Beranda       Nasional       Internasional       Life Style       Olah Raga       Opini       Sorot
Opini 

Jalan Gunungsari
Rabu, 22-08-2018 | 18:59 wib
Oleh : Nanang Purwono
Surabaya pojokpitu.com, Ada hal menarik terjadi dalam suasana ramah tamah Hari Kemerdekaan RI di gedung negara Grahadi, Surabaya pada 17 Agustus 2018. Ketika gubernur Jawa Timur Soekarwo dengan gembira dan suka cita menerima jabat tangan dari para undangan usai upacara, tiba tiba seorang veteran perang Surabya datang dan menghampiri Soekarwo dengan tertatih-tatih. Namanya Soemanto, veteran Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) Jawa Timur.

Sumanto, yang saat itu didampingi oleh putera puteri veteran yang tergabung dalam Paguyuban Mas TRIP Jatim, mengucapkan selamat kepada gubernur dan dilanjutkan dengan permintaan kepada gubernur Soekarwo agar membatalkan rencana pemerintah propinsi Jawa Timur yang akan merubah sebagian nama jalan Gunungsari menjadi jalan Prabu Siliwangi.

Mendengar permintaan Soemanto yang tiba-tiba itu, Soekarwo spontan menjelaskan bahwa nama jalan Gunungsari lama tetap ada, tidak diganti. Yang diganti adalah nama jalan Gunungsari yang berada di sebelah barat pertigaan jalan Gajah Mada. Menurut Soekarwo, pada ruas itu dulunya belum bernama jalan Gunungsari dan belum berpenduduk, karenanya nama jalan Prabu Siliwangi bisa disematkan pada ruas ini.

Soemanto tidak puas mendengar jawaban gubernur yang tetap akan merubah nama jalan Gunungsari menjadi jalan Prabu Siliwangi, meski sebagian. "Jalan Gunungsari jangan diutik-utik. Jalan Gunungsari itu sakral", begitu ucapan Soemanto ketika meninggalkan gubernur. Soemanto adalah saksi hidup pertempuran Surabaya di front Gunungsari. Sepengetaahuan dia, ketika pecah pertempuran Surabaya di Gunungsari, jalan memanjang ke barat di tepi Kali Surabaya ini bernama jalan Gunungsari, yang kala itu masih bernama Goenoengsariweg.

Mendengar jawaban Pakde Karwo yang mengatakan bahwa ruas jalan Gunungsari, yang memanjang di sebelah timur pertigaan jalan Gajah Mada, adalah jalan Gunungsari "lama" dan ruas jalan, yang berada di sebelah barat pertigaan Gajah Mada, adalah jalan Gunungsari "baru", membuat saya ingin bongkar-bongkar data untuk mencari kebenaran adanya jalan Gunungsari "lama" dan Gunungsari "baru" seperti yang disampaikan Pakde Karwo kepada Soemanto dan kemudian dikutip oleh banyak media masa.

Dalam hati, saya berkata, jika Pakde bisa mengistilahkan "lama" dan "baru", tentu beliau punya data timeline sejak kapan status "lama" itu ada dan mulai kapan status "baru" itu terbentuk. Inilah yang membuat saya penasaran dan akhirnya harus mencari jawaban-jawaban sendiri.

Jika menyimak sebuah peta Surabaya lama yang berangka 1825, nama-nama yang tercantum disana belumlah nama jalan, tetapi masih nama nama dusun dan kampung yang umumnya berdiri di daerah aliran sungai. Di kawasan Gunungsari sekarang, dulunya pernah ada dusun Djadjar Sanga, dusun Djagalaga, dusun Gunungsari, dusun Ngasem, dusun Pasoeroehan, dusun Tegalsari dan dusun Panjunan. Meski saat itu sudah ada jalan yang memanjang di tepi kali, tapi jalan belum bernama.

Lantas pada peta Surabaya yang berangka tahun 1925, di kawasan yang sama, tapi lebih ke arah timur (sekitar Joyoboyo sekarang), sudah terlihat penamaan jalan. Misal jalan di tepi kali, yang awalnya belum bernama, pada peta 1925 sudah tertulis Goenoengsariweg (jalan Gunungsari) dan OJS Laan (jalan Joyoboyo). Kemudian pada peta yang lebih tua (1905), di kawasan lapangan Yani Golf sekarang, pada tahun 1905 sudah terlihat ilustrasi bangunan yang tidak lain adalah Club House dari Golf Club Soerabaia (sekarang jadi Yani Golf).

Golf Club Soerabaia, yang dibuka tahun 1898 ini, beralamat di Goenoengsariweg (jalan Gunungsari) dan keberadaan alamat ini diperkuat dengan ditulisnya alamat Goenoengsariweg pada buku alamat resmi yang dikeluarkan pemerintah kota Surabaya tahun 1935. (NAAMLIJST: Wegen, Straten, Pleinen, Kampongs, Scholen, Kerken, Passers en Openbare Gebouwen in de GEMEENTE SOERABAIA 1935). Golf Club Soerabaia ditulis beralamat di Goenoengsariweg.

Yang menarik ketika penamaan jalan dibuat dan selanjutnya dibubuhkan pada peta, jalan jalan lama yang sudah ada (sebelum Belanda datang) diberi nama nama lokal yang diambil dari nama kampung atau dusun terdekat dan penting. Misalnya jalan yang memanjang di tepi Kali Suarabaya diberi nama Goenoengsariweg (jalan Gunungsari). Nama yang berearifan lokal lainnya adalah jalan Dinojo, yang diambilkan dari nama kampung Dinoyo di sebelahnya.

Sementara jalan-jalan, yang baru dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda di Surabaya, diberi nama-nama yang berbau Belanda. Misal di daerah Joyoboyo pernah terdapat nama O.J.S. Laan, yang sekarang menjadi jalan Joyoboyo. O.J.S. adalah singkatan dari Oost Java Stoomtram Maastchappij. Yaitu Maskapai Kereta Uap Jawa Timur. O.J.S. Laan (jalan Joyoboyo) adalah jalan yang dibuat oleh pemerintah Hindia Belanda di Surabaya. Jalan jalan buatan Belanda lainnya (di sekitar Dinoyo) di antaranya adalah Van Imhoflaan, Van Den Boschlaan, Coen Boulevard, Loudonstraat dan Baudstraat.

Dengan membaca data topografi yang dibuat di jaman pemerintahan Hindia Belanda, kita jadi tau bahwa keberadaan jalan Gunungsari (Goenoengsariweg) sudah dikenal sejak tahun 1898 ketika lapangan golf (Golf Club Soerabaia) dibuka. Kemudian secara resmi nama jalan Goenoengsariweg juga sudah tercantum pada buku alamat Gemeente Soerabaia pada tahun 1935. Padahal ruas jalan Gunungsari "baru", yang dimaksud Pakde Karwo (yakni dari batas pertigaan jalan Gajam Mada - hingga depan perbukitan Gunungsari) memang belum ada bangunan kala itu. Kecuali di padang golf Soerabaia.

Berbeda dengan ruas jalan Gunungsari, yang berada di sekitar O.J.S. Laan (Joyoboyo) hingga pertigaan jalan Gajah Mada, di ruas ini memang sudah ada beberapa bangunan kantor, seperti kantor OJS dan kantor militer. Mungkin, karena sudah ada beberapa bangunan di ruas jalan ini, Pakde Karwo lantas berpendapat bahwa jalan itu adalah jalan Gunungsari "lama". Lantas, ruas jalan Gunungsari yang di sebelah barat (barat dari pertigaan jalan Gajah Mada) yang kala itu, sebelum tahun 1940-an, dengan serta merta dikatakan jalan Gunungsari  "baru".

Nah, sekarang kembali lagi ke pertanyaan saya di awal mengenai jalan Gunungsari "lama" dan jalan Gungungsari "baru", "sejak kapan status "lama" itu ada, dan mulai kapan status "baru" itu terbentuk?", sehingga menjadi dasar pertimbangan gubernur Jawa Timur memperbolehkan pergantian nama di ruas yang dianggap baru atau yang sebelumnya belum berpenduduk. (yos)

Berita Terkait


Jalan Gunungsari


Sponsored Content

loading...
Berita Utama Lihat Semua

Berita Terkini Lihat Semua

Berita Terpopuler Lihat Semua

Surabaya Raya Lihat Semua

Rehat Lihat Semua



Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber