Berita Terbaru :
BPCB Jatim Mulai Uji Coba Eskavasi Situs Kumitir Jatirejo
Polisi Tangkap Pencuri Motor Lengkap Dengan 7 Hasil Curian
Inspektorat Terjunkan 4 Tim Kejar Kutu Dalam Program BPNT
Pasukan Garuda Indonesia Mampu Akhiri Peperangan Antar Suku di Kongo
Lima Bulan Terakhir Jumlah Penderita HIV/Aids Bojonegoro Mencapai 39 Orang
TMMD Tulungagung Terapkan Protokol Kesehatan Selama Masa Pandemi Covid-19
Inovasi Batako Berbahan Dasar Abu Sisa Pembakaran Sampah
Menkes Serahkan Santunan Rp 300 Juta Kepada Nakes Gugur Covid 19
BMKG Instal Alat WRS Untuk Pemantauan Gempa Bumi atau Tsunami
Tradisi Nyadar, Ritual Penghormatan Petani Garam Digelar di Tengah Pandemi Covid-19
   

Kerajinan Kiso Daun Lontar Makin Diminati Pasar
Pantura  Minggu, 02-09-2018 | 21:18 wib
Reporter : Ahmad Zainuri, Harry Saktiono
harga jualnya berkisar Rp 1.500per biji. Foto: Ahmad Zainuri
Lamongan pojokpitu.com, Di tengah era modern kerajinan kiso dari daun lontar di Kabupaten Lamongan, masih bertahan. Kerajinan kiso yang merupakan tas ayam aduan itu, tetap banyak peminat meski banyak saingan produksi pabrik.

Disejumlah rumah warga Dusun Sidowayah, Desa Lawangan Agung, Kecamatan Sugio, Kabupaten Lamongan inilah, kiso daun lontar diproduksi.

Para pengrajin kiso ini adalah pewaris turun temurun, namun membuat kiso menjadi pekerjaan sampingan, dikala lahan pertanian warga tidak lagi bisa ditanami pada musim kemarau seperti saat ini.

Entah sudah generasi keberapa saat ini mereka mewarisinya. Bahkan, generasi penerusnya ini juga tidak tahu pasti, sejak kapan kerajinan kiso ada.

Sebagai daerah pegunungan kapur, bahan baku utama berupa daun lontar banyak ditemui di ladang mereka, sehingga pengrajin tidak perlu membeli bahan baku. Dalam sehari, pengrajin bisa menuntaskan 30 kiso, sedangkan harga jualnya berkisar Rp 1.500per biji.

Pengrajin Kiso, Rusianti, menjelaskan, selama ini kerajinan kiso daun lontar banyak diminati pasar. Pemasaran kerajinan kiso atau tas ayam aduan yang tak kalah dengan produksi pabrik ini, merambah pasar Bali, Surabaya dan Malang.

"Selain harganya murah, kwalitas dan bentuknya yang tradisonal menjadi daya tarik tersendiri bagi pembeli," jelas Rusianti.

Meskipun penghasilan dari kerajinan kiso ini terhitung sangat kecil, namun pengrajin tetap bertahan di era modern sebagai sumber pendapatan lain selain bercocok tanam. (yos)




Berita Terkait

Pemkab Wadahi 16 Sektor Bidang Kreatif di Bojonegoro

Pendiri Dusdukduk Bagi Kiat Sukses Industri Kreatif Kepada Anak Muda Surabaya

Kerajinan Kiso Daun Lontar Makin Diminati Pasar

Nanas Sortiran Dimanfaatkan Menjadi Minuman Berekonomis Tinggi
Berita Terpopuler
Tradisi Nyadar, Ritual Penghormatan Petani Garam Digelar di Tengah Pandemi Covi...selanjutnya
Life Style  9 jam

BMKG Instal Alat WRS Untuk Pemantauan Gempa Bumi atau Tsunami
Peristiwa  8 jam

Menkes Serahkan Santunan Rp 300 Juta Kepada Nakes Gugur Covid 19
Kesehatan  8 jam

Inovasi Batako Berbahan Dasar Abu Sisa Pembakaran Sampah
Teknologi  7 jam



Cuplikan Berita
Dua Kadis Terpapar Covid-19, Kantor Terpaksa Dilockdown
Pojok Pitu

Pemkot Surabaya Tepis Isu Pemecatan Kadis DKRTH Surabaya
Pojok Pitu

Diserang Tikus, Petani Ponorogo Resah
Jatim Awan

Rumah Pegawai Lapas Mojokerto Jadi Sasaran Pelemparan Bom Molotov
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber