Berita Terbaru :
Pengunjung Cafe Hingga Kelompok Pemotor Terjaring Razia Jam Malam
Satgas OJK Temukan 105 Fintech Pinjaman Online Ilegal
Simulasi Wedding New Normal, Sejumlah Tradisi Dialihkan Untuk Cegah Penularan Covid-19
Matsani, Dari Supir Pribadi Menjadi Pengusaha Barbershop
Taksi Laut Tetap Eksis Sejak Tahun 1960
Pandemi Covid-19 Sejumlah Desa Area Sumber Mata Air Imbulan Alami Kekeringan
Pemerintah Tolak RUU Haluan Ideologi Pancasila
KAI Daop 8 Surabaya Kembali Operasikan KA Rute Surabaya-Jakarta
Jawa Timur Kembali Dapatkan Bantuan Obat Avigan
Nekat Curi Hape Dagangan, Karyawan Konter Plasa Marina Ditangkap
Cendikiawan NU Dukung Kementan Kembangkan Antivirus Eucalyptus
Puluhan Peserta UTBK Rapid Test di Lokasi Ujian
Mo Salah Memang Berhati Mulia, Ini Sedekah Terbarunya setelah Liverpool Juara
Gempar, Bayi Perempuan Dibuang di Teras Rumah Warga
46.334 Ribu Peserta UTBK Mulai Ujian Masuk PTN, Sempat Molor 15 Menit
   

Cuaca Ekstrem, Padi Roboh Petani Merugi
Mataraman  Selasa, 06-03-2018 | 04:12 wib
Reporter : Saiful Mualimin.
Jombang pojokpitu.com, Cuaca ekstrim yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Jombang, berdampak bagi sejumlah petani. Sebab puluhan hektar padi yang mulai masak dan menguning roboh rata dengan tanah.

Khawatir padi membusuk, petani di Desa Plumbon Gambang Kecamatan Gudo Kabupaten Jombang, terpaksa memanen sebelum waktunya. Meskipun agak kesulitan, petani tetap memanen padi yang telah roboh, petani takut usia padi yang belum cukup membuat   hasil mutunya kurang bagus.
 
Puluhan hektar tanaman padi di sejumlah Desa Di Kecamatan Gudo, roboh dan rata dengan tanah. Kondisi ini disebabkan akibat terjangan angin kencang yang melanda wilayah ini Selasa pekan lalu, sebagian besar padi yang mulai masak ini terendam air.
 
Salah satu petani Kusnan yang memanen padinya yang rohoh mengakui, hasil padinya memang menurun. Pasalnya, kondisi saat dipanen sudah ambruk.

"Takut membusuk dan tidak bisa dipanen terpaksa saya memanen lebih awal," ujar Kusnan.
 
Kusnan menambahkan, akibat kondisi ini dipastikan dirinya menderita kerugian cukup besar. Hasil panennya terjadi penurunan hasil antara 35 hingga 40 persen dari hasil panen normal.

Jika diasumsikan harga gabah perkilogram Rp 3.600, jika petani perhektar menghasilkan 6,5 ton, maka hanya terkumpul Rp 23,4 juta.  Padahal ongkos produksi, secara merata perhektarnya, membutuhkan dana Rp 24,5 juta belum termasuk biaya sewa. (pul)

Berita Terkait

Cuaca Ekstrim, Nelayan Pesisir Panarukan Enggan Melaut

Gelombang Tinggi, Nelayan Enggan Melaut

Waspada Cuaca Ekstrem Hingga Tiga Hari ke Depan

Cuaca Buruk, Dalam 2 hari 20 Penerbangan Delay
Berita Terpopuler
Gempar, Bayi Perempuan Dibuang di Teras Rumah Warga
Peristiwa  9 jam

Tradisi Nyadar, Ritual Penghormatan Petani Garam Digelar di Tengah Pandemi Covi...selanjutnya
Life Style  23 jam

BMKG Instal Alat WRS Untuk Pemantauan Gempa Bumi atau Tsunami
Peristiwa  22 jam

Menkes Serahkan Santunan Rp 300 Juta Kepada Nakes Gugur Covid 19
Kesehatan  21 jam



Cuplikan Berita
Dua Kadis Terpapar Covid-19, Kantor Terpaksa Dilockdown
Pojok Pitu

Pemkot Surabaya Tepis Isu Pemecatan Kadis DKRTH Surabaya
Pojok Pitu

Diserang Tikus, Petani Ponorogo Resah
Jatim Awan

Rumah Pegawai Lapas Mojokerto Jadi Sasaran Pelemparan Bom Molotov
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber