Beranda       Nasional       Internasional       Life Style       Olah Raga       Opini       Sorot
Life Style 

BWCF 2017 Bahas Pencarian Prinsip Religiositas di Masa Kini
Selasa, 14-11-2017 | 21:53
Oleh : Endang Pergiwati
pojokpitu.com, Sebanyak 460 buah panel Relief Gandawyuha yang dipahatkan pada dinding lorong dua dan tiga Borobudur jarang sekali didiskusikan secara serius. Padahal relief ini berbicara tentang hal yang sangat relevan, seperti pencarian prinsip religiositas di tengah pertentangan fanatis agama dan sekuleritas saat ini.

Relief ini juga berbicara tentang kisah pencarian kebenaran tertinggi. Sesuatu yang ada dalam semua agama dan tradisi-tradisi besar dunia kerohanian mana pun.  Inilah salah satu alasan digelarnya Borobudur Writer and Cultural Festival di lokasi candi Borobudur.
Dengan mengundang para bikku, arkeolog, ahli agama Buddha, peneliti sutra serta kalangan agamawan lain untuk mendiskusikan pencarian ketuhanan di agama masing-masing. Tak ketinggalan juga para peneliti dan penghayat kebatinan, olah jiwa, tradisi-tradisi silat  di nusantara dan pelaku agama-agama lokal Nusantara.  

Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF) adalah sebuah festival tahunan yang diselenggarakan oleh Samana Foundation, sebagai wahana pertemuan bagi para penulis dan pekerja kreatif serta aktivis budaya pada umumnya dalam kerangka dialog lintas batas dan pemahaman interkultural. 

Setiap festival dihadiri oleh ratusan penulis, antropolog, sejarawan, mahasiswa, wartawan, dan masyarakat umum, dengan nata acara berupa seminar, pemutaran film, peluncuran buku, pementasan seni, lecture tentang sejarah Nusantara, workshop, dan pemberian penghargaan Sang Hyang Kamahayanikan Award kepada penulis, sejarawan, peneliti, budayawan, dan tokoh yang berjasa dalam pengembangan budaya dan sejarah Nusantara.

Sang Hyang Kamahayanikan Award tahun 2012 diberikan kepada SH Mintardja, seorang penulis silat, tahun 2013 diberikan kepada sejarawan bahari AB Lapian, tahun 2014 diberikan kepada sejarawan Peter Carey yang menulis riwayat Pangeran Diponegoro dan sejarah Jawa, dan pada tahun 2015 diberikan kepada Hadi Sidomulyo (Nigel Bullough), seorang arkeolog yang mendalami peradaban Majapahit. Kemudian 2016 penghargaan diberikan kepada Halilintar Latief atas jasanya memberdayakan komunitas bissu di Sulawesi Selatan dan almarhum Kartono Kamajaya atas jasanya menerjemahan dan menuliskan Serat Centhini ke dalam huruf latin.
 
Kegiatan BWCF 2017 yang akan digelar pada tanggal 23 hingga 25 November 2017 ini menyajikan seminar oleh penulis dan para pakar mengenai Gandawyuha dan Pencarian Ketuhanan Agama-agama Nusantara, pelepasan Buku yang terkait dengan topik Borobudur dan keberagaman tentang agama di Nusantara, gelar seni pameran dan  pertunjukan seni sastra, tari, teater dan musik yang mengangkat tema Keberagaman di Nusantara, serta pemberian penghargaan Sanghyang Kamahayanikan Award.

Sejumlah nama budayawan dan seniman yang turut ambil bagian dalam perhelatan ini adalah Romo Mudji Sutrisno, SJ , Prof. Dr Noerhadi Magetsari , Salim Lee, para penari Nungki Kusumastuti, Maria Darmaningsih, Yudhi Widdyantoro (instruktur yoga), perupa Hanafi, musik Tony Prabowo, serta sasrtawan Acep Zamzam Noor dan Yudhistira ANM Massardi dan para tokoh budaya lainnya. (end)






Berita Terkait


BWCF 2017 Bahas Pencarian Prinsip Religiositas di Masa Kini

Berita Utama Lihat Semua

Berita Terkini Lihat Semua

Berita Terpopuler Lihat Semua

Surabaya Raya Lihat Semua

Rehat Lihat Semua

Facebook





Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Koneksi Gagal Mas query= insert into deteksi_terpopuler (urut,tgl,jam,key_urut_berita,judul_berita,ip,jumlah_baca,perangkat) values ('1105996','2017-11-20','16:12:26','55284','BWCF 2017 Bahas Pencarian Prinsip Religiositas di Masa Kini ','23.20.129.162','1','desktop')