Beranda       Nasional       Internasional       Life Style       Olah Raga       Opini       Sorot
Kesehatan 

OKI Tunjuk Indonesia Jadi Pusat Vaksin dan Bioteknologi
Minggu, 10-12-2017 | 09:16 wib
Oleh :
Jakarta pojokpitu.com, Konferensi Tingkat Menteri Kesehatan Organisasi Kerja Sama Islam (KTM OKI) ke-6 di Jeddah Kamis lalu (7/12) menetapkan Indonesia sebagai Centre of Excellence on Vaccine and Bio-technology Products.

Menkes Nila F. Moeloek menyatakan kepercayaan tersebut merupakan pengakuan atas kinerja pemerintah Indonesia terkait industri vaksin dan produk bioteknologi yang lebih maju dibandingkan umumnya di negara-negara anggota OKI.

"Indonesia merupakan satu-satunya negara anggota OKI yang memiliki industri vaksin imunisasi lengkap yang diakui WHO," tuturnya.
Lebih lanjut Nila menjelaskan bahwa upaya tersebut merupakan lanjutan dari berbagai upaya Indonesia untuk mendorong pengakuan industri farmasi Indonesia di manca negara.

Pendirian Centre of Excellence on Vaccine and Bio-technology Products ini sangat penting untuk kemandirian negara-negara OKI dalam penyediaan vaksin dan produk bio-teknologi.

Melalui Centre of Excellence ini diharapkan dapat dilakukan riset bersama vaksin dan ketersediaan bioteknologi.

Dalam kesempatan Konferensi tersebut, Indonesia juga menampilkan beberapa praktek terbaik Pembangunan Indonesia Sehat, pelayanan kesehatan haji dan industri farmasi Indonesia, dalam pameran yang diselenggarakan pada Konferensi ini.

Sementara itu Guru Besar Vaksinologi dan Kajian Bioterorisme Universitas Airlangga, Surabaya, CA Nidom turut bangga dengan terpilihnya Indonesia sebagai Centre of Excellence on Vaccine and Bio-technology Products.

"Tapi saya tidak merasa aneh karena sudah dari beberapa tahun lalu Indonesia dilirik sebagai pusat baksin OKI. Saingan Indonesa hanya Iran," ungkapnya.

Nidom melanjutkan sebagai negara berpenduduk muslim tertinggi, Indonesia punya industri vaksin yang sudah medapatkan pengakuan dari Badan kesehatan dunia (WHO).

Menurutnya pengakuan tersebut harus menjadi pendorong lebih kuat. Misalnya dari sisi bisnis, dukungan politik pemerintah, masyarakat dan yang tidak kalah adalah para peneliti serta institusi riset.

"Saya sebagai peneliti vaksin dan bioteknologi yang sudah 10 tahun kerjasama dengan PT.Bio Farma, sering merasa dibiarkan sendirian oleh para pemangku kepentingan," ungkapnya.

Nidoma menyarankan agar memperkuat riset. Riset menurutnya sebagai hulu pembuatan vaksin dan bioteknologi.

"Tidak ada riset, maka tidak akan muncul inovasi. Tidak ada inovasi, jangan harap ada inventasi dan pertumbuhan ekonomi," ujar Nidom.

Menurut Nidom sayangnya selama ini sarana dan prasarana riset di Indonesia dikuasai oleh para pihak yang hanya mengedepankan kekuasaan.

"Yang harus dihindari, jangan sampai kita yang diakui tapi orang lain yang menikmati," tuturnya. (lyn/end)

Berita Terkait


OKI Tunjuk Indonesia Jadi Pusat Vaksin dan Bioteknologi

Berita Utama Lihat Semua

Berita Terkini Lihat Semua

Berita Terpopuler Lihat Semua

Surabaya Raya Lihat Semua

Rehat Lihat Semua