Beranda       Nasional       Internasional       Life Style       Olah Raga       Opini       Sorot
Opini 

Paguyuban Mas TRIP Jatim Tolak Hasil Paripurna DPRD Surabaya
Senin, 13-08-2018 | 12:03 wib
Oleh : Nanang Purwono
Surabaya pojokpitu.com, Tidak salah dan tidak heran kalau Paguyuban Mas TRIP Jawa Timur PD. Surabaya menolak hasil putusan rapat paripurna DPRD Surabaya yang mengesahkan perubahan sebagian nama jalan (Dinoyo dan Gunungsari). Menurut Biro Hukum Mas TRIP Surabaya, Enny Wardhani, jalan Gunungsari adalah saksi sejarah perlawanan pejuang Surabaya, termasuk Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) Surabaya kala itu. Mereka mempertahankan kota dari desakan Sekutu sebelum tentara Sekutu berhasil menguasai kota Surabaya.

Jalan Gunungsari dan Dinoyo adalah lembar sejarah yang tidak boleh disobek, dihilangkan dari buku sejarah kota Surabaya. Menyobek secuil halaman buku sejarah itu, berarti menghapus dan menghilangkan catatan kesejarahan penting dari kota pahlawan Surabaya. Karenanya, sebagai penerus elemen perjuangan penting Surabaya, Paguyuban Mas TRIP PD Surabaya tidak puas dengan hasil rapat paripurna DPRD Surabaya pada Sabtu, 11 Agustus 2018. Meskipun dari hasil rapat paripurna kemarin telah ada ralat tentang ruas jalan yang terdampak oleh rencana perubahan nama jalan.

Ruas jalan Gunungsari, sebagaimana tersebut dalam laporan pansus yang dibacakan dalam forum terhormat rapat paripurna, bahwa ruas terdampak adalah ruas jalan yang tidak berpenduduk. Artinya di ruas jalan yang akan diganti namanya menjadi jalan Prabu Siliwangi itu tidak ada rumah penduduk. Ruas yang terdampak ini lokasinya ada di pinggir kali. Yaitu jika diukur dari barat, batasnya ada pada kaki jalan tol dan pada batas timur berada di jembatan rolak Gunungsari.

Sedangkan ruas jalan, yang diwacanakan sebelumnya, diukur mulai pertigaan Joyoboyo (batas timur) hingga rolak Gunungsari (batas barat). Di ruas jalan itu memang banyak dihuni penduduk. Kini dengan ruas jalan yang baru sebagaimana dicatat dalam nota laporan pansus yang dibacakan dalam rapat paripurna (11/8) oleh wakil ketua pansus Dyah Katarina bahwa warga Gunungsari di RW 8 ini tidak perlu cemas dengan surat surat dan dokumen yang dimilikinya. Mereka tidak perlu lagi bersusah payah mengurus. Tidak ada yang perlu diurus karena wacana perubahan pada ruas jalan itu sudah dibatalkan.

Meski begitu, bagi keluarga besar veteran Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) Surabaya, penggantian secuil ruas jalan yang tidak berpenduduk ini  masih menjadi bagian dari jalan yang bersejarah. Memang tidak berpenduduk, tapi masih bersejarah. Karenanya dengan alasan apapun, ruas jalan ini tidak boleh dihilangkan, dipotong, dipenggal atau dimutilasi yang mengatas namakan rekonsiliasi budaya. Justru sebaliknya, upaya penggantian nama pada ruas itu melahirkan konflik yang melukai sejarah kota Pahlawan, melukai hati keluarga para veteran TRIP, melukai hati warga kota Surabaya yang menghargai sejarah lokalnya.

Hasil rapat paripurna memang menyatakan bahwa jalan yang membujur di depan properti hotel Singasana dan Yani Golf akan diberi nama jalan Gunungsari sebagai ganti dari hilangnya jalan Gunungsari yang terpenggal, tapi mengapa tidak jalan yang itu saja (yang belum ada namanya) yang diberi nama jalan Prabu Siliwangi. Mengapa harus memotong jalan Gunungsari. Itulah sederetan pertanyaan logis yang keluar dari pikiran pikiran sehat warga kota. Warga kota, terlebih pemerhati sejarah dan keluarga veteran TRIP tidak bodoh dan tidak bisa diakali. Maka sangat lucunya cara cara yang diambil yang mengatas namakan rekonsiliasi.

Rekonsiliasi tidak boleh dibuat main main. Rekonsiliasi tidak boleh dibuat panggung sandiwara. Rekonsiliasi tidak boleh dibuat instant. Rekonsiliasi harus dibuat serius. Rekonsiliasi harus dimaknai sebagai upaya membangun hubungan budaya yang lebih baik yang berkelanjutan. Rekonsiliasi harus bisa menjadi panggung ekspresi kerjasama antar budaya sekaramg dan selama lamanya. Karenanya, rekonsiliasi harus dipikirkan dengan seksama yang melibatkan dua unsur budaya, Jawa - Sunda.

Saya yakin bila rekonsiliasi itu terkonsep tidak instant, melainkan berkelanjutan, tidak hanya warga dan seniman Jawa Timur dan Jawa Barat saja yang bersukai ria. Warga Daerah Istimewa Jogjakarta dan Jawa Tengah akan menyambut gembira wadah kerjasama di bidang budaya ini.

Berangkat dari pemikiran dasar yang berkewarasan seperti terurai di atas, Paguyuban Mas TRIP Surabaya, beserta elemen kota lainnya seperri Surabaya Heritage Society, Sjarikat Poesaka Soerabaja (SPS), GBRS dan warga lainnya yang masih peduli, menolak hasil rapat paripurna DPRD Surabaya. Mereka akan melakukan gugatan hukum. Selain itu mereka juga akan meminta pemerintah kota Surabaya dan pemerintah Jawa Timur untuk membatalkan  rencana  penggantian nama sebagian ruas jalan di Dinoyo dan Gunungsari sebagaimana telah diputuskan dalam rapat Paripurna DPRD Surabaya.

Masih ada cara cara yang terhormat dan ramah sejarah yang bisa dilakukan untuk menggambarkan rekonsiliasi. Bukan mengganti nama jalan di jalan yang bersejarah bagi kota Surabaya. Masih ada jalan jalan lain yang bisa disemati dengan nama jalan Prabu Siliwangi dan jalan Sunda. Atau bisa saja membuat taman rekonsiliasi yang kelak bisa menjadi panggung terbuka untuk kolaborasi seni budaya Jawa Sunda. (yos)

Berita Terkait


Tirulah penamaan Jl. Stasiun kota, Jl. Stasiun wonokromo dan Jl. Smea

Mas TRIP Jatim dan Gubernur Jatim Bahas Perubahan Nama Jalan

Semangat Hijrah di Jalan Gunungsari dan Dinoyo.

Belajarlah Sejarah Agar Tidak Hilang Jati Dirimu


Perubahan Nama Jalan Tetap Berjalan dan Rapat Paripurna Diwarnai Walk Out

Tolak Perubahan Nama Jalan, Pejuang Veteran Ikut Geruduk Kantor Dewan

Tak Setuju Perubahan Nama Jalan, Begini Sikap Fatchul Muid

Menakar Polemik Perubahan Nama Jalan di Era Reformasi Birokrasi Pakde Karwo

Sponsored Content

loading...
Berita Utama Lihat Semua

Berita Terkini Lihat Semua

Berita Terpopuler Lihat Semua

Surabaya Raya Lihat Semua

Rehat Lihat Semua



Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber