Berita Terbaru :
Remisi Corona, 26 Narapidana Lapas Mojokerto Bebas Bersyarat
DAMRI Batasi Operasional Bus Cegah Penyebaran Virus
Antisipasi Virus Corona, 49 Narapidana Pulang Bebas Lebih Cepat
Cegah Virus Corona, 777 Napi di Jatim Dibebaskan
Politisi Senior KH Masykur Hasyim Tutup Usia
Daop 9 Batalkan Perjalanan Dua Kereta Api, Sampai Lebaran Ratusan Tiket Dibatalkan
Antisipasi Kedatangan Pemudik Polres Mojokerto Dirikan Posko Screening di Gerbang Tol Sumo
12 Warga Lamongan Positif Corona
Lima Pasien Positif Covid-19 Sembuh, Lainnya Membaik
Akses Keluar Masuk Desa Diperketat Secara Mandiri
Diapit Wilayah Zona Merah Bupati Dirikan Check Point di Tiga Pintu Masuk
Rumah Khusus Penampungan Warga Status ODR
Jalan Darmo dan Tunjungan Surabaya Ditutup 2 Minggu
Physical Distancing Tutup Jalur Penarukan-Malang Guna Memutus Rantai Penyebaran Virus Korona
Tim Medis Periksa Seluruh Perangkat Desa Geger
   

Hari Raya Nyepi, Ogoh-Ogoh Diarak Lalu Dibakar
Mataraman  Jum'at, 16-03-2018 | 20:03 wib
Reporter : M. Ramzi
umat hindu mengarak ogoh ogoh sebelum keudian membakarnya. foto M. Ramzi
Magetan pojokpitu.com, Umat hindu di eks Karisidenan Madiun, merayakan hari raya nyepi di Pura Sanggha Bhuana Magetan. Mengarak ogoh ogoh menjadi salah satu rangkaian perayaan hari nyepi tahun saka 1940. Setelah diarak, ogoh ogoh sebagai simbol kejahatan itu dibakar. Tawur kesanga, atau upacara bhuta yadnya, menjadi salah satu acara perayaan nyepi umat hindu di Pura Sanggha Bhuana Kabupaten Magetan.

Umat hindu yang datang dari berbagai daerah, seperti Madiun,Ngawi, Ponorogo dan Magetan, merayakan nyepi di pura yang berada di Kawasan Lanud Iswahyudi Magetan Ini.

Dalam rangkaian ritual nyepi menyambut tahun baru saka 1940 ini, umat hindu juga mengarak ogoh-goh. 2 raksasa, yaitu buto kala dan buto ijo, diarak keliling pura sanggha buana.
2 raksasa ini sebagai simbol unsur sisi buruk atau sisi kejahatan yang harus dihindari oleh setiap manusia. Simbol sifat binatang yang harus dijauhi oleh manusia, menuju sifat manusiawi.

menurut pemangku pura sanggha buana Magetan Tjening Sutarna menjelaskan, ogoh ogoh merupakan salah satu budaya, atau hiburan saat perayaan hari raya nyepi.

"Diaraknya ogoh ogoh, sebagai simbol untuk mentralisir energi negatif di sekitar pura menjadi energi positif," ujar Tjening Sutama.

Setelah diarak keliling pura, berputar berlawanan dengan arah jarum jam, ogoh-ogoh kemudian dibakar. Pembakaran ogoh-ogoh dilakukan saat pergantian dari siang ke malam.

Tjening Sutarna berharap, hari raya nyepi ini bisa menjadi bahan perenungan atas perbuatan yang dilakukan selama setahun terahir, serta meminta ampunan kepada tuhan, agar menjadi manusia yang lebih baik. (yos)




Berita Terkait

Umat Hindu Suku Tengger Menggelar Tapa Brata Hari Raya Nyepi

Hari Raya Nyepi Tiadakan Tawur Agung

Potensi Pawai Ogoh-Ogoh, Agenda Pariwisata Tahunan

Umat Hindu Rayakan Tahun Baru Dengan Ritual Ngembak Geni
Berita Terpopuler
5,9 Juta Pelanggan Listrik di Jawa Timur Akan Dapatkan Keringanan Pembayaran
Metropolis  7 jam

Jalan Darmo dan Tunjungan Surabaya Ditutup 2 Minggu
Metropolis  3 jam

Pendapatan Makin Menurun, Tukang Becak Makin Terdesak Kebutuhan Hidup
Peristiwa  9 jam

Physical Distancing Tutup Jalur Penarukan-Malang Guna Memutus Rantai Penyebaran ...selanjutnya
Malang Raya  4 jam



Cuplikan Berita
Jalan Darmo dan Tunjungan Surabaya Ditutup 2 Minggu
Pojok Pitu

Berburu Manisnya Buah Srikaya Puthuk Tuban
Pojok Pitu

Kabupaten Nganjuk Menjadi Salah Satu Daerah Zona Merah di Jatim
Jatim Awan

Gencar Tracking, Pasca Dipastikan Positif Covid 19 di Kecamatan Geger
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber