Beranda       Nasional       Internasional       Life Style       Olah Raga       Opini       Sorot
Peristiwa 

Perjalanan Mistik Mencari Tuhan di Mata Rohaniawan Tiga Agama
Selasa, 28-11-2017 | 20:55
Oleh : Endang Pergiwati
Magelang pojokpitu.com, Setiap orang dalam aktivitas agamanya, bisa memiliki pengalaman religiusitas yang berbeda. Namun dari perbedaan itu semua, ada persamaan yang bisa ditarik sebagai religiusitas yang universal. Hal ini dapat disimpulkan dari uraian salah satu seminar dalam rangkaian acara Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF) 2017 di Magelang, dengan tema proses religiusitas dari beberapa agama di Indonesia.

Seorang Buddhis, sebutan untuk penganut Buddha, akan berupaya untuk mencapai pencerahan. Dalam proses tersebut, ia akan meninggalkan semua yang duniawi dan mendalami diri untuk mencapai suatu kondisi kesadaran yang sempurna. Ketika ia mencapai kesadaran tersebut, ia tidak akan dikendalikan oleh hawa nafsu maupun kebutuhan duniawi. Sebaliknya, keaadaran yang dicapai membuat ia mampu untuk mengendalikan atau bahkan menanggalkan kebutuhan duniawi. Seperti yang ditunjukkan darinkehidupan para Bikku. Ini disampaikan oleh Bhikku Santacitto.

Sementara  J. Sudrijanta, S.J. rohaniawan dari Agama Katolik ini menceritakan pengalaman spiritual yang dialami Bernadette Roberts.
"Selama ini tujuan akhir dari perjalanan spiritual Kristen adalah penyatuan diri dengan Tuhan atau Manunggaling Kawulo lan Gusti, namun pada seorang mistikus Katolik bernama Bernadette Roberts, bukan itu tujuan akhirnya. Melainkan sirnaning atau berakhirnya diri secara total," papar J. Sudrijanta.

Dalam perjalanan mistik Kristen, proses pemurnian diri tak lain adalah proses pembebasan diri dari ego sebagai pusat hidup yang digantikan oleh pusat ilahi atau titik hening atau Tuhan. Bagi Bernadette Roberts, proses penemuan kebenaran yang mencerahkan terus berlanjut sampai diri sepenuhnya lenyap.

Sudrijanta menyimpulkan, bahwa perjalanan mistik antara Buddha maupun Kristen memiliki kemiripan, tidak sama namun juga tidak berbeda. Karena keduanya muncul dari tradisi yang berbeda dengan keunikan masing masing, namun sama sama menuju pada penghujung jalan yang kurang lebih sama.

Sementara Prof. DR. Oman Fathurahman mengungkapkan, bahwa dalam tradisi Islam, salah satu aspek tasawuf yang sangat digemari oleh masyarakat Nusantara adalah doktrin wahdatul wujud, ajaran tasawuf falsafi yang menjelaskan hubungan ontologis Tuhan dan alam. Di Jawa, doktrin ini dikenal dengan nama Manunggaling Kawula lan Gusti.

Dari benang merah ini, ia yakin bahwa antar tradisi agama dapat saling berkomunikasi dan berinteraksi dengan damai melalui pendekatan spiritual, untuk mencari persamaan ketimbang mempertajam perbedaan. (end)


Berita Terkait


Lamalera Nyanyikan Alam Tanah Flores dalam Irama Universal

Perjalanan Mistik Mencari Tuhan di Mata Rohaniawan Tiga Agama

BWCF Gali Kembali Budaya Klasik untuk Warisan Generasi Mendatang

BWCF 2017 Bahas Pencarian Prinsip Religiositas di Masa Kini

Berita Utama Lihat Semua

Berita Terkini Lihat Semua

Berita Terpopuler Lihat Semua

Surabaya Raya Lihat Semua

Rehat Lihat Semua

Facebook





Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Koneksi Gagal Mas query= insert into deteksi_terpopuler (urut,tgl,jam,key_urut_berita,judul_berita,ip,jumlah_baca,perangkat) values ('1711375','2017-12-13','10:42:26','55914','Perjalanan Mistik Mencari Tuhan di Mata Rohaniawan Tiga Agama ','107.20.120.65','1','desktop')