Beranda       Nasional       Internasional       Life Style       Olah Raga       Opini       Sorot
Peristiwa 

Dagelan Repatriasi Rohingya, Gelombang Pertama Cuma 5 Orang
Senin, 16-04-2018 | 13:12 wib
Oleh :
Yangon pojokpitu.com, Myanmar sepertinya benar-benar tidak niat menjalankan program repatriasi pengungsi Rohingya. Bagaimana tidak, setelah berkali-kali menunda, akhirnya hanya lima pengungsi yang dipulangkan pada gelombang pertama.

Kelima warga Rohingya itu tiba di tempat penampungan sementara di Taungpyoletwea, Sabtu (14/4).

"Lima orang yang masih satu keluarga tiba di Taungpyoletwea, Rakhine, pagi ini (Sabtu pagi, Red)." Demikian bunyi keterangan tertulis Kementerian Luar Negeri Myanmar pada Sabtu malam.

Sayang, dalam keterangan yang diperoleh Reuters itu, tidak disebutkan nama para pengungsi tersebut.

Proses repatriasi pengungsi Rohingya dari Bangladesh seharusnya sudah dimulai Januari, sesuai kesepakatan Myanmar dengan Bangladesh saat meneken perjanjian November lalu.

Namun, dengan alasan belum siap, Myanmar berkali-kali menunda repatriasi. Wajar bila Bangladesh lantas menganggap Myanmar tidak serius dengan janji menerima kembali kaum Rohingya yang kabur akibat represi itu.

Dalam kesepakatan awal, Myanmar berjanji menerima kembali sekitar 1.500 pengungsi Rohingya per pekan. Dengan cara tersebut, sekitar 700.000 warga Rohingya yang mengungsi ke Bangladesh setelah aksi sektarian Agustus lalu baru bisa pulang seluruhnya dalam waktu sembilan tahun. Itu belum termasuk rombongan pengungsi lain yang masuk Bangladesh sebelum Agustus.

Saat ini Bangladesh menampung sekitar 1,2 juta pengungsi Rohingya. Mereka tersebar di beberapa kamp pengungsian. Tapi, mayoritas terpusat di Coxs Bazar.

Dalam pandangan Bangladesh, proses repatriasi yang dijalankan Myanmar terlalu berbelit. Sebelum boleh kembali ke Rakhine, para pengungsi Rohingya itu harus bisa membuktikan bahwa mereka memang berasal dari sana.

Dokumen resmi menjadi syarat utama yang Myanmar ajukan. Itu bukan perkara mudah. Sebab, kaum Rohingya yang menetap di Rakhine sejak 1982 tersebut tak punya kartu identitas.

Di antara 8.032 dokumen pengungsi yang diserahkan oleh Bangladesh setelah melewati proses pendataan, Myanmar hanya memverifikasi 374 dokumen.

Karena itu, hanya sejumlah itu pula pengungsi Rohingya yang bisa masuk Myanmar dalam gelombang repatriasi pertama. Jauh di bawah kesepakatan yang mencapai 1.500 orang.

Sebelum dikembalikan ke kampungnya, para pengungsi lebih dulu tinggal di kamp penampungan sementara. Di sana, mereka akan menjalani adaptasi.

Tapi, dunia internasional menganggap tahap itu sebagai cara Myanmar menunda kebenaran terkuak. Sebab, berbagai fakta menunjukkan bahwa kampung Rohingya di Rakhine sudah dihuni orang-orang yang sengaja dihadirkan pemerintah Myanmar.

Kemarin The Guardian melaporkan bahwa lima pengungsi Rohingya yang kembali ke Myanmar itu langsung diberi kartu identitas.

Dalam foto yang beredar, kartu itu tampak dilengkapi dengan foto dan identitas diri. Termasuk nama. Kepada media, Myanmar menyebut kartu identitas itu sebagai national verification card (NVC).

Wakil Sekjen HAM PBB Ursula Mueller yang pekan lalu melawat ke Myanmar menegaskan bahwa memulangkan warga Rohingya ke Rakhine saat ini bukan solusi tepat. "Tidak ada fasilitas kesehatan yang memadai," ujarnya seperti dikutip BBC. Dia juga masih mengkhawatirkan keselamatan kaum Rohingya di Myanmar. (hep/c11/pri/jpnn/pul)

Berita Terkait


Dagelan Repatriasi Rohingya, Gelombang Pertama Cuma 5 Orang

Berangkatkan Food Truk Untuk Layani Makanan Pengungsi Rohingya

Bantu Etnis Rohingya, Ratusan Siswa SD Tulis Surat Untuk Jokowi

Hari Ini 10 Ribu Ton Beras Diberangkatkan Untuk Pengungsi Rohingya


Bantuan Untuk Rohingya dari Indonesia Sudah Tiba

Ungkap Solidaritas Kemanusiaan, Siswa Gelar Aksi Peduli Rohingya

Forum Lintas Agama Kutuk Aksi Kemanusian di Rohingya

Puluhan Mahasiswa se-Lumajang Gelar Aksi Peduli Rohingya
Berita Utama Lihat Semua

Berita Terkini Lihat Semua

Berita Terpopuler Lihat Semua

Surabaya Raya Lihat Semua

Rehat Lihat Semua



Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber