Berita Terbaru :
Hasil Survei: Tito Karnavian Menteri Paling Responsif di Era Pandemi
Dua Kepala Sekolah Ini Jadi Inspirasi Guru Penggerak
Youtube Blokir Akun yang Kerap Buat Konten Rasis
Koleksi Mobil Klasik David Beckham Dijual, Harganya Wow
Tips Agar Koneksi Internetmu Tidak Lelet
Malaysia Larang Orang Asing Salat Berjemaah di Masjid
Pakar Hukum Tata Negara Bicara soal Pelaksanaan Pilkada
Ternyata ini Klub Sepak Bola Kesukaan Ahmad Dhani
18 Tokoh Dianggap Layak jadi Menteri, Ada Ahok dan Grace Natalie
   

Pengakuan Yerusalem Ibu Kota Israel, Umat Kristen Pun Tak Rela
Politik  Kamis, 07-12-2017 | 14:37 wib
Reporter :
pojokpitu.com, Sejak masih jadi wacana, keinginan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel sudah menuai banyak kritik dan kecaman. Protes pertama jelas datang dari otoritas Palestina. Selanjutnya, Jordania ikut mengecam.

Presiden Prancis Emmanuel Macron pun ikut memperingatkan sang penguasa Gedung Putih tersebut. Tapi, ayah Ivanka itu bergeming. Dia akhirnya benar-benar merealisasikan janji kampanye kepada para pendukungnya dan Israel tersebut kemarin, Rabu (6/12).

Kemarin sejumlah besar pemimpin dunia ikut angkat bicara. Mulai Perdana Menteri (PM) Inggris Theresa May, pemerintah Tiongkok, Kremlin (Rusia), sampai Paus Fransiskus.

Liga Arab dan Organisasi Kerja Sama Islam juga tak tinggal diam. Mereka berusaha mencegah deklarasi Trump. Sebab, harga yang harus dibayar dunia untuk pelunasan janji kampanye mantan host The Apprentice itu terlalu mahal.

"Dia mendeklarasikan perang terhadap 1,5 miliar muslim dan ratusan juta umat Kristen yang tidak akan pernah rela situs-situs religius itu berada di bawah hegemoni Israel," ungkap Manuel Hassassian, kepala perwakilan Palestina untuk Inggris.

Mantan PM Palestina Ismail Haniyeh menggagas unjuk rasa selepas salat Jumat untuk mereaksi kebijakan Trump tersebut. Bagi Palestina, deklarasi Trump adalah kiss of death bagi proses damai Israel-Palestina.

Dengan mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, otomatis AS berpihak pada negara yang dipimpin PM Benjamin Netanyahu itu. Maka, posisi AS sebagai jembatan dalam perundingan damai gugur.

Sebab, AS berat sebelah. Oleh karena itu, Paus pun menyarankan AS membiarkan status quo Yerusalem. Tujuannya, proses damai bisa berlanjut dan menghasilkan kesepakatan permanen.

Tidak hanya memantik kecaman dari berbagai penjuru dunia, pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel juga membuat pemerintahan Trump terbelah.

Seorang sumber di Gedung Putih menyatakan kepada Reuters bahwa Menteri Luar Negeri Rex Tillerson dan Menteri Pertahanan Jim Mattis tidak mendukung kebijakan tersebut. (hep/c6/ttg/jpnn/pul)

Berita Terkait

Ssttt, Ini Berita Media Israel soal Kontak Rahasia dengan RI

Dukung Palestina, Anonymous Serang Website Pemerintah Israel

Buku IPS Kelas 6 SD Tertulis Ibukota Israel Adalah Yerusalem

Pengakuan Yerusalem Ibu Kota Israel, Umat Kristen Pun Tak Rela
Berita Terpopuler
18 Tokoh Dianggap Layak jadi Menteri, Ada Ahok dan Grace Natalie
Politik  8 jam

Ternyata ini Klub Sepak Bola Kesukaan Ahmad Dhani
Infotainment  7 jam

Pakar Hukum Tata Negara Bicara soal Pelaksanaan Pilkada
Pilkada  6 jam

Dua Kepala Sekolah Ini Jadi Inspirasi Guru Penggerak
Pendidikan  60 menit



Cuplikan Berita
Dua Kadis Terpapar Covid-19, Kantor Terpaksa Dilockdown
Pojok Pitu

Pemkot Surabaya Tepis Isu Pemecatan Kadis DKRTH Surabaya
Pojok Pitu

Diserang Tikus, Petani Ponorogo Resah
Jatim Awan

Rumah Pegawai Lapas Mojokerto Jadi Sasaran Pelemparan Bom Molotov
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber