Dengan Tokoh Agama dan Pengusaha Warkop
Kejaksaan Ngawi Pastikan Telah Ada Kerusakan di Jembatan Gempol Baru
Melihat Profesi Analis Kesehatan yang Rentan Tertular Virus Covid-19
Pemkab Malang Lakukan Physical Distancing
Bupati Bojonegoro Lantik Kades Terpilih Melalui Layar Video Teleconference
Bacabup Tuban Amir Burhanudin Sepakat Pilkada Ditunda
Puluhan Jurnalis Bagi-Bagi Vitamin C Gratis
Seluruh Penumpang di Terminal Arjosari Didata dan Diperiksa Polisi
Tim Satgas Corona Dirikan Posko Untuk Memonitor Pemudik Dadakan
   

Dampak Kemarau, Biaya Irigasi Petani Padi Meningkat
Mataraman  Rabu, 19-09-2018 | 03:15 wib
Reporter : Herpin Pranoto
Dalam satu musim tanam, mereka bisa mendapatkan??uang belasan juta rupiah. Foto: Herpin Pranoto
Ngawi pojokpitu.com, Musim kemarau membuat para petani tanaman padi di Kabupaten Ngawi, harus cerdas dalam manajemen usaha tani. Pasalnya, biaya pengairan meningkat hingga mencapai 40 persen dari total biaya tanam.

Saat panen raya biaya irigasi mengurangi keuntungannya, sebaliknya kemarau mebawa berkah tersendiri bagi pengelola sumur irigasi, karena pendapatannya ikut meningkat. Dalam satu musim tanam, mereka bisa mendapatkan  uang belasan juta rupiah.

Areal pertanian di Desa Watualang Kota Ngawi, saat musim kemarau terlihat hijaunya tanaman padi. Para petani harus berpikir keras, terkait pengelolaan usaha tani, khususnya kebutuhan irigasi.

Setiap 5 hari sekali, para petani  harus membeli air untuk mengairi sawahnya dari sumur dalam bantuan pemerintah pusat, yang di kelola oleh kelompok tani setempat.

Salah satu petani, Sadirin, menjelaskan, biaya irigasi cukup menguras dompet dengan tarif sekitar Rp 70 ribu per jam. Jika terlambat mengairi sawah, tanaman padinya beresiko tumbuh tak normal dan bahkan bisa  mati.

"Hingga menjelang panen tiba, sudah Rp 2 juta lebih biaya pengairan yang dikeluarkan, belum termasuk upah pekerja dan kebutuhan pupuk. Meningkatnya biaya irigasi, berdampak pada menipisnya keuntungan hasil panen," jelas Sadirin.

Pengelola sumur dangkal, Sukamto mengatakan, kemarau membawa berkah baginya, dalam dan sumur dangkal karena pendapatannya meningkat, untuk sumur pompa dalam pendapatan digunakan untuk biaya operasional dan biaya perbaikan.

"Pendapatan dikelola sendiri, dalam satu musim tanam saat kemarau kita bisa memperoleh uang belasan juta rupiah," ujar Sukamto.

Meskipun keuntungan dari hasil panen padinya tak sebanding dengan musim penghujan, para petani setempat tetap bersyukur. Pasalnya, saat musim kemarau resiko serangan hama dan penyakit, relatif berkurang.

Selain itu para petani setempat juga beruntung, karena kekeringan hanya terjadi di sebagian areal persawahan saja. (yos)

Berita Terkait

Kemarau Panjang, 59 Desa di Gresik Kering Kerontang

Panen Jagung Turun 40 Persen Akibat Kekeringan

Kemarau Panjang, Volume Air Waduk Pacal Menipis Tak Mampu Aliri Lahan Pertanian

Dampak Kemarau Produksi Susu Sapi Menurun
Berita Terpopuler
Kejaksaan Ngawi Pastikan Telah Ada Kerusakan di Jembatan Gempol Baru
Peristiwa  4 jam

Cegah Virus Corona, 1.262 Napi di Jatim Dibebaskan
Hukum  32 menit

Total 6 Orang Positif Covid-19 Asal Magetan Sembuh
Kesehatan  28 menit

Tim Satgas Corona Dirikan Posko Untuk Memonitor Pemudik Dadakan
Peristiwa  12 jam



Cuplikan Berita
Jalan Darmo dan Tunjungan Surabaya Ditutup 2 Minggu
Pojok Pitu

Berburu Manisnya Buah Srikaya Puthuk Tuban
Pojok Pitu

Kabupaten Nganjuk Menjadi Salah Satu Daerah Zona Merah di Jatim
Jatim Awan

Empat Warga Nganjuk Positif Corona
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber