Beranda       Nasional       Internasional       Life Style       Olah Raga       Opini       Sorot
Opini 

PENULIS: NANANG PURWONO Wakil Pimpinan Redaksi JTV / Penulis buku
Fatchul Muid Mundur Sebagai Ketua Pansus Adalah Sikap Kesatria
Sabtu, 04-08-2018 | 14:58 wib
Oleh : Nanang Purwono
Surabaya pojokpitu.com, Sikap Ketua Pansus perubahan sebagian nama jalan Dinoyo dan Gunungsari, Fatchul Muid, yang mundur dari kursi ketua adalah sikap kesatria. Saya yakin dari sederetan dengar pendapat yang digelar pansus, ketua telah mengumpulkan data dan fakta yang meyakinkan dirinya bahwa tidak ada urgensinya merubah nama jalan sebagai wujud rekonsiliasi budaya Jawa Sunda.

Dari kaca mata historis, di kedua tempat yang bernama jalan Dinoyo dan Gunungsari Surabaya ini sungguh menyimpan jejak sejarah kota Surabaya yang tidak bisa dipungkiri. Jalan Dinoyo dan jalan Gunungsari adalah representasi isi Dinoyo dan Gunungsari sebagai sebuah kawasan dengan beragam rona sejarah yang tersimpan disana. Bahkan di kedua tempat ini masih menyimpan punden-punden sebagai bukti kekunoan yang masih diuri uri oleh warganya hingga sekarang.

Dari jalan Gunungsari, secara historis, menyimpan jejak pelarian Raden Wijaya beserta pengikutnya, karena dikejar-kejar bala prajurit raja Jayakatwang. Salah salah pengikut Wijaya adalah Ronggolawe. Meski terdesak lari, mereka terus melakukan perlawanan. Di Gunungsari, entah disadari atau tidak, di sana berdiri tetenger Ronggolawe yang berdiri di Taman Ronggolawe. Di tahun 1945, ketika pejuang pejuang Surabaya bergerak mundur meninggalkan kota karena didesak oleh tentara Sekutu, Gunungsari menjadi palagan pertahanan kota. Di tempat yang secara alami berkontur perbukitan ini, pejuang Surabaya memberikan perlawanan sengit terhadap Sekutu. Monumen Mastrip di area Golf A Yani adalah bukti historika Gunungsari.

Dari Dinoyo, nama jalan Dinoyo juga menjadi etalase isi kampung Dinoyo yang juga menyimpan rona sejarah kota. Kampung dan nama jalan sudah bertengger disana sebelum bangsa Belanda mendiami Surabaya. Dari peta yang menggambarkan situasi Surabaya tahun 1825, nama Dinoyo terpatri sebelum nama-nama Belanda menghiasi kawasan elit kota (Bovenstad) di selatan Surabaya. Seiring dengan perkembangan kota di abad 20, nama-nama pembesar Hindia Belanda terhias pada nama nama jalan baru yang bersanding dengan nama jalan Dinoyo. Betapa sebuah apresiasi oleh pemerintah Hindia Belanda terhadap kearifan lokal yang sudah ada sebelumnya. Setelah pasca kemerdekaan, ketika Indonesianisasi terjadi, perubahan nama yang berbai Belanda pun diubah menjadi yang berbau Indoneasia. Pemilihan nama nama kerajaan nusantara seperti Pajajaran, Mojopahit, Mataram dan Tumapel adalah tepat dan arif karena disandingkan dengan nama Dinoyo yang bersumber dari kerajaan Kanjuruhan.

Maka, berbekal dari alasan historis ini, tidaklah etis bila perubahan sebagian nama Dinoyo dan Gunungsari diganti dengan nama jalan Sunda dan Prabu Siliwangi. Ketua pansus mengambil sikap yang patut diacungi jempol karena telah mendengarkan mayoritas undangan yang tidak menerima perubahan nama jalan itu, baik dari alasan sejarah maupun administratif. (pul)

Berita Terkait


Menakar Polemik Perubahan Nama Jalan di Era Reformasi Birokrasi Pakde Karwo

Fatchul Muid Mundur Sebagai Ketua Pansus Adalah Sikap Kesatria


Sponsored Content

loading...
Berita Utama Lihat Semua

Berita Terkini Lihat Semua

Berita Terpopuler Lihat Semua

Surabaya Raya Lihat Semua

Rehat Lihat Semua



Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber