Beranda       Nasional       Internasional       Life Style       Olah Raga       Opini       Sorot
Opini 

Diskusi Sejarah yang Mencerahkan
Sabtu, 08-09-2018 | 15:26 wib
Oleh : Nanang Purwono
Surabaya pojokpitu.com, Anggota Komisi C DPRD Surabaya, Vinsensius Awey, berempati terhadap walikota Surabaya, Tri Rismaharini, terkait dengan masalah perubahan sebagian nama jalan Gunungsari dan Dinoyo, yang digagas gubernur Jawa Timur Soekarwo. Menurut Awey, yang pada kamis (6/9) meninjau jalan Dinoyo dan jalan Jawa, walikota Risma berada pada posisi yang galau setelah rapat paripurna DPRD Surabaya menyerahkan hasil pengesahan rekomendasi pansus terkait pergantian sebagian nama jalan.

Perubahan nama jalan Gunungsari dan Dinoyo, yang isunya akan diresmikan pada tanggal 17 Agustus 2018 lalu, hingga saat ini (8/9) belum juga kunjung diresmikan. Komunitas pemerhati sejarah, pakar planologi ITS yang juga anggota Tim Ahli Cagar Budaya Prof Johan Silas, serta keluarga pejuang TRIP, tentu berharap walikota Surabaya tidak mengeluarkan SK ataupun membuat Perwali terkait dengan perubahan sebagian nama jalan tersebut di atas.

Menurut Awey, jika bisa memilih, bu Risma akan memilih untuk tidak merubah nama jalan Gunungsari dan Dinoyo. Alasannya tentu tidak sekedar masalah administratif dan dokumen-dokumen, tapi lebih dari itu adalah menyangkut jati diri kota pahlawan. Karena kedua jalan itu, jalan Gunungsari dan Dinoyo, memiliki latar belakang sejarah bangsa. Di sanalah pejuang-pejuang bangsa, arek arek Suroboyo, mempertahankan kemerdekaan bangsa dari upaya pengambilalihan kekuasaan oleh tentara Sekutu yang diboncengi oleh serdadu Belanda.

Serangkaian kegiatan sudah dilakukan oleh para komunitas pemerhati sejarah Surabaya untuk mempertahankan keberadaan jalan Gunungsari dan Dinoyo. Kajian-kajian historis pun dilakukan, mulai dari mengumpulkan data-data kesejarahan, hingga mewawancarai pelaku dan saksi sejarah pertempuran Surabaya di Gunungsari. Ditambah artefak kesejarahan perang Surabaya di Gunungsari baik yang berupa topi baja tentara, senapan dan seragam pejuang yang kini tersimpan di museum Brawijaya di Malang. Semntara di lokasi pertempuran itu, di padang golf Ahmad Yani, telah dibangun sebuah monumen yang memberi tanda peran serta pejuang TRIP dalah mempertahankan Gunungsari.

Pada Sabtu pagi (8/9) para komunitas pemerhati sejarah (Roodebrug, Kampung Dolanan Kedung Klinter, Laskar Surabaya, Surabaya Heritage Society, Sjarikat Poesaka Soerabaia, Relawan Peduli Sejarah Surabaya), keluarga pejuang TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar) dan TGP (Tentara Genie Pelajar) serta pengurus Yayasan Golf Ahmad Yani berdiskusi di lobi padang golf Ahmad Yani di jalan Gunungsari, Surabaya. Pada prinsipnya mereka tidak sepakat dengan gagasan pemerintah propinsi Jawa Timur yang akan merubah sebagian nama jalan Gunungsari dan Dinoyo untuk mewujudkan Rekonsiliasi Budaya Jawa Sunda.

Menurut Agus Sarosa, pengurus Perkumpulan Ahmad Yani Golf, jalan Gunungsari adalah bagian dari sejarah kota Surabaya, sejarah kota Surabaya adalah bagian dari sejarah bangsa Indonesia. Jadi, mempertahankan sejarah Gunungsari adalah mempertahankan sejarah kepahlawanan kota pahlawan Surabaya, yang selanjutnya adalah mempertahankan sejarah bangsa. Yakni sejarah kepahlawanan yang terukir di kota Surabaya.

Diskusi sejarah, yang juga dihadiri oleh seorang pelaku pertempuran Surabaya di Gunungsari, Marbai (87 tahun), menjadi ajang mempertebal apresiasi sejarah kota Pahlawan. Marbai, yang kala itu di bulan November 1945, menjadi anggota Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP), menceritakan bahwa di front Gunungsari inilah ia bersama tentara pejuang lainnya menghadang lawan. Mereka menggunakan senjata yang masih manual. Satu kokang, satu tembakan. Kadang ada juga tentara pelajar yang belum tau betul cara menggunakan senjata ketika berperang. Sementara senjata lawan sudah otomatis. Mulai senapan, tank hingga pesawat terbang. Tapi, para pelajar pejuang itu tidak gentar menghadapi lawan. Mereka tidak takut mati. Ada satu semangat pada diri mereka. Merdeka atau mati demi NKRI. Dan, itu sudah mereka tunjukkan. Tidak sedikit kawan kawan seperjuangan Marbai yang tewas di medan laga. Empat di antaranya gugur di area lapangan golf, yang sudah ada sejak tahun 1898. Mereka adalah Soewardjo, Soewondo, Soetojo dan Samsoedin.

Agus Sarosa menghargai niat baik para pegiat sejarah kota Surabaya yang berupaya mempertahankan nama jalan Gunungsari dan Dinoyo. Perubahan nama jalan, meski sebagian saja, tidak boleh dipandang sepele. Apalagi disikapi secara gegabah. Ini akan berbahaya bagi kota yang berjuluk kota pahlawan. Karenanya Andipeci, yang juga pernah berjuang mempertahankan jati diri kota Surabaya lewat simbol olah raga persepak-bolaan Surabaya, Persebaya 1927, sangat mendukung upaya upaya menjaga nilai nilai kearifan lokal serta nilai nilai kepahlawanan di kota Pahlawan.

Tetenger
Konflik perubahan sebagian nama jalan Gunungsari dan Dinoyo telah menjadi media pembelajaran sejarah yang efektif. Sejak isue ini muncul, semakin banyak warga kota Surabaya mengetahui kesejarahan kota Surabaya, yang tertoreh di Gunungsari. Sebelumnya mereka tidak tau. Maklum, kesejarahan Gunungsari dan Dinoyo memang tidak sering terekspos seperti yang terjadi di hotel Oranje (kini Majalahit). Padahal, sejarah kepahlawanan di Gunungsari ini penting. Di sanalah pertahanan terakhir Surabaya. Ketika Gunungsari dapat ditaklukkan Sekutu, maka Surabaya secara keseluruhan jatuh ke tangan Sekutu.

Kini, apa yang kita lihat sekarang dengan polemik perubahan nama jalan Gunungari dan Dinoyo ini, dimana warga kota yang peduli dengan sejarahnya melakukan penolakan, adalah potret jiwa jiwa patriot arek arek Suroboyo yang mewarisi semangat perjuangan para pendahulu dalam mempertahankan kemerdekaan. Mereka mempertahankan status yang menjadi kebanggaan arek arek Surabaya. Yaitu status Surabaya sebagai kota Pahlawan. Karenanya, semangat yang muncul dalam mempertahankan jati diri, kearifan lokal dan kesejarahan kota, sifatnya natural, komunal dan bottom up.

Kehadiran mereka dalam menjaga marwah kotanya adalah back up terhadap walikota Surabaya, Tri Rismaharini, yang secara politis mendapat tekanan secara top down. Gagasan perubahan nama jalan adalah keinginan gubernur yang harus dijalankan oleh walikota Surabaya karena obyek jalannya berada di wilayah administratif kota Surabaya. Risma seolah berada pada posisi yang serba salah. Di atas ada gubernur. Di bawah ada rakyat yang dicintainya. Di satu sisi, Risma harus sendiko dawuh terhadap gubernur. Di sisi lain ia harus melayani dan mendengarkan rakyatnya dengan baik.

Rakyat, termasuk OPD, yang baik adalah mereka yang mau membantu pimpinanya dengan memberikan solusi terhadap persoalan yang ada. Para pemerhati sejarah tidak hanya sekedar menolak terhadap perubahan nama jalan. Tapi mereka juga menawarkan beragam solusi. Mereka juga menawarkan langkah langkah dalam menjaga dan melestarikan nilai nilai kejuangan yang telah terpatri di kota Surabaya, khususnya di Gunungsari. Gagasan kreatif pun muncul. Yakni mendirikan sebuah tugu perjuangan MasTRIP di kawasan Gunungsari.

Keberadaan tugu Perjuangan MasTRIP ini menjadi visualisasi nilai nilai kesejarahan yang selama ini sudah terpatri di sana. Cuma, sayang sekali, tidak banyak warga kota yang mengetahui. Dengan sebuah tetenger yang berdiri di kawasan Gunungsari ini, maka akan semakin lengkap tetenger-tetenger kepahlawanan yang mewarnai Gunungsari. Ide pembangunan tugu perjuangan MasTRIP melengkapi keberadaan monumen Wira Surya Agung yang berdiri di sisi timur jalan Wonokromo. Patung pejuang yang dibuat oleh seniman Gunungsari - Surabaya, AH Gunapi Wibowo, menggambarkan pertahanan pejuang Surabaya di Wonokromo, sebelum mereka mundur ke selatan dan barat. Ke barat adalah ke Mojokerto yang melalui rute Gunungsari dan Gunungsari adalah titik terakhir pertahanan Surabaya.

Maka akan menjadi kelengkapan visualisasi sejarah Gunungsari dengan hadirnya sebuah tetenger yang menggambarkan perjuangan Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP). Benyamin Hilly, pengamat tata kota, gagasan pembangunan tugu perjuangan MasTRIP tidak hanya mempercantik dan menambah estetika di kawasan Gunungsari, tapi juga menambah identitas kepahlawanan Surabaya. Sebagai mantan pejabat pemerintah kota Surabaya, ia siap bersama-sama pemerhati sejarah kota bertemu walikota Surabaya untuk menjaga kota Pahlawan. (yos)

Berita Terkait


Mas TRIP Jatim dan Gubernur Jatim Bahas Perubahan Nama Jalan

Semangat Hijrah di Jalan Gunungsari dan Dinoyo.

Belajarlah Sejarah Agar Tidak Hilang Jati Dirimu

Diskusi Sejarah yang Mencerahkan


Perubahan Nama Jalan Tetap Berjalan dan Rapat Paripurna Diwarnai Walk Out

Tolak Perubahan Nama Jalan, Pejuang Veteran Ikut Geruduk Kantor Dewan

Tak Setuju Perubahan Nama Jalan, Begini Sikap Fatchul Muid

Menakar Polemik Perubahan Nama Jalan di Era Reformasi Birokrasi Pakde Karwo

Sponsored Content

loading...
Berita Utama Lihat Semua

Berita Terkini Lihat Semua

Berita Terpopuler Lihat Semua

Surabaya Raya Lihat Semua

Rehat Lihat Semua



Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber