Beranda       Nasional       Internasional       Life Style       Olah Raga       Opini       Sorot
Opini 

"Sabdo Pandhito Ratu" Dalam Polemik Perubahan Nama Jalan
Selasa, 28-08-2018 | 18:31 wib
Oleh : Nanang Purwono
Surabaya pojokpitu.com, Saya terus mengikuti dan mengamati progres polemik perubahan sebagian nama jalan Gunungsari dan Dinoyo, yang akan diganti menjadi jalan Prabu Siliwangi dan jalan Sunda. Hingga saat ini, akhir bulan Agustus 2018, belum ada tanda-tanda akan dilakukannya peresmian perubahan nama jalan itu sebagai tindak lanjut dari serimonial Harmoni Budaya (6/3), yang melaunching "Rekonsiliasi Budaya Jawa Sunda". Seremonial Harmoni Budaya, yang diadakan di hotel Bumi Surabaya itu, dihadiri oleh gubnernur Jawa Timur Soekarwo (Pakde Karwo), gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (Aher), gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X dan disaksikan oleh Pangdam V/Brawijaya Mayor Jendral Arif Rachman.

Beberapa hari sebelum memasuki bulan Agustus lalu, sempat terdengar kabar yang santer bahwa peresmian perubahan nama jalan itu akan dilakukan pada 17 Agustus 2018. Akibatnya, Pansus yang dibentuk oleh DPRD Kota Surabaya untuk memberikan rekomendasi kepada Walikota Surabaya terkait dengan usulan perubahan sebagian nama jalan, terkesan mempercepat proses pembahasannya agar bisa selesai sebelum tanggal 17 Agustus 2018. Percepatan pembahasan di Pansus ini semakin kentara ketika unsur pimpinan dewan, Masduki Toha, hadir dalam rapat dan mengintimidasi anggota pansus agar menandatangani kesepakatan. Kata Masduki Toha, jika ada anggota pansus yang tidak tanda-tangan, mereka tidak boleh ikut kunjungan.

Akhirnya rapat paripurna pun digelar pada hari Sabtu, 11 Agustus 2018, dan hasilnya adalah pengesahan hasil pembahasan Pansus, yang sebelumnya sempat diserahkan ke Bamus terlebih dahulu karena ketua Pansus Abdul Muid mengundurkan diri. Ternyata hingga tanggal 17 Agustus 2018, kabar rencana peresmian perubahan nama jalan itu tidak terlaksana. Ada yang mengatakan bahwa peresmian perubahan nama jalan itu masih menunggu Perwali sebagai tindak lanjut dari hasil rapat paripurna dewan. Ada juga yang mengatakan bahwa mundurnya peresmian ini karena adanya penolakan dari keluarga veteran Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) dan pemerhati dan pegiat sejarah kota Surabaya. Mereka berargumen bahwa jalan Gunungsari dan Dinoyo menyimpan sejarah perjuangan arek arek Suroboyo.

Salah seorang veteran pejuang TRIP, Soemanto (90 thn), dalam sebuah ramah tamah Hari Kemerdekaan ke 73 di Grahadi, sempat bertemu dan meminta gubernur Jawa Timur Soekarwo agar tidak mengganti nama jalan Gunungsari. Menurutnya jalan Gunungsari itu sakral karena banyak teman-teman seperjuangannya yang tewas di palagan Gunungsari itu. Buktinya, di kawasan perbukitan Gunungsari, kini menjadi sebuah padang golf, terdapat monumen perjuangan Kancah Yudha Mas TRIP. Monumen ini dibangun dan diresmikan oleh Pangdam V/ Brawijaya, Mayjen TNI Witarmin pada 7 Februari 1981, sebagai penghormatan kepada para pejuang yang tewas di medan laga Gunungsari.

Sekarang, tanggal 17 Agustus 2018 sudah berlalu dan bahkan belum diketahui kabar mengenai kapan peresmian perubahan nama jalan itu dilakukan. Apakah perubahan nama jalan itu tetap berada di ruas jalan yang saat ini terus diprotes oleh Paguyuban Mas TRIP, Gerakan Peduli Rakyat Surabaya (GPRS), Komunitas Bambu Runcing Surabaya (KBRS), Surabaya Heritage Society (SHS), Sjarikat Peosaka Soerabaia (SPS) dan Roodebrug. Ataukah ada perubahan lokasi jalan, yang akan menjadi obyek perubahan nama jalan?.

Paguyuban Mas TRIP dan Komunitas Pemerhati dan Pegiat Sejarah Kota Surabaya terus intensif melakukan lobi-lobi untuk menyuarakan aspirasinya ke pihak pemerintah propinsi Jawa Timur. Bahkan Pengurus Pusat Paguyuban Mas TRIP, yang ada di Jakarta, sudah melayangkan surat kepada dua kementrian, yakni Kementerian Sekretaris Negara (Setneg) dan kementerian Dalam Negeri (kemendagri) dengan tembusan ke pemerintah Propinsi Jawa Timur. Berbagai saran disampaikan untuk menyelesaikan polemik ini. Di antaranya adalah usulan obyek jalan untuk dinamakan menjadi jalan Prabu Siliwangi dan jalan Sunda.

Obyek jalan pertama yang diusulkan adalah jalan Joyoboyo. Jalan Joyoboyo sebagai pengganti jalan Gunungsari untuk selanjutnya diganti menjadi jalan Prabu Siliwangi. Pertimbangan historisnya adalah jalan Joyoboyo ini adalah nama jalan baru. Sebelum bernama jalan Joyoboyo, jalan yang masih relatif dekat dengan komplek militer Kodam V/Brawijaya ini, bernama O.J.S. Laan. Yaitu jalan O.J.S. O.J.S. adalah singkatan dari Oost Java Stoomtraam Mascahhpij atau Jawatan Kereta Uap Jawa Timur, yang kantornya ada di jalan tersebut. Karena ada nasionalisasi pada pasca kemerdekaan (tahun 1950-an), maka nama yang berbau Belanda seperti O.J.S.Laan diganti menjadi nama yang berbau Indonesia. Maka dipilihlah nama Joyoboyo dan jadilah jalan Jooyoboyo.

Sementara Goenoengsariweg, yang ada di sebelah selatannya, tetap bernama jalan Gunungsari. Yang berubah hanyalah ejaan penulisan, dari ejaan lama (Goenoengsariweg) menjadi ejaan baru (jalan Gunungsari). Ketika pemerintah Belanda memberi nama jalan baru menjadi O.J.S. Laan, mereka tidak merubah nama jalan Gunungsari (Goenoengsariweg), yang sudah ada sebelumnya. Apalagi, secara historis, jalan Gunungsari ini menjadi rute mundurnya pertahanan kota Surabaya karena diserang oleh tentara Sekutu.

Obyek jalan kedua yang diusulkan adalah jalan Jawa. Jalan Jawa sebagai pengganti jalan Dinoyo untuk kemudian diganti menjadi jalan Sunda. Jalan Jawa ini menempati dua ruas, yang dipisahkan oleh jalan Raya Gubeng. Ada ruas sebelah barat dan ruas sebelah timur. Jalan Jawa pada ruas barat lebih pendek dibandingkan pada ruas timur. Jalan Jawa ruas barat inilah, yang pantas disemati jalan Sunda. Posisi di barat juga sebagai petunjuk lokasi geografis, dimana letak Sunda memang berada di sebelah barat dari Surabaya.

Maka jalan Sunda dan jalan Jawa, secara etnis, sangatlah pantas dan serasi. Nama Sunda tidak serasi jika disematkan pada jalan Dinoyo, mengingat disana adalah kumpulan nama-nama kerajaan nusantara. Apalagi di daerah Dinoyo itu sudah nama kerajaan Pajajaran yang mewakili kehadiran Pasundan. Jalan Pajajaran sudah lama bersama jalan Majapahit di daerah Dinoyo. Sementara di Gubeng, saatnya ada Jalan Sunda, yang bisa bersanding dengan Jalan Jawa.

Itulah usulan sebagai bentuk penolakan yang bertanggungjawab, masih mau memikirkan solusi demi kabaikan semua. Semoga usulan usulan dan solusi yang ditawarkan oleh pihak penolak dapat ditanggapi secara bijak dan dipertimbangkan secara masak oleh pemerintah propinsi Jawa Timur. Bisa saja Gubernur Jawa Timur merasa malu terhadap mitranya di Jawa Barat dan DIY karena nama Majapahit dan Gajah Mada sudah bertengger di Bandung.

Namun, koreksi dan ralat terhadap obyek pemilihan jalan akan bisa mengurangi rasa malu yang berkepanjangan jika nama Prabu Siliwangi dan Sunda itu tetap disematkan pada obyek jalan Gunungari dan Dinoyo. Jangan sampai rekonsiliasi yang memiliki maksud baik ini justru akan mencederai sejarah lokal, meninggalkan luka bagi veteran pejuang bangsa termasuk warga kota Pahlawan. Maka, meralat demi kebaikan akan lebih mulia daripada mensinggasanakan kekurangan hanya karena malu. Istilah "Sabdo Pandhito Ratu" hendaknya tidak menjadi tameng untuk perubahan yang lebih baik untuk semua.

Berita Terkait


Keluarga Bung Tomo Tolak Perpindahan Nama Jalan Bung Tomo

Tirulah penamaan Jl. Stasiun kota, Jl. Stasiun wonokromo dan Jl. Smea

Kuatkan Kota Pahlawan, Pemkot Surabaya Ajukan Perubahan Nama Sejumlah Jalan

Jalan Prabu Siliwangi dan Sunda Resmi Gantikan Jalan Gunungsari dan Dinoyo


Diwarnai Aksi WO, Perubahan Nama Jalan Gunungsari dan Dinoyo Disahkan

Perubahan Nama Jalan Tetap Berjalan dan Rapat Paripurna Diwarnai Walk Out

Tolak Perubahan Nama Jalan, Pejuang Veteran Ikut Geruduk Kantor Dewan

Paguyuban Mas Trip Jawa Timur P.D. Surabaya Tolak Pergantian Nama Jalan Gunung Sari

Sponsored Content

loading...
Berita Utama Lihat Semua

Berita Terkini Lihat Semua

Berita Terpopuler Lihat Semua

Surabaya Raya Lihat Semua

Rehat Lihat Semua



Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber