Berita Terbaru :
Bahu Jalan Raya Ranuyoso Ambrol
Pasien Positif Corona di Pacitan Bertambah Saat Persiapan Skema New Normal
Dinsos Perketat Seleksi Penerima Bantuan di Masa Pandemi
Usai Kegitan Pelantikan Pengawas Dindik Provinsi Jatim, 4 Kepsek di Pacitan Akan Jalani Swab
Masyarakat Buka Dapur Umum Bagi Keluarga Pasien Terkonfrim Positif Covid 19
Ada 1646 Calon Jamaah Haji Asal Lamongan Gagal Berangkat
Aniaya Sopir, Petugas Amankan Belasan Anak Punk
Pengusaha Kulit Ditemukan Tewas Membusuk di Lingkungan Industri Kecil
Tak Pakai Masker, Sejumlah Pemuda Dihukum Hafalkan Pancasila
Kasus Positif Covid Tembus 62, 4 Sembuh
Sebanyak 12 Warga Desa Giripurno Positif Covid-19
Komplotan Begal Belasan TKP Ditangkap, Rata-Rata Pelaku Masih di Bawah Umur
Kasus Positif Covid di Jatim, Sebanyak 1,75 Persen Pasien Balita
Ada Satu Peserta Pelantikan Kepala Sekolah dan Petugas Pengawas Meninggal Dari Mojokerto
Pemerintah Putuskan Ibadah Haji Tahun Ini Batal
   

Belajarlah Sejarah Agar Tidak Hilang Jati Dirimu
Opini  Sabtu, 15-09-2018 | 17:27 wib
Reporter : Nanang Purwono
Surabaya pojokpitu.com, Gubernur Jawa Timur, Soekarwo, masih tetap pada pendiriannya terkait dengan polemik perubahan sebagian nama jalan Gunungsari dan Dinoyo. Yakni akan meresmikan pergantian nama jalan tu. Meski dirinya juga belum tau kapan peresmian itu akan dilakukan.

Kuncinya ada pada walikota Surabaya, Tri Rismaharini, yang tinggal membuat Surat Keputusan atau Perwali. SK atau perwali inilah yang akan digunakan sebagai kekuatan hukum oleh Soekarwo untuk meresmikan kedua nama jalan Gunungsari dan Dinoyo menjadi jalan Prabu Siliwangi dan Jalan Sunda.

Walikota Surabaya sungguh tidak gegabah di posisinya yang serba sulit. Risma berada di antara dua poros yang kuat. Di poros atas ada atasan walikota, yaitu gubernur, yang berkehendak terhadap perubahan nama jalan itu. Di poros bawah, Risma harus mendengarkan suara rakyat, terutama keluarga veteran MasTRIP beserta komunitas peduli Sejarah Surabaya.

Bagi kedua pemimpin, yang sama-sama berkantor di Surabaya, tentu mereka akan turut menjaga kearifan lokal dan memelihara nilai-nilai sejarah kepahlawanan Surabaya, jika mereka mau memahami sejumlah argumentasi, yang selama ini telah disuarakan oleh Paguyuban MasTRIP Jawa Timur dan Komunitas Peduli Sejarah Surabaya.

Apalagi komunitas berikut anggotanya, yang semakin lama semakin bertambah banyak, adalah orang-orang yang tidak mudah dinina-bobokan. Mereka adalah warga yang mau belajar tentang jati diri kotanya. Mereka berasal dari beragam latar belakang sosio-ekonomi dan budaya. Ada relawan pabrikan, pelajar, mahasiswa, guru, pengusaha hingga intelektual yang bergelar doktor dan profesor. Karenanya, kedua pemimpin yang berkantor di Surabaya ini (Gubernur dan Walikota) tidak boleh mudah berstatement yang seolah memandang para relawan ini warga yang buta sejarah. Mereka memang bukan sejarawan, tapi mereka mau belajar dan melek sejarah demi kotanya yang berjuluk Kota Pahlawan.

Terkait dengan sejarah Gunungsari, kiranya perlu menengok ke belakang tentang penemuan benda bersejarah di kawasan padang golf, Yani Golf Gunungsari Surabaya. Penemuan kerangka manusia serta sejumlah senjata api dan peluru ini terjadi pada hari Jumlat, 6 November 1992. Berita ini sebagaimana termuat pada harian Bhirawa pada Sabtu, 7 November 1992.

Secara tidak sengaja Sardjo, pemuda asal Bandung, pada Jumat, 6 November 1992 menemukan 3 kerangka manusia saat melakukan penggalian untuk saluran pipa air di lapangan Yani Golf. Selain 3 kerangka manusia yang sudah tidak utuh itu, juga ditemukan enam buah senjata api laras panjang jenis karaben merek STEYR buatan Jerman beserta puluhan peluru dan satu granat.

Menurut Sardjo, yang baru sebulan bekerja di situ, semula ia hanya menggali tanah untuk saluran pipa air. Namun pada kedalaman sekitar 0,5 meter ditanah, yang terletak antara hole 6 dan hole 8 lapangan Golf A Yani itu, cangkul Sardjo terantuk peluru. Penemuan itu membuat terkejut. Namun, ia terus melanjutkan penggalian. Ternyata, peluru yang ditemukan justru semakin banyak. Bahkan ia menemukan juga tengkorak manusia beserta kerangkanya, yang sudah tidak utuh dan 6 senjata laras panjang beserta satu granat. Mandor kerja di situ lantas memerintahkan agar penemuan itu dikumpulkan jadi satu supaya tidak diganggu oleh orang.

PRAJURIT YANG GUGUR                                                                        
Atas penemuan itu, pihak Yani Golf, langsung mengkontak koordinator MasTRIP Jatim, Brigjen Pol (pur) A. Hartawan. Hartawan beserta teman-teman anggota MasTRIP lainnya saat ditemui wartawam di Yani Golf memastikan bahwa 3 kerangka manusia, yang ditemukan tersebut, merupakan anggota Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP), yang gugur dalam peristiwa Gunungsari pada November 1945. Gunungsari ketika itu merupakan basis pertahanan terakhir pejuang Surabaya saat terjadi pertempuran dengan tentara Gurkha atau NICA (Sekutu).

Sementara itu, satu satunya saksi hidup peristiwa Gunungsari, Soebardi, juga hadir di tempat penemuan kerangka manusia itu. Secara rinci, Soebardi menjelaskan kronologis pertempuran yang terjadi di Gunungsari. Dikatakan, ketika itu di palagan Gunungsari tinggal 6 orang, yang bertahan melawan gempuran tentara Gurkha.

Yang seorang namanya Soebadi tertangkap dan dipenjarakan. Hingga penemuan (1992) nasib Soebadi, yang diduga ditahan di LP kalisosok itu, tidak diketahui. Sedangkan 4 rekan TRIP lainnya tewas terkena tembakan Sekutu. Ke empat anggota TRIP, yang tercatat bersekolah di  Sekolah Menengah Teknik, adalah Samsoedin, Soewondo, Soetojo dad Soewardjo.

Soebardi tau persis ketika mereka tertebak, tapi ia tidak bisa menolong karena posisinya sendiri sulit. Ia selamat karena ia terus tiarap.  Atas dasar itu, Soebardi berkeyakinan bahwa tiga kerangka tengkorak, yang ditemukan tersebut, merupakan sebagian dari 4 teman temannya yang gugur pada pertempuran di Gunungsari.

Brigjen Pol (Pur) A. Hartawan, yang ketika itu (1992) berperan sebagai pimpinan ex-TRIP Jatim, mengatakan bahwa ia berusaha agar kerangka, yang sudah tidak utuh itu, bisa dimakamkan di Taman Makam Pahlawan mengingat jasa jasanya saat itu. Kendati demikian, ia terlebih dulu melaporkan hal itu kepihak Koramil, Kodim ataupun Garnisun untuk diidentifikasi lebuh lanjut. Hartawan, ketika itu (1992), adalah mantan Kapolda Jatim.

Kini, waktu telah berubah. Waktu sudah berselang 26 tahun. Seperempat abad. Angka tahun sudah menunjukkan tahun 2018. Pemimpun pun sudah tidak sama yang dulu dan yang sekarang. Demi kesinambungan sejarah, siapapun berhak dan wajib belajar, khususnya bagi para pemimpin, agar dalam menjalankan kepemimpinannya tidak ada sejarah yang hilang.



Berita Terkait

Pansus DPRD Surabaya Setujui 6 Pemberian Dan Perubahan Jalan Baru

Pansus Pastikan 3 Nama Jalan Batal Dirubah, Pemkot Jemput Bola Pergantian Identitas

DPRD Surabaya Bentuk Pansus Perubahan Nama Jalan

Tirulah penamaan Jl. Stasiun kota, Jl. Stasiun wonokromo dan Jl. Smea
Berita Terpopuler
Membusuk Bunuh Diri, Diduga Akibat Depresi Gejala Covid-19
Peristiwa  5 jam

Pengusaha Kulit Ditemukan Tewas Membusuk di Lingkungan Industri Kecil
Peristiwa  1 jam

Kasus Positif Covid Tembus 62, 4 Sembuh
Covid-19  2 jam

Kapolres Malang Siapkan 1.295 Personil Untuk New Nomral Life
Malang Raya  16 jam



Cuplikan Berita
Dua Balita Warga Ngagel Reaktif Positif Covid 19
Pojok Pitu

Satu Keluarga Tersapu Ombak, Satu Orang Tewas, Satu Lagi Hilang
Pojok Pitu

Ini Syarat Kuota Khusus Untuk Putra-Putri Tenaga Kesehatan Covid 19
Jatim Awan

Klaster Gowa Menambah Jumlah Kasus Positif Covid-19 di Bondowoso
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber