Beranda       Nasional       Internasional       Life Style       Olah Raga       Opini       Sorot
Opini 

Insiden Bendera Wujud Penolakan Arek Suroboyo
Selasa, 18-09-2018 | 18:06 wib
Oleh : Nanang Purwono
Surabaya pojokpitu.com, Tanggal 19 September 1945 dikenal dengan peristiwa historis penyobekan bendera di hotel Yamato, Surabaya. Sekarang hotel Mojopahit. Bendera merah-putih-biru, yang sebelumnya dikibarkan oleh warga Belanda, disobek bagian birunya oleh pemuda pemuda Surabaya sehingga menjadi merah-putih. Selama beberapa tahun terakhir, insiden penyobekan bendera tanggal 19 September itu diperingati dengan upacara in formal di depan hotel Majapahit, yang kemudian dilanjutkan dengan aksi teatrikal insiden bendera di puncak menara bendera. Di malam hari masih dihiasi lagi dengan aksi monolog oleh dokter Ananto Sidohutomo di puncak menara.

Acara, yang bersifat lokal ini, begitu menarik perhatian publik, termasuk tamu-tamu manca negara yang menginap di hotel berbintang lima ini dan beberapa hotel di sekitar Tunjungan. Apalagi acara ini bersifat masal: diikuti oleh 3000 pelajar, 150 veteran, 120 pemain teatrikal,    50 paduan suara, 130 personel TNI Polri, 100 SKPD plus kecamatan dan 10 forpimda. Demikian dikatakan oleh sutradara teatrikal Heri Lentho. Tak heran jika acara ini harus menutup jalan Tunjungan yang setiap harinya selalu padat lalu lintas.

Di sanalah, dalam aksi teatrial masal ini, digambarkan betapa pejuang-pejuang Surabaya tidak terima dengan berkibarnya bendera merah-putih-biru pada tiang bendera hotel. Mengetahui tindakan, yang dianggap melecehkan kedaulatan bangsa ini, pemuda-pemuda Surabaya yang melihat tindakan itu langsung mengabarkan ke warga kampung terdekat. Secepat kilat dan tanpa dikomando, warga dari berbagai kampung langsung merangsek ke jalan Tunjungan.

Mereka berteriak-teriak meminta warga Belanda di hotel agar menurunkan bendera. Cukup alot memang, hingga akhirnya Residen Sudirman datang untuk berunding dengan Mr. Plugman. Perundingan pun gagal dan akhirnya pemuda-pemuda dan pejuang Surabaya menyerbu hotel dan menaiki menara bendera. Peristiwa insiden bendera di hotel Yamato ini menunjukkan bahwa arek arek Surboyo berani monolak arogansi penguasa, yang berniat menjajah kembali negara Indonesia yang sudah berdaulat sejak 17 Agustus 1945.

Penolakan arek arek Suroboyo itu tidak hanya terekspresikan pada diturunkannya bendera tiga warna menjadi dua warna. Pecah perang 10 November 1945 menjadi kulminasi penolakan arek arek Suroboyo terhadap arogansi Sekutu. Apalagi Sekutu ini diboncengi oleh serdadu Belanda. Maka arek-arek Suroboyo dengan berani menolak ultimatum Sekutu.

Ultimatum itu sesungguhnya dibuat akibat terbunuhnya Jendral AWS. Mallaby pada tanggal 30 Oktober 1945.  Melihat jendral Sekutu tewas di tangan arek arek Suroboyo, Mayor Jendral E.C. Manserg langsung bersurat ke gubernur Suryo, yang intinya mengatakan bahwa Surabaya dianggab menghalang halangi upaya evakuasi interniran. Oleh karena itu, Gubernur Suryo diminta datang ke kantor Manserg pada tanggal 9 November. Tapi Gubernur Suryo menolak. 

Karena penolakan itu rakyat Surabaya diultimatum oleh Sekutu, yang isinya adalah:                                  
a)Semua pemimpin bangsa Indonesia termasuk pemimpin pergerakan, pemimpin pemuda, kepala polisi, petugas radio, harus melapor kepada Inggris dengan batas waktu pada pukul 18.00 tanggal 9 November 1945. 

b)Mereka harus berbaris satu per satu dengan membawa senjata yang dimiliki.

c)Senjata harus diletakkan 100 yard (75 meter) pada tempat yang ditentutan.

d)Setelah meletakkan senjata mereka harus berjalan dengan meletakkan tangan di atas kepala  menuju pos yang telah ditentukan.

e)Selanjutnya mereka (semua pemimpin Indonesia) harus menandatangani dokumen sebagai tanda menyerah tanpa syarat, kemudian ditahan.

f)Jika ultimatum tidak ditaati, Inggris akan menghancur leburkan seluruh kota Surabaya hingga rata sampai tanah.

Membaca ultimatum itu, rakyat Surabaya marah. Mereka menolak. Gubernur Suryo secara resmi menolak ultimatum itu. Arek Suroboyo lebih baik berputih tulang dari pada berputih mata. Lebih baik mati melawan daripada terhina. Karena itu, seluruh arek Suroboyo mempersiapkan diri untuk bertempur habis habisan.

Pihak Inggris pun menepati janjinya. Pagi pagi pada 10 November 1945 pihak Inggris melancarkan serangannya dari darat, laut dan udara. Sekitar 15.000 tentara Sekutu dikerahkan untuk menggempur Surabaya. Pejuang dan rakyat Surabaya hanya 13.000. Inggris menggunakan tank-tanknya, senjata artileri, pesawat tempur, termasuk meriam dari kapal-kapal penjelajah yang sandar di Tanjung Perak.

Sementara senjata di pihak arek arek Suroboyo hanyalah senjata ringan dari senapan hingga mortir, termasuk meriam anti pesawat terbang kaliber 75 mm. Secara statistik kekuatan Sekutu dan pejuang Surabaya tidak berimbang, mulai dari jumlah personil, teknologi persenjataan dan profesionalisme dalam berperang. Tentara Inggris sudah berpengalaman dalam berperang.

Meski demikian, tidak berarti pejuang Surabaya takut dan menyerah. Surabaya melawan. Ternyata tidak mudah bagi Inggris untuk mengalahkan pejuang Surabaya. Setidaknya mereka butuh waktu hampir 3 minggu untuk menguasai kota secara penuh, terhitung mulai 10 November hingga 28 November.

Dalam 18 hari itu Mayjen Sungkono memimpin pertempuran mempertahankan kota. Sementara Bung Tomo  membangkitkan semangat perlawanan melalui corong radio pemberontakannya. Meski pada akhirnya pejuang Surabaya terdesak mundur. Tapi ini bukan hal yang mudah bagi Sekutu. Di selatan kota, Wonokromo dan Gunungsari, Sekutu sempat mendapat perlawanan yang sengit. Gunungsari menjadi benteng terakhir Surabaya. Tanggal 28 November 1945 Inggris semakin melancarkan serangan yang bertubi tubi dan dari segala arah untuk menuntaskan pengusiran pejuang Surabaya dari Gunungsari.

Sekarang, 73 tahun kemudian, di alam kemerdekaan, arek arek Suroboyo kembali dihadapkan pada upaya pengambil-alihan kedaulatan sejarah kepahlawanan Surabaya. Kedaulatan yang menjadi jati diri kota Pahlawan. Kedaulatan sejarah lokal di jalan Gunungsari dan Dinoyo terancam oleh rencana Gubernur Jawa Timur, yang akan mengganti sebagian nama jalan Gunungsari dan Dinoyo. Seperti yang terjadi pada 73 tahun yang silam, arek arek Suroboyo kembali melawan ancaman itu.

Setelah keluarga veteran MasTRIP yang terus menerus malakukan penolakan, kini keluarga besar Generasi Muda Forum Komunikasi  Putra Putri Purnawirawan dan Putra Putri TNI Polri Indonesia (GM FKPPI) Jawa Timur menolak rencana perubahan nama jalan itu. Sikap ini tentu tidak lepas dari jiwa jiwa pejuang, yang telah diwarisi dari orang tua mereka, yang pernah berlaga di palagan Surabaya tahun 1945.

Untuk mengapresiasi peristiwa Gunungsari, sebagai benteng terakhir Surabaya, saya kira layak jika pada 28 November juga diadakan gelaran teatrikal perlawanan pejuang -ejuang Surabaya melawan Sekutu. Teatrikal ini untuk melangkapi semangat perjuangan arek arek Surabaya mulai dari Insiden Bendera pada 19 September hingga Nyala Gunungasri pada 28 November.

Bagaimana Cak Heri Lentho ? (yos)

Berita Terkait


Insiden Bendera Wujud Penolakan Arek Suroboyo


Dua Pianis Beda Benua Unjuk Kebolehan di Kota Pahlawan

NBL Kembali Ke Kota Pahlawan
Berita Utama Lihat Semua

Berita Terkini Lihat Semua

Berita Terpopuler Lihat Semua

Surabaya Raya Lihat Semua

Rehat Lihat Semua



Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber