Beranda       Nasional       Internasional       Life Style       Olah Raga       Opini       Sorot
Opini 

PENULIS: NANANG PURWONO Wakil Pimpinan Redaksi JTV / Penulis buku
THE BEAUTY AND THE BEAST dalam Peringatan 17 Agustus 2018 di Kota Pahlawan Surabaya
Kamis, 09-08-2018 | 14:17 wib
Oleh : Nanang Purwono
Surabaya pojokpitu.com, Tanggal 17 Agustus 2018 tinggal beberapa hari lagi (Artikel ini ditulis pada Kamis, 9 April 2018). Tanggal 17 Agustus menjadi tanda peringatan hari besar, yang sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia. Tanggal 17 Agustus 1945 adalah hari proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia.

Para pendahulu, di jamannya, tidak hanya bersusah payah mempersiapkan kemerdekaan, yang kemudian berhasil diproklamasikan oleh Sukarno Hatta. Mereka, para pendahulu, bahkan lebih bersusah payah lagi ketika mereka harus mempertahankan kedaulatan bangsa, yang telah diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945. Nyawa menjadi taruhannya. Mereka rela mati demi mempertahankan kemerdekaan. 

Pecah pertempuran Surabaya, yang kulminasinya tercatat pada 10 Nopember 1945, menjadi bukti nyata betapa rakyat Indonesia, yang ada di Surabaya, mempersembahkan jiwa dan raganya untuk mempertahankan kemerdekaan. Pertempuran 3 hari (27 - 29 Oktober 1945) di Surabaya  serta pertempuran 100 hari di Surabaya adalah catatan kalkulasi peristiwa yang begitu heroik sebagai ekspresi pejuang pejuang Surabaya yang cinta NKRI.

Pertempuran Surabaya begitu sporadis. Pertempuran Surabaya terjadi dimana mana. Di tengah kota, di pinggir kota, di jalanan, di kampung kampung, di mana mana yang tak pandang lokasi. Musuh pun merangsek kemana mana untuk menduduki setiap jengkal tanah yang ada di Surabaya sambil membinasakan siapa saja yang menghadang dan melawan. Tak heran bila warga kota mulai anak anak, perempuan dan orang tua diungsikan meninggalkan kota. Mereka yang muda, yang masih kuat, berada di kota untuk mempertahankan Surabaya meski nyawa adalah taruhannya.  

Kekuatan persenjataan di pihak Sekutu yang jauh lebih kuat daripada yang dimiliki oleh pejuang pejuang Surabaya yang umumnya merupakan senjata rampasan dari Jepang ditambah senjata tradisional berupa bambu runcing, tombak dan panah, tidak mempu membentung serangan Sekutu yang datang dari segala penjuru: darat, laut dan udara. Akhirnya banyak titik di Surabaya berhasil dikuasai Sekutu. Wilayah kota jatuh ke tangan Sekutu. Melihat kondisi yang seperri itu, pejuang Surabaya pun mundur ke Selatan kota melewati Darmo dan Dinoyo.

Di kawasan Wonokromo mereka sempat melakukan perlawanan sengit sebelum mereka berpencar meninggalkan kota. Sebagian mundur ke selatan hingga ke Malang dan sebagian lagi mundur ke barat melalui gunungsari, sepanjang, krian hingga Mojokerto. Di Gunungsari, dengan kontur alam yang berbukit dan berada di pinggir kali bengawan, menjadi kawasan strategis untuk melakukan perlawanan. Banyak catatan sejarah, yang menceritakan betapa sengitnya perlawanan yang dilakukan oleh pejuang Surabaya terhadap tentara Sekutu di Gunungsari ini. Di tempat ini pula beragam kesatuan bahu membahu menjadi satu menyusun kekuatan untuk menghalau sekutDiantaranya ada tentara pelajar yang tergabung dalam TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar). Ada juga pasukan Polisi Istimewa. Termasuk ada stelling artilery. Semuanya dalam satu tekad dan barisan melawan agresi sekutu. 

Di kawasan ini, di jalan ini, di Gunungsari banyak pejuang Surabaya yang gugur. Jalan Gunungsari menjadi medan laga yang subur karena tersirami darah para pejuang. Menyadari kekuatan yang semakin berkurang, akhirnya pejuang pejuang Surabaya mundur meninggalkan palagan Gunungsari dan Surabaya pun secara penuh jatuh ke tangan kekuasan Sekutu. 

Kisah sejarah ini begitu melekat di hati keluarga besar veteran pejuang Surabaya. Diantaranya dari unsur cacat veteran dan ada pula yang dari keluarga tentara pelajar MAS TRIP. Mereka, dalam gonjang ganjing perubahan nama jalan Gunungsari dan Dinoyo yang diubah menjadi jalan Prabu Siliwangi dan Sunda, menyatakan dengan tegas bahwa mereka menolak. Mereka tidak ingin nama jalan Gunungsari dan Dinoyo dirubah meski hanya sebagian.

Nama jalan adalah sebuah tetenger, yang tidak jauh beda dengan sebuah monumen seperti tugu pahlawan serta gedung-gedung bersejarah yang ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya. Tetenger-tetenger itu tidak lain sebagai pengingat generasi muda dan generasi penerus bangsa bahwa disana tersimpan selaksa peristiwa bersejarah, yang tidak boleh dilupakan. Bung Karno pun berpesan agar kita tidak melupakan sejarah. Slogannya "Jas Merah".

Dalam serangkaian kegiatan memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia ke 73 di bulan Agustus 2018, segenap bangsa Indonesia bergembira sambil berkreasi sebagai wujud syukur kepada Tuhan YME atas kemerdekaan dan juga sebagai rasa hormat kepada para pahlawan dan pendahulu, yang telah rela mengorbankan jiwa dan raganya demi kedaulatan bangsa dengan semboyannya "Merdeka atau Mati".

Institusi Polisi Republik Indonesia Daerah Jawa Timur (Polda Jatim) juga telah mempersiapkan diri meresmikan hasil renovasi Monumen Polisi Istimewa sebagai wujud hormat dan terima kasih kepada para pendahulu dalam mempertahankan NKRI. Menurut rencana hasil renovasi monumen ini akan diresmikan oleh Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian pada 20 Agustus mendatang. Melalui renovasi monumen Polisi Istimewa ini, Polda Jatim menunjukkan rasa hormatnya kepada Polisi Istimewa, yang berjasa dalam mengamankan Surabaya. 

Monumen Polisi Istimewa selanjutnya menjadi sebuah tetenger karena berfungsi memberikan informasi tentang peristiwa kepahlawanan dalam pertempuran Surabaya tahun 1945. Selain berbentuk monumen, tetenger juga bisa berupa gedung, menara hingga nama jalan. Berdasarkan definisinya bahwa tetenger adalah cipta karya suatu tanda, ciri, sesuatu yang memberikan informasi tentang suatu obyek atau tempat. Tetenger juga bisa diartikan sebagai elemen penting dari sebuah kota karena membantu orang untuk mengenali suatu daerah. 

Nama jalan Gunungsari dan Dinoyo di Surabaya bisa jadi berbeda dengan nama Gunungsari dan Dinoyo di kota lain (jika memang ada). Nama boleh sama tapi peristiwa di balik nama itu bisa jadi berbeda. Di balik nama Gunungsari dan Dinoyo di Surabaya menyimpan sejarah pertempuran Surabaya. Itulah kearifan lokal Surabaya di Gunungsari dan Dinoyo. Kearifan lokal harus dijaga dan dipelihara karena sesungguhnya kearifan lokal-lah yang membentuk identitas nasional.

Jika, di satu sisi, Polda Jawa Tmur dalam memaknai Hari Kemerdekaan RI ke 73 meresmikan hasil renovasi Monumen Polisi Istimewa untuk mengenang jasa-jasa para pendahulu polisi dalam membela bangsa, mengapa, di sisi lain di kota ini (kota Pahlawan) harus terjadi penghapusan tetenger (meski sebagian), yang berupa nama jalan Gunungsari dan Dinoyo, yang pernah menjadi palagan Pertempuran Surabaya 1945?

Saya jadi ingat dengan judul sebuah film "The Beauty and The Beast". Di Surabaya, dalam menyambut dan mengisi serangkaian kegiatan peringatan HUT RI ke-73 atau peringatan 17 Agustus 2018 ini, "The beauty" dapat diumpamakan sebuah penghargaan terhadap nilai-nilai sejarah (peresmian hasil renovasi Monumen Polisi Istimewa). Sedangkan "The Beast" dapat diumpamakan adanya degradasi apresiasi nilai-nilai sejerah (hilangnya sebagian nama jalan Gunungsari dan Dinoyo yang bersejarah itu).

The Beauty adalah Peresmian Monumen Polisi Istimewa. The Beast adalah Hilangnya sebagian nama Gunungsari dan Dinoyo. Dirgahayu Republik Indonesia ke 73. (pul)

Berita Terkait


Bertanam Durian di Desa Terpencil Lereng Gunung Wilis

Kekuasaan Vs Kebenaran atas Gunungsari dan Dinoyo

THE BEAUTY AND THE BEAST dalam Peringatan 17 Agustus 2018 di Kota Pahlawan Surabaya

Optimalisasi Data BMKG Memutus Ancaman Bencana Banjir dan Longsor


Yorrys Ingatkan Kubu Ical Jangan Terus Tebar Opini

Sponsored Content

loading...
Berita Utama Lihat Semua

Berita Terkini Lihat Semua

Berita Terpopuler Lihat Semua

Surabaya Raya Lihat Semua

Rehat Lihat Semua



Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber