Berita Terbaru :
Petani Rame Rame Berburu Hama Tikus Sawah
34 Persen Orang Tanpa Gejala Menjadi Pasien Positif Covid-19
BBTKLPP Surabaya Prediksi Akhir Juni 2020 Menjadi Puncak Covid-19 di Jatim
BIN Bantu Pemkot Surabaya Gelar Rapid Tes Massal
Ahli Komunikasi Ini Menganggap Persoalan PCR Hanya Miskomunikasi
Rapid Test dan APD Kabaharkam Polri Digunakan di RS Bhayangkara
New Normal Akan Diterapkan Saat Tahun Ajaran Baru
Pemkot Malang Tetapkan 13 Point Untuk New Normal Life
Warga Temboro Minta Kelonggaran Akses, Sementara Pemkab Tawarkan Kampung Tangguh
Nenek Berusia 100 Tahun Sembuh Dari Covid-19
Ditengah Pandemi Covid-19, Penjualan Tanah Kavling Turun Drastis
21 Pasien Covid 19 Asal Lumajang Dinyatakan Sembuh
Data Hari Ini Pasien Covid 19 Bertambah 557 Orang
Empat Pasien Reaktif Dijemput Jalani Isolasi
Hasil Rapidtest 815 Karyawan Pabrik Rokok Madiun Non Reaktif
   

Dampak kemarau dan Banyaknya Hama Ulat Membuat Jeruk Pamelo Gagal Panen
Mataraman  Sabtu, 15-09-2018 | 23:10 wib
Reporter : M. Ramzi
Seperti Kecamatan Bendo dan Sukomoro Magetan, yang mengalami kekeringan. Foto: M. Ramzi
Berita Video : Dampak kemarau dan Banyaknya Hama Ulat Membuat Jeruk Pamelo Gagal Panen
Magetan pojokpitu.com, Dampak musim kemarau dirasakan oleh para petani jeruk pamelo di Magetan, tanaman mengering sehingga tidak bisa menghasilkan buah. Hal tersebut diperparah lagi, dengan banyaknya hama ulat yang menyerang buah khas Magetan tersebut.

Tamanan mengering, daun-daunnya rontok, sehingga tidak bisa menghasilkan buah jeruk secara maksimal. Ada ratusan hektar tanaman jeruk pamelo, yang tersebar di beberapa kecamatan di Magetan.

Seperti Kecamatan Bendo dan Sukomoro Magetan, yang mengalami kekeringan. Bahkan tanaman jeruk yang masih berumur di bawah 2 tahun, mati akibat kekurangan air.

Salah satu petani jeruk pamelo asal duwet bendo, Kasno, mengatakan, mengeringnya tanaman jeruk pamelo, sudah terjadi sejak 4 bulan terahir ini.

"Tidak adanya sumur bor atau sumber mata air lainnya, membuat petani tidak bisa berbuat banyak, selain membiarkan tanamnnya mengering," kata Kasno.

Tidak hanya kekurangan air, petani juga mengeluhkan banyaknya buah jeruk yang diserang hama lalat buah. Serangan lalat buah, membuat jeruk menjadi busuk dan berjatuhan ke tanah.

"Akibat kekeringan dan serangan hama ulat, petani tak bisa menikmati hasil panen, justru petani rugi hingga puluhan juta rupiah," imbuh Kasno.

Biasanya untuk setiap satu kilogram jeruk pamelo dijual sekitar Rp 7 ribu perkilonya. Selain dijual di lokal Magetan, buah jeruk berukuran besar tersebut juga dikirim ke luar daerah, seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, hingga Bali. (yos)

Berita Terkait

Kemarau Panjang, 59 Desa di Gresik Kering Kerontang

Panen Jagung Turun 40 Persen Akibat Kekeringan

Kemarau Panjang, Volume Air Waduk Pacal Menipis Tak Mampu Aliri Lahan Pertanian

Dampak Kemarau Produksi Susu Sapi Menurun
Berita Terpopuler
Golkar Ingatkan Walikota Surabaya Jangan Cari Sensasi di Tengah Pandemi Covid-19...selanjutnya
Metropolis  12 jam

19 Kampung Tangguh Covid-19 Diresmikan Bertahap di Tulungagung
Peristiwa  21 jam

Keberadaan Kandang Dinilai Ganggu Wisata Monumen Kresek
Peristiwa  19 jam

Doni Monardo : Mobil PCR Untuk Provinsi Jatim, Namun Khusus Untuk Kota Surabaya
Politik  10 jam



Cuplikan Berita
Gelombang Tinggi Terjang Pantai Selatan Lumajang
Pojok Pitu

Puluhan Rumah Warga Pantai Sine Terendam Banjir Rob
Pojok Pitu

Banjir Terjang 5 Kecamatan di Tengah Pandemi Covid-19
Jatim Awan

Dua Truk Pasir Terseret Lahar Dingin Semeru
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber