Berita Terbaru :
Salama Lebaran, Pelanggar PSBB Meningkat
Polisi Perketat Akses Masuk Perumahan Surabaya
Pengedar Sabu Jaringan Lapas Dibekuk Polisi
Balon Udara Ditemukan Jatuh di Atas Rumah Warga Magetan
PSBB Surabaya Raya Diperpanjang Kembali Sampai 9 Juni 2020
Pakar Komunikasi Unair Menilai PSBB Kurang Efektif
Akhir PSBB Tahap Dua, Jumlah Pelanggaran Masih Tinggi
Kabar Gembira, 17 Dari 77 Pasien Corona di Kabupaten Probolinggo Sembuh
Ibu Ini Ngamuk Ngamuk Jalannya Diportal, Begini Ceritanya
Data Terbaru Kasus Covid 19 Masih Ada Tambahan 479 Orang
Wisatawan Dipinggir Jalan Pacet Cangar Dibubarkan Petugas
Tidak Pernah Putus Asa, 17 Tahun Kiai Ini Berdakwah Tanpa Jamaah
Selama Lebaran Terminal Bayuangga Lumpuh
Jumlah Kasus Positif Covid 19 Ponorogo 24 Orang, Yang 8 Sudah Sembuh
Warga Binaan Lapas Wanita Silaturahmi Secara Virtual
   

Cuaca Ekstrem, Padi Roboh Petani Merugi
Mataraman  Selasa, 06-03-2018 | 04:12 wib
Reporter : Saiful Mualimin.
Jombang pojokpitu.com, Cuaca ekstrim yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Jombang, berdampak bagi sejumlah petani. Sebab puluhan hektar padi yang mulai masak dan menguning roboh rata dengan tanah.

Khawatir padi membusuk, petani di Desa Plumbon Gambang Kecamatan Gudo Kabupaten Jombang, terpaksa memanen sebelum waktunya. Meskipun agak kesulitan, petani tetap memanen padi yang telah roboh, petani takut usia padi yang belum cukup membuat   hasil mutunya kurang bagus.
 
Puluhan hektar tanaman padi di sejumlah Desa Di Kecamatan Gudo, roboh dan rata dengan tanah. Kondisi ini disebabkan akibat terjangan angin kencang yang melanda wilayah ini Selasa pekan lalu, sebagian besar padi yang mulai masak ini terendam air.
 
Salah satu petani Kusnan yang memanen padinya yang rohoh mengakui, hasil padinya memang menurun. Pasalnya, kondisi saat dipanen sudah ambruk.

"Takut membusuk dan tidak bisa dipanen terpaksa saya memanen lebih awal," ujar Kusnan.
 
Kusnan menambahkan, akibat kondisi ini dipastikan dirinya menderita kerugian cukup besar. Hasil panennya terjadi penurunan hasil antara 35 hingga 40 persen dari hasil panen normal.

Jika diasumsikan harga gabah perkilogram Rp 3.600, jika petani perhektar menghasilkan 6,5 ton, maka hanya terkumpul Rp 23,4 juta.  Padahal ongkos produksi, secara merata perhektarnya, membutuhkan dana Rp 24,5 juta belum termasuk biaya sewa. (pul)

Berita Terkait

Cuaca Ekstrim, Nelayan Pesisir Panarukan Enggan Melaut

Gelombang Tinggi, Nelayan Enggan Melaut

Waspada Cuaca Ekstrem Hingga Tiga Hari ke Depan

Cuaca Buruk, Dalam 2 hari 20 Penerbangan Delay
Berita Terpopuler
PSBB Surabaya Raya Bisa Diperpanjang, 2 Tahap Sebelumnya Dinilai Tak Efektif
Covid-19  9 jam

Seorang Warga Ponorogo Tewas Menenggak Racun Serangga
Peristiwa  7 jam

Petugas Amankan Truk Mudik Pengangkut Mobil
Peristiwa  11 jam

Akhir PSBB Tahap Dua, Jumlah Pelanggaran Masih Tinggi
Metropolis  4 jam



Cuplikan Berita
Marah, Kapolda Copot Oknum Kapolsek Karena Tertidur Saat Rapat Dengan Walikota
Pojok Pitu

H-2 Lebaran, Stasiun Gubeng Surabaya Sepi Penumpang
Pojok Pitu

PSBB Surabaya Raya Bisa Diperpanjang, 2 Tahap Sebelumnya Dinilai Tak Efektif
Jatim Awan

Unik, Anak Anak Ini Berebut Uang Lebaran di Pagar Rumah Warga
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber