Berita Terbaru :
Gelar Reses, Wakil Ketua DPRD Jatim Fokuskan Antisipasi Corona
Satu ASN Positif Corona, Kemenag Berlakukan Karantina Mandiri
Posko Terpadu Pemantauan Warga Pendatang Dioperasikan di Stasiun dan Terminal
Sebut Dokter RSNU Positif Corona, WA Bupati Tuban Langsung Jadi Viral
Warga Magetan Jaga Kawasan Tertib Physical Distancing
Pemkab Ngawi Hapus Tarikan Retribusi Pedagang Pasar
Petugas dan Tim Medis Diperintahkan Awasi Zona Merah
Gara-Gara Tagihan Listrik Warga Blitar Tewas Ditusuk
Penghadang Rombongan Bupati Tulungagung Diamankan Polisi
5 Hari Sudah Pencarian, Adelia Safitri Korban Hanyut Tak Ditemukan
Duh, Pohon Tumbang Timpa Mobil Parkir
Masuk Zona Merah, Akses Gerbang Tol Madiun Diperketat
Akses Jalan Jompo Secara Resmi Dibuka Kembali
Ratusan Santri Lirboyo Telah Tiba di Probolinggo
Kabupaten Madiun Menjadi Salah Satu Daerah Zona Merah di Jatim
   

Dolar AS Naik, Harga Kedelai Juga Ikut Naik
Ekonomi Dan Bisnis  Kamis, 06-09-2018 | 09:20 wib
Reporter : Nanda Andrianta
Surabaya pojokpitu.com, Nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah yang hingga hari ini masih tinggi rupanya turut memicu lonjakan harga kedelai. Di kampung tempe Jalan Sukomanunggal gang 1, Surabaya. Sebagian perajin tempe telah merasakan naiknya harga kedelai.

Naiknya harga komoditas pertanian, seperti kedelai yang menjadi bahan baku utama pembuatan tempe mulai dirasakan perajin tempe di kampung tempe Jalan Sukomanunggal gang 1, Surabaya. Salah satunya adalah Haji Mustakim, warga setempat yang sudah menjadi perajin tempe sejak tahun 1974.

Haji Mustakim setiap harinya mengolah kedelai-kedelainya bersama Umi, salah satu anak perempuannya. Melalui Umi, dirinya mengeluhkan harga kedelai import asal Amerika yang dibelinya dari distributor sudah mengalami kenaikan hingga hari ini sebesar Rp 8 ribu per kilogram. Padahal bulan lalu, kedelai import yang dibelinya masih berkisar Rp 7.400 per kilogram.

"Kenaikan harga kedelai itu bisa jadi imbas dari naiknya nilai tukar dolar Amerika terhadap rupiah," tutur Umi.

Sementara itu, Markuat, perajin tempe lainnya di kampung tempe menjelaskan, hingga hari ini dirinya belum merasakan kenaikan harga kedelai seperti yang sudah dirasakan Haji Mustakim. Namun, Markuat mengaku sudah menyiapkan trik jika nantinya kenaikan kedelai benar-benar dirasakannya, seperti memperkecil ukuran tempe, hingga menaikkan harga tempe.

Haji Mustakim maupun Markuat mengaku lebih suka menggunakan kedelai import adalah selain kualitasnya lebih bagus, stok kedelai import selalu ada, dibandingkan kedelai lokal yang stoknya minim.(end)

Berita Terkait

Dolar AS Naik, Harga Kedelai Juga Ikut Naik

Mahalnya Harga Kedelai Impor, Pengusaha Tempe Tahu Kurangi Ukuran
Berita Terpopuler
Ruas Jalan Protokol Sumenep Disemprot Menggunakan Damkar
Peristiwa  16 jam

Kurangi Resiko Tertular Covid-19 RS UMM Ciptakan APD
Pendidikan  15 jam

Relawan MBLC, Bersama-Sama Perangi Corona
Malang Raya  12 jam

Physical Distancing Diperluas, Cegat Kendaraan Masuk Kota Batu
Malang Raya  9 jam



Cuplikan Berita
Viral, Wakil Bupati Sidoarjo Ikut Memakamkan Pasien Positif Corona
Pojok Pitu

Seorang Dokter Sidoarjo Tertular Virus Covid 19, Satu Perawat PDP
Pojok Pitu

Gubernur Jatim Takziah ke Kediaman Ibunda Presiden Jokowi
Jatim Awan

Santri di Jombang Gelar Sholat Ghoib Ibunda Presiden
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber