Beranda       Nasional       Internasional       Life Style       Olah Raga       Opini       Sorot
Opini 

Tempat Terhormat Buat Jalan Sunda dan Prabu Siliwangi
Jum'at, 24-08-2018 | 15:35 wib
Oleh : Nanang Purwono
Surabaya pojokpitu.com, Nama dan kata Curabhaya, kini Surabaya, pernah muncul dalam sebuah prasasti kuno, yang berangka 1350 di era kerajaan Majapahit, khususnya di bawah raja Hayam Wuruk. Sebelumnya, kata Curabhaya ini pernah digunakan oleh Raden Wijaya di akhir abad 13 untuk penyebutan sifat para prajuritnya serta rakyat desa Kudadu, yang berhasil mengusir bala tentara Tartar dari Mongol (1293). Di mata Raden Wijaya, para pengikutnya ini terbilang sangat berani dan tangguh dalam menghadapi musuh (bahaya). Sifat berani menghadapi bahaya inilah, yang disebut ?Curabhaya? oleh Raden Wijaya. Dengan kata lain, Raden Wijaya menyebut prajurit dan pengikutnya Curabhaya. Yakni prajurit yang berani menghadapi bahaya atau tantangan.

Jika dibandingkan dengan sekarang, sifat berani menghadapi bahaya atau Surabaya ini tidak ubahnya dengan sifat bonek.  Kependekan dari "Bondho Nekad" atau berbekal keberanian total. Jika arek arek Suroboyo sekarang berjuluk BONEK, maka sama halnya dulu penduduk desa Kudadu atau prajurit Raden Wijaya yang berjuluk SURABAYA. Ringkasnya Surabaya itu sama dengan Bonek. Atau Bonek itu Surabaya. Maka Bonek dan Surabaya bagai sebuah mata uang koin yang bersisi dua. Berbeda wujud, bentuk dan gambar tapi bernilai nominal sama.

Istilah Bonek, seperti yang kita tau sekarang, adalah sebutan untuk suporter klub sepak bola Surabaya, Persebaya. Bonek (bondo nekad) sesungguhnya adalah kata sifat yang tersematkan pada suporter Persebaya. Selanjutnya kata sifat "bonek" ini menjadi kata benda, yang menunjukkan para suporter Persebaya.

Bonek dulu berbeda dengan bonek sekarang. Kenekadan yang dulu berbeda dengan kenekadan sekarang. Dulu asal berani. Kini berani yang bertanggungjawab. Dulu tanpa tiket bisa nonton bola. Kini tanpa tiket tidak bisa nonton bola. Maka slogan "no ticket no game" menjadi petuah untuk bisa nonton bola. Bonek malu nonton bola tanpa tiket. Kini Bonek juga sangat ramah keluarga dan perempuan. Pertandingan sepak bola pun menjadi ajang rekreasi sehat bagi keluarga. Pertandingan sepak bola, terlebih ketika Persebaya berlaga, menjadi hiburan keluarga Surabaya.

Dinamika persepakbolaan pun semakin dinamis. Tidak hanya mereka yang merumput di lapangan hijau, mereka yang berpagar tribun pun menjadi cerita persepak bolaan nasional. Pertandingan dan penyelenggaraan sepak bola tidak lepas dari keberadaan suporter sebagai penonton. Semakin banyak penonton, sukses penyelenggaraan semakin kentara.

Konon penonton, yang umumnya adalah supoter dari tim yang berlaga, ada yang terbilang kawan dan ada pula yang lawan. Bonek, suporter Persebaya - Surabaya dan Viking, suporter Persib-Bandung adalah potret kawan. Kekerabatan dan persaudaraan Bonek - Viking sudah tidak bisa disangsikan. Mereka, Bonek- Viking, bersaudara dalam satu jiwa dan satu nyali.

Hubungan harmonis Bonek - VIking sesungguhnya menjadi simbol hubungan sosial budaya yang serasi antara Jawa dan Sunda. Kehadiran Viking di surabaya diperlakukan bak raja. Begitu pula sebaliknya, kedatangan Bonek di Bandung juga disambut bagai saudara kandung. Keduanya menjadi simbol persaudaraan yang kental. Tanpa ada proyek Rekonsiliasi seperti yang digagas pimpinan propinsi Jawa Timur dan Jawa Barat pun, persaudaraan Jawa- Sunda sudah berjalan secara alami.

Bahkan perkawinan campuran adat Jawa dan Sunda sudah menjadi bagian dari dari kedua etnis selama bertahun tahun. Banyak contoh perkawinan campuran antara adat Jawa dan Sunda. Bahkan sanak keluarga penulis ada yang menikah dengan warga etnis Sunda. Mereka hidup bahagia. Kalau toh ada kerikil kerikil tajam dalam kehidupan rumah tangga, itu adalah hal yang biasa dan lumrah karena bisa terjadi kepada siapa saja yang beretnis apa saja.

Pro dan kontra terhadap perubahan nama jalan di Surabaya selama ini bukanlah pada persoalan tolak menolak yang berbau etnis, berbau Pasundan. Tapi lebih kepada persoalan internal kota Surabaya dan pemerintah propinsi Jawa Timur, yang kurang arif dan bijaksana dalam memilih ruas jalan yang akan diganti namanya.

Kalau toh ada pihak pihak yang kontra dan menolak perubahan nama jalan, itu lebih kepada alasan sejarah dan nilai kearifan lokal yang ada pada jalan itu. Yaitu jalan Gunungsari dan jalan Dinoyo. Di kedua jalan ini memiliki catatan bersejarah yang terkait dengan kronologi peristiwa pertempuran Surabaya tahun 1945. Karenanya, yang memprotes dan menolak, adalah keluarga para pejuang yang tergabung dalam Paguyuban Mas TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar). Penolakan juga dilakukan oleh beberapa komunitas pegiat dan pemerhati sejarah Surabaya.

Penulis, sebagai bagian dari warga kota Pahlawan yang peduli terhadap sejarah kotanya juga sebagai bagian dari warga yang bangga terhadap klub sepak bolanya-Persebaya, merasa terpanggil untuk berkontribusi terhadap penyelesaian persoalan perubahan nama jalan ini. Bersama sama dengan kelompok pemerhati sejarah kota, penulis mengusulkan jalan lain yang sangat layak dan terhormat untuk disemati nama Prabu Siliwangi dan Sunda sebagai penghargaan persaudaraan buat Viking.

Kedua jalan alternatif itu adalah jalan Joyoboyo untuk jalan Prabu Siliwangi dan jalan Jawa (ruas barat) untuk jalan Sunda. Saat ini penggantian nama jalan yang dipersoalkan adalah jalan Gunungsari dan Dinoyo. Mengingat alasan historis dan kearifan lokal yang harus dijunjung dan dihormati, maka jalan Joyoboyo yang keberadaannya berdekatan dengan jalan Gunungsari bisa jadi alternatif. Malah posisi jalan Joyoboyo jauh lebih strategis dibandingkan dengan ruas jalan Gunungsari yang akan dipotong. Dengan mengganti jalan Joyoboyo, maka nama jalan Prabu Siliwangi akan mudah dikenal publik karena lokasinya yang berada di tempat strategis. Yaitu terminal Joyoboyo.

Sedangkan sebagai pengganti jalan Dinoyo adalah jalan Jawa di daerah Gubeng. Kawasan Gubeng menjadi tempat, yang terhormat dan layak buat nama Sunda. Gubeng adalah kawasan elit dan nama Sunda bisa langsung tersambung dengan nama jalan Jawa.

Jalan Jawa di kawasan Gubeng ini ada dua ruas. Ada ruas sebelah timur. Kemudian ada ruas sebelah barat. Kedua ruas jalan Jawa ini dipisah oleh jalan Raya Gubeng. Jalan Jawa ruas barat lebih pendek dibandingkan ruas jalan Jawa sebelah timur. Maka ruas yang manakah yang bisa diganti menjadi jalan Sunda. Jawabannya adalah jalan Jawa ruas barat. Posisi barat ini sekaligus untuk menunjukkan posisi geografis Sunda di pulau Jawa yang terletak di sebelah barat dari Jawa Timur.

Maka pantaslah jika Jalan Prabu Siliwangi itu bertempat dan sekaligus menggantikan jalan Joyoboyo. Sedangkan jalan Sunda bertempat dan menggantikan jalan Jawa sebelah barat. Kedua tempat ini sangat pas untuk singgasana baru Prabu Siliwangi dan Sunda karena kedua tempat itu strategis dan elit. Surabaya dan Bonek tentu akan ikut merasa senang karena bisa menampatkan saudaranya di tempat yang pantas dan terhormat. Bukan di tempat yang menimbulkan sengketa dan luka. (yos)

Berita Terkait


Tirulah penamaan Jl. Stasiun kota, Jl. Stasiun wonokromo dan Jl. Smea

Mas TRIP Jatim dan Gubernur Jatim Bahas Perubahan Nama Jalan

Semangat Hijrah di Jalan Gunungsari dan Dinoyo.

Belajarlah Sejarah Agar Tidak Hilang Jati Dirimu


Perubahan Nama Jalan Tetap Berjalan dan Rapat Paripurna Diwarnai Walk Out

Tolak Perubahan Nama Jalan, Pejuang Veteran Ikut Geruduk Kantor Dewan

Tak Setuju Perubahan Nama Jalan, Begini Sikap Fatchul Muid

Menakar Polemik Perubahan Nama Jalan di Era Reformasi Birokrasi Pakde Karwo

Sponsored Content

loading...
Berita Utama Lihat Semua

Berita Terkini Lihat Semua

Berita Terpopuler Lihat Semua

Surabaya Raya Lihat Semua

Rehat Lihat Semua



Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber