Berita Terbaru :
Antisipasi Virus Corona, 49 Narapidana Pulang Bebas Lebih Cepat
Cegah Virus Corona, 777 Napi di Jatim Dibebaskan
Politisi Senior KH Masykur Hasyim Tutup Usia
Daop 9 Batalkan Perjalanan Dua Kereta Api, Sampai Lebaran Ratusan Tiket Dibatalkan
Antisipasi Kedatangan Pemudik Polres Mojokerto Dirikan Posko Screening di Gerbang Tol Sumo
12 Warga Lamongan Positif Corona
Lima Pasien Positif Covid-19 Sembuh, Lainnya Membaik
Akses Keluar Masuk Desa Diperketat Secara Mandiri
Diapit Wilayah Zona Merah Bupati Dirikan Check Point di Tiga Pintu Masuk
Rumah Khusus Penampungan Warga Status ODR
Jalan Darmo dan Tunjungan Surabaya Ditutup 2 Minggu
Physical Distancing Tutup Jalur Penarukan-Malang Guna Memutus Rantai Penyebaran Virus Korona
Tim Medis Periksa Seluruh Perangkat Desa Geger
Petugas Bubarkan Kerumunan dan Pemuda Pesta Miras
Polisi Patroli dan Bubarkan Warga yang Nongkrong di Warkop
   

Pawai Ogoh-Ogoh di Jember, Cermin Kerukunan Umat Beragama
Peristiwa  Sabtu, 17-03-2018 | 11:06 wib
Reporter : Felli Kosasi
Setelah diarak, seluruh ogoh-ogoh akan dibakar sehingga hal-hal jahat yang ada disekitarnya juga akan ikut terbakar. Foto Felli
Jember pojokpitu.com, Jelang Hari Raya Nyepi tahun baru saka 1940, Jumat (16/3) di Desa Sukoreno Kabupaten Jember, menggelar upacara Tawur Agung Kesange. Atau lebih dikenal pawai Ogoh-Ogoh, untuk menunjukkan cerminan kerukunan umat beragama.

Ogoh-ogoh diarak sejauh 5 kilometer mengitari jalan desa. Setiap ogoh-ogoh diarak oleh puluhan warga, mulai muda hingga tua. Mereka juga mempertunjukkan atraksi tarian ogoh-ogoh.

Hadirnya Bupati Faida beserta Wakil Bupati, membuat upacara terasa spesial. Bahkan, Bupati  didapuk untuk secara langsung melepas pawai ogoh-ogoh.

Bupati Jember Farida menegaskan, bahwa apa yang dilakukan warga desa merupakan cermin kerukunan umat beragama. "Acara ini nantinya akan dimasukkan dalam agenda tahunan destinasi wisata religi Kabupaten Jember," jelasnya.

Sementara Ketua Panitia Tawur Agung Kesange, Wahyu Widodo mengatakan, makna dari upacara merupakan suatu perwujudan untuk menyingkirkan hal hal yang negatif. "Ini disimbolkan pada Butakala (ogoh-ogoh) yang akan di Pralina (dibakar), sebagai perwujudan pembersihan diri menuju tapa brata penyepian," ungkapnya. (pul)

Berita Terkait

Umat Hindu Suku Tengger Menggelar Tapa Brata Hari Raya Nyepi

Hari Raya Nyepi Tiadakan Tawur Agung

Potensi Pawai Ogoh-Ogoh, Agenda Pariwisata Tahunan

Umat Hindu Rayakan Tahun Baru Dengan Ritual Ngembak Geni
Berita Terpopuler
5,9 Juta Pelanggan Listrik di Jawa Timur Akan Dapatkan Keringanan Pembayaran
Metropolis  7 jam

Jalan Darmo dan Tunjungan Surabaya Ditutup 2 Minggu
Metropolis  3 jam

Pendapatan Makin Menurun, Tukang Becak Makin Terdesak Kebutuhan Hidup
Peristiwa  9 jam

Physical Distancing Tutup Jalur Penarukan-Malang Guna Memutus Rantai Penyebaran ...selanjutnya
Malang Raya  3 jam



Cuplikan Berita
Jalan Darmo dan Tunjungan Surabaya Ditutup 2 Minggu
Pojok Pitu

Berburu Manisnya Buah Srikaya Puthuk Tuban
Pojok Pitu

Kabupaten Nganjuk Menjadi Salah Satu Daerah Zona Merah di Jatim
Jatim Awan

Gencar Tracking, Pasca Dipastikan Positif Covid 19 di Kecamatan Geger
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber