Beranda       Nasional       Internasional       Life Style       Olah Raga       Opini       Sorot
Opini 

Indonesia "Bubar" 2030 : Kritik / Fakta ? (2)
Jum'at, 22-06-2018 | 07:30 wib
Oleh : Fradhana Putra Disantara
pojokpitu.com, Jika kesenjangan sosial terus berkembang menjadi tinggi, terjadi krisis ekonomi dan sosial, tujuan hukum tidak terimplementasi, maka yang akan terjadi adalah masyarakat akan frustasi dan akan timbul chaos. Berdasarkan data Bank Dunia 2015, 26,9 persen atau 68 juta orang Indonesia hidup kurang dari 50 persen di atas garis kemiskinan nasional. Jika mereka mengalami masalah ekonomi dimana ini berkaitan dengan kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat, maka mereka bisa jatuh miskin dengan mudah.

Suisse Global Wealth Report pada tahun 2016 menyatakan bahwa angka rasio gini Indonesia adalah 0.49, dimana artinya 1 persen orang terkaya (hanya 2,5 juta orang) menguasai 49 persen kekayaan Indonesia. BPS juga mempunyai data pada tahun 2015 bahwa ada 29 juta orang Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan yang ditetapkan pemerintah, ini mencakup 8.3 persen penduduk kota dan 14.2 persen penduduk desa. Jika dikatakan krisis ekonomi, sebenarnya Indonesia dilanda krisis ekonomi, dimana kita bisa melihat pada unggahan berita Kompas.com pada 15/3/2018 bahwa utang luar negeri Indonesia naik 10 persen atau mencapai Rp. 4.914 Triliun. Badan Pusat Statistik (BPS) juga telah mengungkapkan, pada tahun 2017 telah terjadi kenaikan jumlah pengangguran di Indonesia sebesar 10.000 orang menjadi dari 7,03 juta orang menjadi 7,04 juta orang (Dari periode Agustus 2016 sampai Agustus 2017).

Dalam konteks pangan pun pemerintah seakan-akan bergantung pada negara asing, dimana pada tahun 2018 pemerintah juga telah melakukan impor beras 500.000 ton, impor gula 1,8 juta ton, impor 3,7 ton (Merdeka.com 20/1/2018). Hasil temuan Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA Publik pada Jumat (2/2/2018) menilai pengangguran makin meningkat sebanyak 48.4 persen. Lalu kebutuhan pokok yang publik melihatnya, semakin berat dengan persentase 52,6 persen. Serta lapangan pekerjaan, dianggap semakin berat dengan persentase penilaian 54 persen. Di lansir di detik.com, Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) pada 21 Mei 2018 menembus level Rp 14.200. Angka ini naik tiga poin dari posisi sebelumnya di level Rp 14.197.

Dalam konteks SARA-pun, perlu kita sadari juga terdapat berbagai masalah. Dimulai dari kasus penistaan agama (surat Al-Maidah ayat 51) oleh mantan gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau yang akrab dengan nama Ahok, kemudian kriminilasisasi Ulama yang dialami oleh Habib Rizieq dengan tuduhan chat sex, penganiyaan beberapa ulama oleh orang gila dan pembunuhan salah satu ulama di Jawa Barat ( Alm. Ustadz Prawoto ) oleh orang gila, perusakan masjid di Tuban oleh orang gila, penyerangan di Gereja Santa Lidwina Gamping Sleman saat acara Misa, pembacaan puisi oleh Sukmawati Soekarnoputri yang di dalam bagiannya ada yang menyinggung mengenai azan dengan mengatakan .. suara kidung Ibu Indonesia, sangatlah elok lebih merdu dari alunan azan mu.. dan serta menyinggung mengenai cadar dengan mengatakan  .. sari konde ibu Indonesia sangatlah indah lebih cantik dari cadar dirimu.., oknum polisi yang diduga telah melakukan pengrusakan Alquran di Masjid Nurul Imam, Medan, beberapa minggu yang lalu juga terjadi pengeboman di beberapa gereja di Surabaya, selanjutnya baru-baru ini ada peristiwa potongan Alquran tersobek-sobek dan berserakan di Jalan Gunawarman, Jaksel dimana pelaku belum diketahui.

Beberapa kasus diatas merupakan contoh indikasi "bubar", dimana "bubar" disini bukan berarti "selesai/tiada", tetapi diartikan "tercerai-berai". Ketika permasalahan SARA ini muncul di tengah lingkungan masyarakat, maka akan timbul rasa prasangka negative antara satu dengan yang lain. Disinilah yang dikhawatirkan, ketika integritas tergerus dengan permasalahan SARA, maka yang dikhawatirkan untuk terjadi adalah peng-kotak-kotak-an, dimana masyarakat akan membentuk kelompok-kelompok sosial yang masing-masing anggota kelompok mempunyai satu prinsip yang sama, dan menganggap kelompok sosial yang diluar mereka merupakan musuh dari kelompoknya. ( In-group vs Out-Group).

Masalah keamanan-pun juga harus kita perhatikan. Jumlah tenaga kerja asing (TKA) di Indonesia menurut Databoks Katadata Indonesia meningkat 69.85 persen dalam kurun 3 tahun terakhir. Dari tahun 2015 yang jumlahnhya 69.000 ribu TKA, tahun 2016 berjumlah 74.813 ribu TKA, dan di tahun 2017 berjumlah 126.000 ribu TKA. Perlu diketahui bahwa masuknya tenaga kerja dari Tiongkok menjadi tenaga kerja asing paling banyak di Indonesia dengan jumlah 21.271 ribu jiwa (Data Kemenaker, 2017).

Sebenarnya, kita perlu mengetahui bahwa Tiongkok merupakan negara wajib militer, dimana setiap masyarakat Tiongkok selama umur 18-23 tahun diwajibkan mengikuti wajib militer. Melihat akan hal itu, otomatis semua TKA yang datang di Indonesia praktis tentara, paling tidak mantan tentara, atau bisa disebut juga mantan wajib militer. Dari situ kita dapat melihat bahwa terdapat ancaman laten dari asing, dan ini jika dibiarkan akan berdampak negative pada situasi dan kondisi keamanan di Indonesia.

Bahkan bila terjadi perang antara Amerika dan China kemudian Indonesia terkena imbasnya , kondisi peralatan tempur Indonesia sangat mengkhawatirkan. Hal ini juga diungkapkan Menhan sejak tahun 2015 sebagaimana pernah ditulis oleh berbagai portal (salah satunya Repulika.co.id 22/2/2015). Menhan mengisyaratkan keprihatinannya terhadap dunia ketahanan. Bahkan Ryamizard pesimis Indonesia bisa bertahan jika suatu saat terjadi perang. Sebagai gambaran Menhan mengatakan , cadangan peluru kita untuk TNI hanya untuk 3 hari, beras untuk konsumsi rakyat hanya 18 hari, dan BBM untuk keperluan rakyat 12-18 hari. Sangat beresiko bukan?

Sebenarnya yang disampaikan Prabowo itu sebuah peringatan ataupun dapat dikatakan sebuah kritikan. Dengan kritik itulah yang menjadi pemantik untuk berbuat baik. Semua rakyat-pun enggan mencaci maki bangsa sendiri dihadapan orang luar. Akan tetapi di dalam diri sendiri harus ada keberanian untuk mengoreksi. Hal ini bukan pesimistis, tetapi realistis dengan keadaan. Justru ketika beliau memberi peringatan bagi kita, kita sebaiknya harus waspada apa yang akan terjadi di kemudian hari. Secara tersirat, Prabowo berusaha mengingatkan agar kita semua menjaga integritas atau keutuhan serta persatuan di tengah gelombang masalah yang terjadi dan yang dapat menimbulkan konflik horizontal di lingkungan masyarakat.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1439 H.Talqobbalallahu minna wa minkum. Barakallahu Fiikum. Mohon Maaf Lahir dan Batin. Kembali ke fitrah, kembali bersilaturahmi, saling bermaafan. (end)


Berita Terkait


Indonesia "Bubar" 2030 : Kritik / Fakta ? (2)

Berita Utama Lihat Semua

Berita Terkini Lihat Semua

Berita Terpopuler Lihat Semua

Surabaya Raya Lihat Semua

Rehat Lihat Semua



Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber