Beranda       Nasional       Internasional       Life Style       Olah Raga       Opini       Sorot
Opini 

PENULIS: NANANG PURWONO Penggiat dan Pemerhati Sejarah
Malu Bertanya Sesat di Jalan, Malu Meralat Sesat di Akhirat
Sabtu, 11-08-2018 | 10:04 wib
Oleh : Nanang Purwono
Surabaya pojokpitu.com, Sebuah Renungan Dalam Polemik Perubahan Nama Jalan di Surabaya.

Sebait "Kata-kata mutiara" di atas menjadi pengingat bagi kita agar selamat di dunia dan di akhirat. Bertanya memang sepele. Bahkan banyak yang meremehkan. Apalagi sekarang, ketika teknologi informasi bertambah canggih. Dengan menggunakan aplikasi map and navigation pada smartphone, si pengguna bisa sampai tujuan tanpa harus bertanya kepada orang lain. Sayang, cara moderen ini dianggap menurunkan kadar kontak sosial seseorang, yang telah terlahir sebagai mahluk sosial. Karenanya, bertanyalah kepada sesama agar senantiasa terjaga rasa kesetiakawanan sosial.

Meski sebagai mahluk sosial, yang urusannya tidak lepas dari urusan-urusan duniawi, seseorang diberi akal sehat oleh Tuhannya agar bisa memilih dan memilah mana yang baik dan yang tidak baik. Konon, akal sehat saja juga tidak cukup untuk sebuah pilihan yang tepat. Maka masih akan dibutuhkan lagi hati nurani yang merakyat agar pilihan  menjadi akurat.

Karenanya perlu ada keseimbangan antara kebutuhan duniawi dan akhirat bagi seseorang. Terlebih bagi pejabat dan pembuat kebijakan di suatu daerah. Jika sebuah kebijakan dibuat, yang kemudian tidak membawa manfaat bagi umat, maka sesungguhnya, siapa pun pejabatnya, bisa dianggap salah jalan dan harus mempertanggung jawabkannya kelak di akhirat. Maklum, menjadi seorang pejabat publik terlebih dahulu harus disumpah menurut agama dan kepercayaannya masing-masing.

Dalam hal memutuskan perubahan nama jalan pada sebagian ruas jalan Gunungsari dan Dinoyo di Surabaya, seharusnya dipertimbangkan terlebih dahulu dengan seksama dampak buruknya terhadap warga terdampak. Seperti diketahui bahwa ide perubahan nama jalan Gunungsari dan Dinoyo berasal dari pemerintah propinsi Jawa Timur, kemudian diturunkan ke pemerintah kota Surabaya hingga ke DPRD Kota Surabaya. Warga terdampak umumnya menolak dan penolakan itu juga didukung oleh organisasi dan komunitas lainnya yang peduli sejarah Surabaya. Jalan Gunungsari dan jalan Dinoyo memang menyimpan sejarah perjuangan Surabaya.

Dari sudut pandang sejarah, tidak hanya pemerhati dan pegiat sejarah yang meneriakkan penolakan. Tim Ahli Cagar Budaya kota Surabaya, Johan Silas, juga dengan tegas menyatakan menolak dalam sebuah dengar pendapat di ruang rapat Komisi D DPRD Surabaya. Belum lagi penolakan yang disampaikan oleh para pelaku sejarah, mantan Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) beserta keluarga besarnya, yang tergabung dalam Paguyuban Mas TRIP Jawa Timur PD. Surabaya. Yang menyedihkan adalah penolakan itu tidak dihiraukan. Bahkan kedatangan mereka untuk menyampaikan aspirasinya, tidak ada yang menemuinya. Kecuali mantan ketua pansus, Fatchul Muid, yang selama ini menolak terhadap perubahan nama jalan tersebut.

Dari diskusi jalanan yang dilakukan para pegiat dan pemerhati sejarah Surabaya, perubahan nama jalan di ruas jalan Dinoyo dan Gunungsari memang terkesan dipaksakan. "Pokoknya perubahan nama jalan harus berjalan". Begitu kira kira isi pesan yang harus dilaksanakan. Mungkin tidak disangka, ternyata perubahan nama jalan di Surabaya menemui kendala. Tidak semudah seperti yang terjadi di kota Bandung dan Jogjakarya.

Jawa Timur, Jawa Barat dan DIY melalui para kepala daerahnya masing-masing pada bulan Maret 2018  menyepakati perubahan nama jalan di masing-masing ibukota untuk upaya sebuah rekonsiliasi budaya Jawa Sunda. Sayang dalam perjalanannya, khususnya di Surabaya, upaya itu ditolak oleh warga terdampak, pemerhati dan pegiat sejarah kota Surabaya, Tim Ahli Cagar Budaya kota Surabaya, serta Paguyuban Mas TRIP Jawa Timur PD Surabaya. Sementara, perubahan nama jalan sebagai perlambang "Rekonsiliasi Budaya Jawa Sunda" sudah dilakukan di Jawa Barat dan DIY.

Untuk mempercepat realisasi perubahan nama jalan, hembusan perintah hingga intimidasi di internal struktural eksekutif dan legislatif sangat kental terlihat. Bahkan intimidasi dari unsur pimpinan dewan terlontar terang-terangan dalam sebuah rapat dengar pendapat di ruang komisi D DPRD Surabaya pada 26 Juli 2018. Meski tekanan dan pemaksaan itu telah terstruktur, justru penolakan semakin kencang.

Di depan mata perubahan sebagian nama jalan Dinoyo dan Gunungsari sudah jelas terlihat. Dari sekian diskusi jalanan tersimpulkan bahwa ada keengganan di pihak elit propinsi dan sederajat untuk mau mengalihkan perubahan ke jalan lain. Mungkin unsur malu dan takut kehilangan muka bila gagal merealisasikan perubahan nama jalan sebagaimana telah disepakati bersama. Meski harus mencederai sejarah dan melukai hati pelaku sejarah yang kini sudah renta.

Jika memang seperti itu situasi dan kondisi yang dihadapi oleh para elit propinsi, maka berterus terang akan lebih terhormat daripada Malu Meralat, kemudian Sesat di Akhirat. Maklum perubahan nama jalan Dinoyo adalah mencederai sejarah dan melukai hati pelaku sejarah, baik yang masih sehat wal afiat,  maupun yang sudah menjadi Kusuma Bangsa.
Ingat! Malu bertanya, sesat di jalan. Malu meralat, sesat di akhirat. (pul)



Berita Terkait


Keluarga Bung Tomo Tolak Perpindahan Nama Jalan Bung Tomo

Tirulah penamaan Jl. Stasiun kota, Jl. Stasiun wonokromo dan Jl. Smea

Kuatkan Kota Pahlawan, Pemkot Surabaya Ajukan Perubahan Nama Sejumlah Jalan

Jalan Prabu Siliwangi dan Sunda Resmi Gantikan Jalan Gunungsari dan Dinoyo


Tak Setuju Perubahan Nama Jalan, Dua Pejuang Veteran Temui Soekarwo

Diwarnai Aksi WO, Perubahan Nama Jalan Gunungsari dan Dinoyo Disahkan

Perubahan Nama Jalan Tetap Berjalan dan Rapat Paripurna Diwarnai Walk Out

Tolak Perubahan Nama Jalan, Pejuang Veteran Ikut Geruduk Kantor Dewan

Sponsored Content

loading...
Berita Utama Lihat Semua

Berita Terkini Lihat Semua

Berita Terpopuler Lihat Semua

Surabaya Raya Lihat Semua

Rehat Lihat Semua



Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber