Berita Terbaru :
Diseruduk Bus Dari Belakang Truk Terguling
Ratusan Kepala Desa Dari Jatim Gruduk MK Kawal Sidang Judicial Review Dana Desa
SPBU Mini dan Dua Ruko Terbakar, Kakak Pemilik SPBU Tewas
Pasca Kepala Puskesmas Kedung Solo Meninggal Dunia Diduga Covid 19, Seluruh Pegawai Puskesmas Di Swab
112 Peserta UTBK di Unair dan ITS Reaktif
3 Pasien Positif Covid 19 Jalani Isolasi Lebih 2 Bulan
Pelaku Pembuangan Bayi Akhirnya Terungkap
Tahap 3, Bantuan Tunai Sosial Terus Berlanjut
Unras Gelar Aksi Tolak RUU HIP
Efektivitas Rendah, Rapid Tes Tak Perlu Berbayar
Kasus Covid-19 di Pacitan Meningkat Tajam, PLTU Jadi Ancaman Kluster Lokal
Akan Ada Revisi Perbup dan Perwali Untuk Percepat Penanganan Covid
Pandemi Covid 19, Kasus Narkoba Meningkat Didominasi Pengedar Lama
Sempat Rawat Inap di Puskesmas Selama 5 Hari, Santoso Tewas di Jalan Setapak Diduga Terpeleset
Polda Jatim Bentuk Satgas Nusantara Amankan Pilkada Di Masa Pandemi
   

BI Boleh Naikkan Suku Bunga Acuan, Tetapi Jangan Agresif
Ekonomi Dan Bisnis  Rabu, 20-06-2018 | 03:12 wib
Reporter :
Jakarta pojokpitu.com, Direktur Utama PT Bank Mandiri Tbk Kartika Wirjoatmodjo mengatakan, pengelolaan suku bunga dalam negeri memerlukan perubahan untuk merespons kebijakan The Fed.

Dia menilai ada ekspektasi dari investor bahwa negara berkembang harus mengikuti perubahan suku bunga di negara maju.

Namun, menurut pria yang kerap disapa Tiko tersebut, kalaupun akan menaikkan suku bunga, sebaiknya Bank Indonesia (BI) tidak perlu terlalu agresif. Dia melihat pasar saat ini cukup tenang.

"Dengan elemen yang diberikan Pak Perry (Gubernur BI Perry Warjiyo, Red) dan strategi mengelola keseimbangan kemarin, rasanya pasarnya sudah cukup. Mungkin belum ada keperluan mendesak," kata Tiko akhir pekan kemarin.

Di sisi lain, bank juga berharap ada permintaan pertumbuhan kredit sehingga masyarakat masih butuh suku bunga bank yang terjangkau.
Ekonom Aviliani menuturkan, BI masih perlu menaikkan suku bunga acuannya, setidaknya 25 basis poin. Upaya itu dibutuhkan untuk stabilitas nilai tukar.

"Kalau nilai tukar rupiah stabil, dari sisi suku bunga bank masih ada persaingan. Persaingan antarbank, menurut saya, luar biasa. NIM (net interest margin) jauh makin tipis," tutur Aviliani.

Sementara itu, Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Halim Alamsyah menyatakan, pihaknya siap menaikkan suku bunga penjaminan jika likuiditas kembali mengetat.

"Kami siap menyesuaikan dari sisi LPS rate bila dibutuhkan," ujar Halim.

Sebelumnya, LPS menaikkan suku bunga penjaminan pada minggu kedua Juni lantaran likuiditas dinilai berpotensi mengetat pada pertengahan tahun ini.

Menurut dia, tidak ada yang salah dengan kebijakan BI sejauh ini. Tekanan terhadap perekonomian lebih disebabkan sentimen eksternal.
Jika BI merespons kenaikan suku bunga The Fed, Halim menilai hal itu wajar, tetapi sebaiknya juga tidak dilakukan terlalu cepat.

"Tidak ada yang perlu diubah secara drastis begitu. Ini dilakukan untuk menjaga keseimbangan. Saya yakin BI punya perhitungan," tegas Halim.(rin/c14/sof/end)



Berita Terkait

BI Boleh Naikkan Suku Bunga Acuan, Tetapi Jangan Agresif
Berita Terpopuler
Dua Warga Blitar Tewas Usai Pesta Miras
Peristiwa  9 jam

Evakuasi Jasad Pendaki Lawu, Lewat Jawa Tengah
Peristiwa  9 jam

Satu Desa di Ponorogo Di-Lockdown, Puluhan Warga Diisolasi
Peristiwa  12 jam

Sopir Truk Asal Semarang Ditemukan Meninggal di dalam Truk Saat Parkir di SPBU
Peristiwa  7 jam



Cuplikan Berita
Puluhan Peserta UTBK Rapid Test di Lokasi Ujian
Pojok Pitu

Gempar, Bayi Perempuan Dibuang di Teras Rumah Warga
Pojok Pitu

Diduga Bawa BBM, Sebuah Mobil Terbakar di Dekat SPBU Keting
Jatim Awan

Diserang Tikus, Petani Ponorogo Resah
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber