Berita Terbaru :
Begini Cara Santri Ngaji di Ruang Isolasi
Orkemiban, Minuman Tinggi Anti Oksidan Berbahan Daun Kelor
Dalam Keadaan Mabuk, Sekelompok Pemuda Merusak Warung Kopi dan Aniaya Orang
Tiga Tersangka Pengedar Narkoba Diamankan Polisi
Menteri Kelautan Dan Perikanan Cabut Permen Nomer 56 Tentang Ekspor Benih Lobster
31 Kabupaten di Jawa Tmur Berpotensi Terjadi Kekeringan
Karena Diputus Pacar Terjadi Penculikan dan Penganiayaan
Maling Alat Alat Bengkel Dimassa
Tahun Ajaran Baru Akan Berlangsung Secara Virtual
Pemkab Akan Rapid Tes Seluruh Santri Gontor
Pasar Lumbung Pangan Target Menjangkau Ke 28 Kabupaten Kota di Jatim
Wakapolda Cek Perkembangan Covid 19 di Ponpes Gontor
Selama 14 Hari Terakhir Angka Kesembuhan Mencapai 2.150
JTV Mendapatkan Penghargaan dari KPID
Tukang Sopir Dealer Meninggal Secara Mendadak Di Kamar Mandi
   

Kekuasaan Vs Kebenaran atas Gunungsari dan Dinoyo
Opini  Sabtu, 01-09-2018 | 12:10 wib
Reporter : Nanang Purwono
Surabaya pojokpitu.com, Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas: Langit tujuh dan bumi tujuh di Telapak Tangan Allah Ar-Rahman, bagaikan sebutir biji sawi, yang diletakkan di tangan seseorang di antara kamu. Itulah kekuasaan Allah, yang diyakini oleh manusia sebagai mahluk yang beriman kepadaNya. Tidak ada yang bisa disangkal dari kekuasaan Allah. Sesungguhnya Allah adalah Zat yang Maha Kuasa atas segala yang ada di bumi dan alam semesta. Kekuasaan Allah tak terbatas.

Manusia memang memiliki kekuasaan. Tapi, kekuasaan manusia tidak ada apa apanya, bila dibanding dengan kekuasaan Tuhan. Kekuasaan manusia sangat terbatas. Di bidang pemerintahan, kekuasaan seseorang, misal sebagai gubernur, dibatasi hanya sampai dua periode atau dua kali pemilihan kepala daerah atau selama 10 tahun. Pun demikian dengan walikota, kekuasaannya berjalan seiring dengan jabatan yang diembannya. Yakni 10 tahun.

Namun, manusia dengan sifatnya yang serakah, kadang melebihi dari kapasitas kekuasaan yang diembannya dan akhirnya membuatnya menjadi sewenang-wenang. Menurut KBBI, pengertian serakah ini adalah selalu hendak memiliki lebih dari yang dimiliki. Sifat serakah ini jika diartikan secara umum adalah orang yang selalu merasa kekurangan, padahal dalam kenyataannya dia sudah lebih dari cukup (berkelebihan).

Akumulasi sifat inilah, yang kemudian mengalahkan akal sehat dan kebenaran. Apalagi yang dikalahkan ini adalah kebenaran yang diusung oleh kaum kawulo yang menghargai dan menjunjung tinggi nilai-nilai kepahlawanan dan kebangsaan. Jika dikaitkan dengan polemik perubahan sebagian nama jalan Gunungari dan Dinoyo di Surabaya, maka pro-dan-kontra yang ada sekarang bukan lagi pertentangan antar warga Surabaya, tapi sudah bergerak menjadi pertarungan antara pihak Pemerintah Propinsi Jawa Timur melawan pihak Paguyuban MasTRIP dan Komunitas Pemerhati Sejarah Kota Surabaya.

Pemprov melalui gubernur masih tetap pada pendiriannya, akan mengganti nama jalan. Sementara pihak Paguyuban MasTRIP, dengan beberapa komunitas pemerhati sejarah, menolak kebijakan itu. Dengan demikian, sumbunya sudah jelas. Yakni Pemprov Jawa Timur di sudut biru dan MasTRIP Jawa Timur di sudut merah. Serangkaian argumentasi pun sudah dibuat dan disampaikan untuk menanggapi sikap Pemprov Jatim, yang hingga saat ini tetap akan melakukan penggantian sebagian nama jalan di Gunungsari dan Dinoyo.

Sejumlah argumentasi, yang dibuat oleh MasTRIP Jawa Timur, sangat masuk akal. Mereka memiliki sumber sumber sejarah yang akurat dan otentik. Ada sumber tertulis (termasuk data topografi, ada sumber lisan berupa kesaksian dari pelaku sejarah hingga sumber benda. Bahkan argumentasi yang disampaikan tidak sekedar menolak, tapi sangat bersifat konstruktif. Ada tawaran-tawaran solusi dan alternatif untuk mewujudkan rekonsiliasi yang tidak mencederai (melukai) pihak lain. Sesungguhnya rekonsiliasi itu menyelesaikan masalah, bukan menimbulkan masalah.

Sumber-sumber tertulis ini menunjukkan buku buku dan literatur historis, yang isinya menceritakan peristiwa pertempuran Surababya di Gunungsari tahun 1945. Selain itu, secara literatur, bahwa nama jalan Gunungsari sudah ada sejak lama. Sejak dibukanya lapangan golf dengan nama Golf Club Soerabaia pada 1898, club ini sudah beralamat di jalan Gunungsari (Goenoengsariweg).

Lebih lanjut, alamat ini dikuatkan lagi melalui buku alamat resmi (NAAMLIJST), yang dikeluarkan Gemeente Soerabaia pada tahun 1935. Ditambah dengan data topografi berupa peta-peta tahun 1825, 1905, 1925, 1935, yang menunjukkan keberadaan jalan Gunungsari dari waktu ke waktu. Jalan Gunungsari membujur di tepi Kali Surabaya mulai dari daerah perbukitan Gunungsari di ujung barat hingga ke pertigaan jalan Wonokromo di ujung timur.

Saksi dan pelaku sejarah adalah sumber sejarah yang luar biasa. Usia mereka sudah senja. Soemanto, 90 tahun, adalah veteran Mas TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar) Jawa Timur. Moekari, 95 tahun, adalah veteran Polisi Istimewa. Mereka hanyalah dua veteran dari sejumlah (sedikit) veteran yang masih bisa bersaksi tentang historika Surabaya. Mereka bercerita berdasarkan pengalaman hidup.

Sedangkan benda-benda, yang menjadi bukti sejarah di Gunungsari, adalah serpihan persenjataan perang yang ditemukan di area perbukitan Gunungsari. Area perbukitan ini pernah dipakai sebagai pusat pertahanan pejuang-pejuang Surabaya. Tak heran jika di tempat ini banyak pejuang menjadi korban tewas. Empat diantaranya baru diketemukan ketika ada proyek bangunan di kawasan perbukitan Gunungsari.

Sebagai pengingat bagi generasi muda, maka di kawasan perbukitan ini dibangun sebuah monumen yang bernama Monumen Kancah Yudha Mas TRIP. Monumen ini diresmikan oleh Pangdam V/Brawijaya, Mayjend TNI Witarmin pada 7 Februari 1981.

Semua argumentasi di atas adalah kebenaran yang bersumber pada sumber-sumber sejarah mulai dari sumber tertulis, sumber lisan dan sumber benda. Dasar kesejarahan ini semakin menguatkan prinsip dalam mempertahankan nama jalan Gunungsari yang tidak sepatutnya diganti, meski sebagian kecil saja.

Berdasarkan alasan tersebut di atas, maka tidak ada alasan bagi pemerintah propinsi Jawa Timur untuk tetap bersikukuh mengganti sebagian nama jalan. Kecuali kekuasaan yang tamak itu mengalahkan kebenaran yang bersumber sejarah dan saksi-saksi. Jika ketamakan itu terjadi, maka insiden ini persis seperti yang diilustrasikan oleh Profesor Yusril Ihza Mahendra yang berbunyi "Segudang kecerdasan, kemampuan dan keteguhan memegang prinsip amatlah mudah dikalahkan oleh segenggam kekuasaan".

Sementara Yap Thiam Hien dalam bukunya "Negara, Ham dan Demokrasi" mengatakan: "Bagaimana pun kebenaran merupakan pisau yang sangat tajam. Ia dapat membedah sampai dalam dan menyakitkan. Kebohongan, kemunafikan, kesewenang wenangan dan kekejaman akan menjauhkan diri dari kebenaran". Disinilah kebenaran itu dikalahkan oleh kekuasaan. Semoga kebenaran di Jawa Timur tetap menjadi benar agar pemimpin dan rakyatnya selamat.(pul)





Berita Terkait

Masya Allah, Karangan Bunga Daeng Beta Seratusan. Iki Tanda Khofifah Wong Gedhe

Bertanam Durian di Desa Terpencil Lereng Gunung Wilis

Kekuasaan Vs Kebenaran atas Gunungsari dan Dinoyo

THE BEAUTY AND THE BEAST dalam Peringatan 17 Agustus 2018 di Kota Pahlawan Surabaya
Berita Terpopuler
Pemancing Tersangkut Karang, Lalu Digulung Ombak
Malang Raya  9 jam

Ini Patut Menjadi Perhatian, Biker Tewas Dilindas Truk
Peristiwa  9 jam

Pemkab Bondowoso Akan Bangun Rumah Janda Tua Makan Daun Talas
Rehat  10 jam

Strategi Tabung Haji Dan Umroh Ringankan Beban Jamaah Saat Pandemi COVID-19
Ekonomi Dan Bisnis  7 jam



Cuplikan Berita
Viral Hasil Tes Rapid Peserta UTBK Berubah
Pojok Pitu

Dokter dan Satpam Postif Covid 19, Puskesmas Wates Mojokerto Ditutup Sementara
Pojok Pitu

Delapan Terkena Corona, Membuat Ribuan Karyawan PT KTI Diliburkan
Jatim Awan

Ternyata Satu Tersangka Pengambilan Paksa Jenazah Positif Covid 19
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber