Beranda       Nasional       Internasional       Life Style       Olah Raga       Opini       Sorot
Kesehatan 

Digelarnya dialog konstruktif bersama pemangku kepentingan terkait, selain bertujuan untuk mengevaluasi, juga sebagai bentuk sosialisasi substansi dasar dari program tersebut. Foto: Ainul Khilmiah
Perpanjang Usia Produktif Demi Sejahterakan Usia Senja
Jum'at, 10-08-2018 | 10:31 wib
Oleh : Ainul Khilmiah
Surabaya pojokpitu.com, Demi meningkatkan optimalitas jaminan hari tua dan jaminan pensiun, BPJS ketenagakerjaan melakukan evaluasi bersama pemangku kepentingan terkait. Upaya untuk meningkatkan kesejahteraan pengguna di usia senja, salah satunya dilakukan dengan memperpanjang usia produktif dan meningkatkan prosentase besaran iuran secara bertahap.

Substansi manfaat program jaminan hari tua dan jaminan pensiun perlu disosialisasikan lebih mendalam. Pasalnya, direktur pelayanan BPJS ketenagakerjaan, Krishna Syarif, menilai, sebagian besar masyarakat tidak memahami manfaat dasar dari JHT dan jaminan pensiun.

Digelarnya dialog konstruktif bersama pemangku kepentingan terkait, selain bertujuan untuk mengevaluasi, juga sebagai bentuk sosialisasi substansi dasar dari program tersebut. Pasalnya, pihaknya menilai program JHT ini justru dinikmati oleh 80% pekerja di usia produktif, hal ini tentu tidak sesuai dengan substansi dasar dari JHT itu sendiri.

Program jaminan pensiun dipersiapkan bagi pekerja yang telah memasuki usia senja, untuk tetap mendapat penghasilan bulanan. Sayangnya, skema ini hanya memberikan nilai penggantian manfaat di hari tua sebesar 30%, dari total pendapatan yang diterima disaat usia produktif.

Hotbonar Sinaga, praktisi jaminan sosial Indonesia menyampaikan, untuk meningkatkan jaminan pensiun yang diberikan, perlu adanya peningkatan prosentase besaran iuran bulanan secara bertahap dari 3 persen hingga menjadi 8 persen.

"Selain itu, juga perlu adanya perpanjangan usia produktif, sehingga masa untuk menabung juga semakin panjang. Sehingga mampu meningkatkan nilai jaminan yang diberikan nantinya," jelas Hotbonar Sinaga.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Timur, Setiajit, menyatakan, memang perlu adanya revisi peraturan pemerintah nomor 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan.

"Usia produktif yang 56 tahun disebutkan  perlu diperpanjang. Di jawa timur sendiri, usia produktif antara 15 tahun hingga 64 tahun mencapai 69 persen," kata Setiajit.

Saat ini, pekerja yang terdaftar dalam program JHT dan JP masih sangat kecil, secara nasional hanya sebesar 14.771.000 pekerja dari jumlah total angkatan kerja di indonesia sebesar 120.070.000 orang.

Di Jawa Timur sendiri, menurut Dodo Suharto, Deputi Direktur Wilayah Jawa Timur, jumlah pekerja yang tercatat terdaftar dalam bpjs ketenagakerjaan sejumlah 2.700.000 pekerja dan itupun tidak kesemuanya terdaftar dalam program jaminan pensiun. (yos)

Berita Terkait


Tidak Semua Penyakit di IGD Dibiayai BPJS

Sering Terjadinya Laka Laut, Nelayan Probolinggo Berbondong-Bondong Daftar BPJS

Tingginya Pembayaran RS Tidak Sebanding Iuran Masuk, BPJS Tiap Bulan Keluarkan Puluhan Milyar

BPJS Bekerjasama 18 Rumah Sakit di Pasuruan


Rumah Sakit Diminta Tidak Diskriminasi Antara Pasien BPJS dan Non BPJS

RSIA Bhakti Persada Diputus Kontrak BPJS Kesehatan

BPJS Tetap Cover Pelayanan 4 RS Masa Akreditasinya Habis

RS Husada Utama Belum Dapat Edaran Penghentian Layanan BPJS Kesehatan

Sponsored Content

loading...
Berita Utama Lihat Semua

Berita Terkini Lihat Semua

Berita Terpopuler Lihat Semua

Surabaya Raya Lihat Semua

Rehat Lihat Semua



Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber