Beranda       Nasional       Internasional       Life Style       Olah Raga       Opini       Sorot
Sosok 

Meski berat menjadi tulang punggung keluarga, Salinah tetap tabah dan bekerja keras, demi keluarga yang dicintainya. Foto Mubarok
Hebat, Ibu Ini Rawat Anak Keterbelakangan Mental dan Suaminya yang Sakit
Senin, 25-12-2017 | 21:25 wib
Oleh : Khusni Mubarok
Tuban pojokpitu.com, seorang ibu di Tuban, harus merawat anaknya yang cacat keterbelakangan mental sejak lahir dan suaminya yang saat ini sakit parah. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, ia mengandalkan upah sebagai buruh cuci pakaian, dan buruh tani.

Sejak matahari belum sempurna, Salinah warga Desa Sumberejo, Kecamatan Widang, Kabupaten Tuban, ini telah bangun dari tidurnya. Wanita berusia 55 tahun ini segera beranjak dan beraktifitas.

Dapur selalu menjadi tempat pertama mengawali kegiatan sebelum melangkah ke luar rumah. Menyalahkan api tungku, lalu memasak nasi tanpa lauk. Setelah masakan matang, Salinah lantas memberi makan anaknya, Suyati, 27 tahun. Anak semata wayangnya ini, sejak lahir mengalami kelainan dan keterbelakangan mental, sehingga tidak bisa apa apa. Pertumbuhan fisik dan mentalnya juga tidak sempurna seperti gadis pada usianya.

Salinah menjadi tulang punggung keluarga, sejak Jaswadi (60) suaminya, sakit paru paru dan tidak bisa bekerja 2 tahun terakhir. Selain merawat anaknya, ia juga harus merawat Jaswadi. Beban hidup seberat ini dipikul Salinah dengan penuh kesabaran dan ketabahan.

Salinah mengaku, untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, mencari nafkah dengan bekerja menjadi buruh cuci pakaian para tetangga. Karena tak ada pekerjaan layak bagi yang tidak mengenyam sekolah dasar.

Penghasilan sebagai buruh cuci pakaian yang tak menentu hanya cukup untuk kebutuhan makan. Bahkan setiap hari mereka terpaksa harus akrab dengan nasi tanpa lauk pauk. "Untuk mencari penghasilan lain, menjadi buruh tani, jika sedang musim panen," cerita Salinah.

Namun karena saat ini belum waktunya panen, Salinah menjadi buruh cuci pakaian, yang penghasilannya tidak menentu. Terkadang sehari mendapatkan upah Rp 10 ribu hingga Rp 20 ribu. "Uang itu hanya cukup untuk makan saja," kata Salinah.

Meski hidup serba sulit dan keterbatasan, Salinah tetap bekerja keras dengan sepenuh hati. Baginya tak ada yang lebih berharga selain hidup Suyati dan Jaswadi, anak dan suami. Bila nanti dirinya sudah tua dan tidak kuat bekerja lagi, dia berharap ada yang mau merawat sang anak dan suaminya. (pul)



Berita Terkait


Inneke Koesherawati Diciduk Dini Hari, Lantas?

3 Ton Beras Dikucurkan Untuk Warga Miskin di Probolinggo

15 Persen Penduduk Pacitan Hidup di Bawah Garis Kemiskinan

Nenek Hidup Sebatangkara Terima Bantuan dari Polres Lumajang


Pemprov Setengah Hati Menyelenggarakan Pendidikan Bagi Warga Miskin

3 Ton Beras Dikucurkan Untuk Warga Miskin di Probolinggo

Faktor Ekonomi, 2 Anak Janda Miskin Terpaksa Putus Sekolah

Warga Jatim Anggap Khofifah-Emil Mampu Tuntaskan Kemiskinan, Gus Ipul-Puti Mampu Tangani Infrastruktur
Berita Utama Lihat Semua

Berita Terkini Lihat Semua

Berita Terpopuler Lihat Semua

Surabaya Raya Lihat Semua

Rehat Lihat Semua



Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber