Beranda       Nasional       Internasional       Life Style       Olah Raga       Opini       Sorot
Opini 

Museum Surabaya dan Institut Penelitian Kerajaan Belanda (KITLV)
Rabu, 06-05-2015 | 10:26 wib
Oleh : Nanang Purwono
pojokpitu.com, Hore...hore..! Begitulah sorak gembira warga Surabaya setelah Pemerintah Kota Surabaya meresmikan museum baru yang diberi nama Museum Surabaya. Museum, yang beralamat di jalan Tunjungan no. 1 ini, menambah jumlah museum yang sudah ada sebelumnya seperti museum 10 Nopember, museum Maritim, museum Kesehatan, museum House of Sampoerna, museum Bank Mandiri dan museum Bank Indonesia.

Meskipun Museum Surabaya ini terhitung baru, namun kota Surabaya sebenarnya sudah pernah memiliki museum kota yang dibuka pada tahun 1933 di masa pemerintahan Hindia Belanda. Namanya Stedelijk Historisch Museum atau museum sejarah kota. Museum, yang lokasinya sempat berpindah-pindah ini, akhirnya menjelma menjadi museum Mpu Tantular yang kini berstatus sebagai Museum Negeri Propinsi Jawa Timur dan berlokasi di Sidoarjo. Seperti apakah Museum Surabaya yang menempati lantai 2 gedung cagar budaya SIOLA itu? Mengamati benda-benda, yang dipajang di ruangan yang pernah dipakai sebagai pusat perbelanjaan itu, umumnya adalah benda-benda lama dari dinas-dinas di lingkungan SKPD Kota Surabaya. Misal Dinas Pemadam Kebakaran memnyumbangkan beberapa alat dan baju petugas pemadam kebakaran, Dispendukcapil menyumbangkan buku besar yang mencatat akta kelahiran warga di era Pemerintahan Belanda, serta beberapa meubeler dari gedung Bali Kota. Menurut Walikota Surabaya, Ir. Tri Rismaharini, sambil berjalan Museum Surabaya ini akan dilengkapi dengan benda-benda bersejarah yang menjadi saksi sejarah perkembangan Kota Surabaya.   Koleksi Pilihan Museum Surabaya sudah dibuka. Untuk sementara, isinya masih terkesan sekedar memindahkan barang-barang lama yang ada di masing-masing kantor SKPD. Kelak, Jika akan mengisi museum ini dengan serius, benda-benda yang akan didisplay hendaknya diseleksi dengan baik dan cermat sesuai dengan konsep Museum Surabaya. Tentu, Museum Surabaya  harus berbeda dengan museum yang sudah ada, khususnya Museum 10 November. Misal, jika mendapatkan benda-benda yang terkait dengan sejarah kepahlawanan 10 November 1945, kiranya akan lebih pas kalau ditempatkan di Museum 10 November. Hal ini untuk membedakan posisioning Museum Surabaya dan Museum 10 November atau Tugu Pahlawan. Museum Tugu Pahlawan, yang dibuka pada tahun 2000,  sebenarnya masih perlu mendapat perhatian untuk pengkayaan isi benda-benda koleksinya. Sejak dibuka tahun 2000, koleksinya relatif tetap itu-itu saja, meski pernah ada penambahan benda koleksi seperti mobil Opel dari keluarga Bung Tomo dan koleksi lainnya dari keluarga Mayjend Sungkono. Ruang relief pada bagian dalam tembok, yang mengelilingi taman dan halaman Tugu Pahlawan, juga masih kosong. Belum ada pengerjaan relief. Padahal, dulu pada awal-awal dibukanya museum, tembok, yang sudah dibingkai, akan dibuat relief perjuangan arek-arek Suroboyo. Namun hingga kini, sudah 15 tahun, space relief masih kosong. Kekuatiran akan melesetnya realisasi sebuah rencana bisa jadi terulang lagi pada proyek Museum Surabaya. Karenanya, pengelolaan Museum Surabaya yang diharapkan menjadi etalase sejarah perjalanan kota Surabaya yang panjang ini dapat tersajikan dengan baik. Pilihan benda-benda yang didisplay hendaknya bisa mewakili perjalanan sejarah. Penataan dan penempatan benda-benda koleksinya harus dilakukan secara sistematis dan kronologis sehingga memudahkan pengunjung memahami sejarah kota Surabaya. Museum Surabaya adalah representasi sejarah kota Surabaya.   KITLV: Recording The Future  Recording The Future adalah sebuah proyek pendokumentasian, yang dilakukan oleh Institut Penelitian Kerajaan Belanda, KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal, Land en Volkenkunde),  mengenai kehidupan sehari-hari di Indonesia termasuk di Surabaya. Mengacu pada nama proyek Recording the Future, proyek ini merekam masa depan Surabaya hingga tahun 2100 dan ini sudah dimulai sejak 2003. Menurut peneliti KITLV, Fridus Steijlen, yang datang ke Surabaya pada 2011 dan bertemu dengan penulis, peneliti KITLV yang terlibat dalam proyek ini akan datang ke lokasi yang sama setiap empat tahun sekali. Kepada penulis Fridus mengatakan bahwa ia pernah merekam kota Surabaya pada 2003 dan 2007. Rencananya KITLV akan datang tahun ini (2015) di lokasi yang sama seperti tahun 2003, 2007 dan 2011. Demikian seterusnya pada kurun waktu empat tahunan hingga tahun 2100 (abad ke-22) peneliti KITLV akan datang ke kota Surabaya untuk melakukan perekaman di lokasi yang sama. Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi ketika kita memasuki abad 22. Institut Penelitian Kerajaan Belanda, KITLV, akan memiliki dokumen visual kota Surabaya kembali ke awal abad 21. Mereka akan memiliki dokumen tentang Surabaya sepanjang abad 21. Proyek ini menunjukkan bahwa KITLV memiliki blue print yang dapat dijadikan panduan bagi siapa pun penelitinya, meski peneliti KITLV dalam proyek ini berganti-ganti. Apakah kita, secara kelembagaan, sudah memikirkan proyek untuk anak cucu kita meski pemimpin kotanya berganti-ganti? Jangan-jangan di abad ke-22 nanti, anak cuku kita masih tetap akan menengok Belanda untuk mencari sumber-sumber sejarah, seperti yang sudah kita lakukan selama ini. Alangkah sayangnya! Karenanya, Museum Surabaya hendaknya punya visi jauh ke depan sebagai lembaga yang bisa merajut sejarah perjalanan kota, setidaknya seperti yang dilakukan KITLV. Museum Surabaya harus selektif terhadap benda-benda koleksinya. Museum Surabaya tidak boleh pasif, hanya menunggu datangnya hibah dari warganya. Museum Surabaya harus aktif dan visioner agar bermanfaat sebagai sumber penelitian, pendidikan dan tentu pariwisata. Akhirnya, Museum Surabaya turut menyemarakkan HUT Kota Surabaya ke-722. Selamat dan Sukses! Dirgahayu Kota Surabaya! Penulis: Pemerhati Cagar Budaya Surabaya / Wapimred JTV Email: nanang_purwono@jtv.co.id

Berita Terkait


Museum Surabaya dan Institut Penelitian Kerajaan Belanda (KITLV)


Sponsored Content

loading...
Berita Utama Lihat Semua

Berita Terkini Lihat Semua

Berita Terpopuler Lihat Semua

Surabaya Raya Lihat Semua

Rehat Lihat Semua



Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber