Berita Terbaru :
Walikota Risma Beri Perhatian Untuk Empat Anak Korban Tukang Sapu Makam Cabul
Nenek Renta Tinggal Di Gubug Reot Tak Layak Huni
14 Hari Pasca Ultimatum Presiden, Tingkat Kesembuhan Pasien Positif Covid di Jatim Tertinggi di Indonesia
Dinkes Lakukan Tracing dan Swab Di Sarangan
Meninggal Di RS Covid , Keluarga Tolak Dimandikan
Terjatuh Hindari Jalan Berkubang, Pegoes Asal Surabaya Tewas Terlindas Truk Tronton
Habaib-Ulama dan Tokoh Madura Tolak RUU HIP
Persentase Pasien Covid-19 Meninggal di Jatim Melebihi Luar Negeri
Taman Wisata Ngawi Mulai Ramai Pengunjung
Begini Tantangan Peternak Sapi di Tengah Pandemi Covid-19
Pemkab Magetan Gratiskan Rapid Test Bagi Pelajar, Mahasiswa, ASN dan Ibu Hamil
Pipa Gas Lapindo Bocor Resahkan Warga
Perawat Meninggal Akibat Covid 19 Menjadi 12
Sekolah di Tuban Ini Gratiskan Biaya Siswa Baru Selama Setahun
Kabar Gembira, 135 Pasien Covid 19 Kabupaten Mojokerto Sembuh
   

Kurang Tidur jadi Penawar Depresi?
Life Style  Minggu, 01-10-2017 | 06:34 wib
Reporter :
Ganguan Tidur, Temukan Jawabannya. Foto Empow Her
Jakarta pojokpitu.com, Tetap terjaga di malam hari mungkin menjadi kunci cepat untuk meningkatkan mood Anda. Periset di Perelman School of Medicine di University of Pennsylvania melihat kembali studi puluhan tahun lalu yang meneliti tentang kurang tidur dan menyimpulkan bahwa kurang tidur untuk sementara bisa memperbaiki gejala depresi hingga 50 persen.

Semua bentuk kurang tidur, mulai dari yang parsial (20 sampai 21 jam tanpa tidur) hingga 36 jam, merupakan obat anti-depresi yang efektif untuk pasien di seluruh demografi. Hal ini menurut analisis dari 66 studi bahasa Inggris mengenai topik ini dari 1974 hingga 2016.

Terlebih lagi, pasien dilaporkan merasa lebih baik hanya dalam waktu 24 jam setelah perawatan.

"Studi dalam analisis kami menunjukkan bahwa kurang tidur efektif untuk banyak populasi," kata penulis utama studi tersebut dan juga seorang associate klinis dan psikolog penelitian di Cpl. Michael J. Crescenz VA Medical Center, kepada Penn Medicine, Elaine Boland, seperti dilansir laman NYPost, Kamis (28/9).

"Terlepas dari bagaimana respons diukur, bagaimana kekurangan tidur disampaikan atau jenis depresi yang dialami subjek, kami menemukan tingkat respons yang hampir setara," jelas Boland..

Penelitian yang pertama kali diterbitkan dalam Journal of Clinical Psychiatry ini mengakui bahwa lebih banyak penelitian perlu dilakukan untuk menentukan mengapa kurang tidur bisa mengurangi depresi dengan sangat cepat.

"Lebih dari 30 tahun sejak ditemukannya efek antidepresi kurang tidur, kami masih belum memiliki pemahaman yang efektif mengenai seberapa efektif pengobatan dan bagaimana mencapai hasil klinis terbaik," kata penulis senior, Philip Gehrman, seorang profesor psikiatri dan anggota Penn Sleep Center.

Satu studi pada 2015, yang diterbitkan di Neuron, menemukan bahwa kekurangan tidur memengaruhi reseptor di lobus frontal yang juga dipengaruhi oleh antidepresan trisiklik dan ketamin.

Hubungan potensial antara kurang tidur dan peningkatan mood bukanlah hal baru.

Juru bicara psikiater Jerman Johann Christian August Heinroth yang juga menciptakan istilah "penyakit psikosomatik," menemukan bahwa kurang tidur memiliki efek positif pada pasien yang menderita depresi atau yang disebutnya "melankolis."

Sejak saat itu, dokter telah bereksperimen dengan beberapa jenis kurang tidur pada pasien depresi.

Terapi bangun, yang pertama kali dikembangkan pada 1970-an kadang diberikan pada pasien untuk melakukan perbaikan gejala depresi.

Sementara efektif, manfaatnya bersifat sementara dan pasien melaporkan kembalinya gejala mereka beberapa hari sampai seminggu setelah perawatan.

Bentuk lain dari kekurangan tidur yang disebut chronotherapy, yang menggabungkan wakefulness paksa dengan terapi cahaya terang bisa mencegah gejala depresi lebih lama.

"Sementara perawatan depresi tertentu menyebabkan kurang tidur, kurang tidur yang berkualitas mungkin merupakan faktor penyebab penyakit jiwa," menurut Sudhir Gadh, seorang psikiater dengan praktik pribadi di Manhattan.

Meskipun kurang tidur efektif untuk sementara mengurangi depresi, seharusnya hal ini tidak menjadi satu-satunya alat pengobatan.

Gadh mengatakan, pasien juga harus melakukan penyesuaian gaya hidup dan menggunakan obat yang disesuaikan serta menerapkan terapi berbasis bukti lainnya.

Dr. Nina Urban, menyatakan tidak cukup bukti untuk menyarankan kurang tidur adalah cara yang aman dan efektif untuk mengobati depresi dalam jangka panjang dan mungkin merugikan.

"Ketidakcukupan tidur kronis juga memengaruhi sistem kekebalan tubuh dan sistem kardiovaskular secara negatif dan meningkatkan risiko masalah medis lainnya,"  pungkasnya.(fny/jpnn/pul)


Berita Terkait

Viral ! Siswa Tidur-Tiduran Saat Proses Belajar Mengajar Berlangsung

Inilah Dampak Kekurangan Waktu Tidur Terhadap Daya Tahan Tubuh

Kurang Tidur Sebabkan Kamu Mudah Marah

5 Kiat Agar Tidur Lebih Berkualitas
Berita Terpopuler
Pengadilan Agama Gandeng Dispendukcapil Untuk Percepat Keluarkan Status
Teknologi  18 jam

Gabungan Forkopimda Ngawi Bubarkan Kerumunan Warga
Peristiwa  17 jam

Dishub Bojonegoro Gelar Operasi Kendaraan Parkir
Peristiwa  16 jam

Sejumlah 14 Destinasi Wisata di Trenggalek Kembali Dibuka Pada Era New Normal
Mlaku - Mlaku  10 jam



Cuplikan Berita
Viral Hasil Tes Rapid Peserta UTBK Berubah
Pojok Pitu

Dokter dan Satpam Postif Covid 19, Puskesmas Wates Mojokerto Ditutup Sementara
Pojok Pitu

Delapan Terkena Corona, Membuat Ribuan Karyawan PT KTI Diliburkan
Jatim Awan

Ternyata Satu Tersangka Pengambilan Paksa Jenazah Positif Covid 19
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber