Beranda       Nasional       Internasional       Life Style       Olah Raga       Opini       Sorot
Opini 

Monumen Perlawanan (Nyala) Gunungsari
Senin, 10-09-2018 | 17:23 wib
Oleh : Nanang Purwono
Surabaya pojokpitu.com, Upaya penolakan terhadap rencana pemerintah propinsi Jawa Timur, yang ingin mengganti sebagian ruas jalan Gunungsari dan Dinoyo masih terus bergulir. Rencana peresmian nama jalan baru Prabu Siliwangu (sebagai pengganti sebagian ruas jalan Gunungsari) dan jalan Sunda (sebagai pengganti sebagian ruas jalan Dinoyo), yang mestinnya dilaksanakan pada 17 Agustus 2018 lalu, gagal . Hingga ditulisnya artikel ini (10/9), belum ada kabar lanjutan mengenai kapan peresmian nama jalan baru itu akan dilakukan. Meski begitu bukan berarti bahwa upaya penolakan itu berhenti, apalagi kendor. Penolakan tetap berjalan.

Setiap hari ada saja pemikiran untuk membuat pencerahan agar semua pihak memahami arti penting kawasan Gunungsari. Pencerahan itu adalah munculnya gagasan-gagasan positif, yang sangat bernilai edukatif. Semua pihak memang perlu belajar sejarah Gunungsari, yang selama ini memang belum banyak diketahui orang. Akibatnya siapapun bisa gegabah ketika berkreasi di bumi Gunungsari. Contohnya adalah rencana penggantian nama jalan Gunungsari menjadi nama jalan Prabu Siliwangi. Meski penggantian itu hanya sebagian saja.

Untuk kesekian kalinya Komunitas Peduli Sejarah Surabaya, yang terdiri dari berbagai relawan dari sejumlah komunitas, seperti Roodebrug, Surabaya Heritage Society, Laskar Surabaya, Sjarikat Poesaka Soerabaia dan Paguyuban MasTRIP, melakukan pertemuan-pertemuan yang bersifat konstruktif dan edukatif. Mereka menggali data dari sejumlah sumber mulai dari sumber tertulis, lisan hingga sumber artefak, yang kini tersimpan di museum Brawijaya Malang.

Pertemuan di Yani Golf, Gunungsari pada Sabtu (8/9) tidak hanya semakin menambah dan menguatkan pemahaman sejarah para relawan, tapi juga melahirkan gagasan kreatif. Yakni pembangunan sebuah tetenger. Tetenger, yang akan didirikan di depan kawasan perbukitan Yani Golf Gunungsari ini, bernama "Monumen Perlawanan (Nyala) Gunungsari".

Penggunaan kata "Perlawanan" pada nama monumen adalah kontekstual karena menggambarkan upaya perlawanan, yang tidak hanya dilakukan oleh para pendahulu bangsa ketika melawan penjajah (1945),  tetapi juga merepresentasikan perlawanan yang dilakukan generasi sekarang (putra putri pejuang TRIP dan relawan peduli sejarah Surabaya) terhadap "penjajah baru", yang mencoba mengambil sebagian dari kedaulatan nama jalan Gunungsari dan Dinoyo yang bersejarah itu. Jalan Dinoyo adalah jalur perlawanan pejuang Surabaya sebelum terdesak mundur hingga Gunungsari dan di perbukitan Gunungsari inilah pejuang-pejuang Surabaya bertahan dan melawan serdadu Sekutu.

Maka gagasan pendirian "Monumen Perlawanan (Nyala) Gunungsari" itu akan menjadi tonggak pengingat bagi anak bangsa, sekarang dan mendatang. Melalui monumen itu, mereka diajak untuk senantiasa waspada terhadap bercokolnya bentuk-bentuk penjajahan baru (new occupation), yang tidak hanya dilakukan oleh bangsa asing. Pelakunya bisa saja bangsa sendiri, atau yang lebih umum disebut musuh dalam selimut. Targetnya bisa saja menjajah ideologi bangsa, menjajah nilai-nilai kebangsaan dan kepahlawanan, menjajah budaya bangsa serta menjajah ekonomi. Dari macam-macam penjajahan baru itu, penjajahan mana yang belum kita rasakan?

Sementara itu, penggunaan kata "Nyala" yang dipakai sebagai padanan kata "Perlawanan" adalah pilihan yang cerdas dan tepat. Kata "Perlawanan" dan "Nyala" memiliki arti semangat dalam perjuangan. Secara harfiah, kata "Nyala" adalah gambaran realita alam yang ada di bumi Gunungsari. Di sebagian wilayah Gunungsari memang terdapat titik api alam yang keluar dari perut bumi Gunungsari. Hingga sekarang, di kawasan titik tersebut, jika dikorek korek, api akan keluar. Secara konotatif, kata "Nyala" adalah gambaran semangat pertempuran dan perlawanan pejuang-pejuang Surabaya ketika terdesak mundur oleh kekuatan Sekutu. Saking berartinya perlawanan di Gunungsari itu, para pendahulu mengekspresikannya lewat sebuah lagu mars yang bernama "Nyala Gunungsari".

Lagu mars "Nyala Gunungsari" ini selalu dikumandangkan oleh putera puteri veteran MasTRIP (Tennara Republik Indonesia Pelajar) ketika memperingati hari Pahlawan. Bagi keluarga veteran MasTRIP, menyanyikan lagu Nyala Gunungsari adalah energi untuk meneruskan perjuangan para pendahulu, seperti yang sekarang menjadi semboyan MasTRIP "Perjuangan ku-teruskan sampai ke akhir zaman". Dalam kaitannya dengan polemik perubahan nama jalan, maka mempertahankan nama Gunungsari adalah wujud perjuangan itu sendiri.

Gagasan pendirian monumen memang menjadi ekpresi perlawanan Paguyuban MasTRIP dan Komunitas Peduli Sejarah Surabaya terhadap  kebijakan pemerintah propinsi Jawa Timur, yang berencana akan mengganti sebagian nama jalan Gunungsari dan Dinoyo untuk mewujudkan rekonsiliasi budaya Jawa Sunda, yang bersumber dari peristiwa perang Bubat.

Agus Sarosa, pengurus Yayasan Yani Golf Gunungsari, yang juga pensiunan TNI AD korps kavaleri dengan pangkat terakhir kolonel, berpendapat bahwa menggunakan alasan perang Bubat sebagai dasar dibuatnya rekonsiliasi budaya Jawa - Sunda adalah kurang tepat dan kurang bijaksana karena hal itu bisa menggugah emosi kedaerahan. Padahal para pendiri bangsa Indonesia sudah merumuskan sesanti Bhineka Tunggal Eka. Pernyataan Agus Sarosa itu disampaikan dalam diskusi sejarah yang digelar di Lobi Yani Golf, Gunungsari pada Sabtu, 8 september 2018 lalu.

Berangkat dari data sejarah yang sudah dikumpulkan oleh Komunitas Peduli Sejarah Surabaya dan Paguyuban MasTRIP, mulai yang bersumber dari data tertulis, data lisan dan data artefak, maka penolakan terhadap pergantian nama jalan Gunungsari, akan terus dilakukan. Bisa saja nama jalan itu akan diresmikan, tetapi monumen Perlawanan (Nyala) Gunungsari itu akan menjadi tetenger bagi generasi mendatang akan adanya perlawanan dari masa ke masa.

Pertama perlawanan terhadap kolonialisme, yang akan kembali menjajah bangsa yang telah berdaulat (1945) dan kedua perlawanan terhadap neo kolonialisme, yang berusaha menjajah kedaulatan sejarah kota pahlawan Surabaya (2018). Bisa saja, di kemudian hari akan muncul model penjajahan baru lainnya, maka setidaknya tetenger Monumen Perlawanan (Nyala) Gunungsari akan menjadi pengingat warga kota Surabaya untuk melakukan perlawanan.

Berstatus sebagai kota pahlawan, Surabaya pantas menambah koleksi monumen monumen kepahlawanan. "Monumen Perlawanan (Nyala) Gunungsari" tidak hanya mengandung esensi nilai-nilai kepahlawanan kota pahlawan Surabaya, kehadirannya kelak juga akan menambah estetika kota di kawasan Gunungsari. Monumen Perlawanan (Nyala) Gunungsari akan menjadi ekspresi peristiwa bersejarah yang tertoreh di Gunungsari. (yos)

Berita Terkait


600 Meter dari Jalan Gunung Sari Berganti Nama Jadi Jalan Prabu Siliwangi

Mas TRIP Jatim dan Gubernur Jatim Bahas Perubahan Nama Jalan

Semangat Hijrah di Jalan Gunungsari dan Dinoyo.

Belajarlah Sejarah Agar Tidak Hilang Jati Dirimu


Tolak Perubahan Nama Jalan, Pejuang Veteran Ikut Geruduk Kantor Dewan

Paguyuban Mas Trip Jawa Timur P.D. Surabaya Tolak Pergantian Nama Jalan Gunung Sari

Tak Setuju Perubahan Nama Jalan, Begini Sikap Fatchul Muid

Menakar Polemik Perubahan Nama Jalan di Era Reformasi Birokrasi Pakde Karwo
Berita Utama Lihat Semua

Berita Terkini Lihat Semua

Berita Terpopuler Lihat Semua

Surabaya Raya Lihat Semua

Rehat Lihat Semua



Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber