Beranda       Nasional       Internasional       Life Style       Olah Raga       Opini       Sorot
Opini 

Persepakbolaan Indonesia Kembali Memasuki Masa Kelam
Rabu, 29-04-2015 | 08:32 wib
Oleh : Ambari Taufik
pojokpitu.com, Indonesia kembali memasuki masa kelam. Kekisruhan semakin dalam setelah Kementerian Pemuda dan Olahraga membekukan seluruh kegiatan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI). Kompetisi sepak bola pun dilarang untuk ditangani PSSI dan Kemenpora untuk sementara menyerahkan kepada Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) dan Komite Olimpiade Indonesia (KOI).

Persoalan pasti tidak selesai dengan keputusan untuk membekukan PSSI. Para pengurus PSSI sudah berancang-ancang untuk melakukan somasi kepada Menpora. Kalau somasi itu tidak diindahkan, maka mereka mengancam membawa masalah ini di ranah hukum.

Menpora pasti akan menghadapi persoalan besar apabila dibawa ke ranah hukum. Menurut Undang-Undang Sistem Keolahragaan Nasional, tugas pemerintah hanya sekadar membina olahraga. Pemerintah tidak bisa berbuat lebih jauh karena setiap induk olahraga memiliki anggaran dasar dan anggaran rumah tangga. Pemilik dari induk organisasi bukanlah negara atau pemerintah, tetapi para anggota yaitu para pengurus daerah.

Dalam UU SKN sudah ditetapkan, apabila terjadi kemelut di dalam induk organisasi keolahragaan, maka para anggotalah yang pertama-tama harus  menyelesaikannya. Apabila para anggota tidak bisa menyelesaikan persoalan, kasus dibawa ke arbitrase. Apabila upaya arbitrase pun tidak bisa menyelesaikan kekisruhan, maka kasusnya diselesaikan melalui jalur hukum.

Pengajuan kasus ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) bisa membuat pemerintah kalah, karena langkah pembekuan tidak ada dasar hukumnya. Kalau pemerintah sampai kalah, maka ini bukan hanya sekadar mencoreng muka pemerintah, tetapi mengindikasikan pemerintah itu lemah.

Sekretaris Jenderal PSSI periode sebelumnya, Joko Driyono, selalu menghindarkan konflik antara PSSI dan Kemenpora masuk ke ranah hukum. Sebab, dalam pandangannya negara tidak boleh sampai kalah. PSSI harus menghormati negara dan ikut menjaga kehormatan negara.

Untuk itu tentunya Kemenpora pun harus tahu diri. Jangan sampai Kemenpora masuk ke dalam langkah yang akan menjerumuskan dirinya sendiri. Bahkan membuat negara menjadi lemah. Pendekatan yang harus dilakukan Kemenpora adalah win-win solution.

KONI DAN KOI

Kemenpora seharusnya berbicara dengan KONI dan KOI. Tidak ada salahnya Kemenpora meminta pandangan dari kedua lembaga pembinaan olahraga prestasi tersebut. Apalagi ketika pemerintah ingin mendapat bantuan dari KONI dan KOI.

Sekarang ini kita melihat bagaimana KONI dan KOI tidak mau terlibat dalam konflik Kemenpora dan PSSI. Baik KONI maupun KOI tidak mau diserahi tanggung jawab untuk sementara mengelola kompetisi Liga Indonesia.

Langkah KONI dan KOI tepat karena mereka bukan lembaga olahraga yang mengurusi masalah teknis. Mereka tidak memiliki keahlian dan tenaga yang memadai untuk mengelola kompetisi sepak bola yang berskala nasional.

Salah-salah kompetisi bukannya menjadi lebih baik, tetapi malah semakin kacau. KONI dan KOI akan menjadi kambing hitam apabila gagal untuk mengelola kompetisi Liga Indonesia secara lebih baik.

Ironis apabila KONI maupun KOI justru menjadi organisasi yang lebih dewasa. Mereka menawarkan diri untuk menjadi penengah kisruh antara Kemenpora dan PSSI.

Mengapa kita katakan ironis? Karena seharusnya Kemenporalah yang lebih dewasa dalam MENANGANI persoalan pembinaan olahraga. Menpora adalah pejabat negara yang seharusnya menunjukkan kematangan dalam mengelola perbedaan. Ia harus mendahulukan wisdom, karena tugasnya adalah mengayomi dan membina olahraga nasional.

Fatalis

Sekarang ini kita melihat posisi antara Kemenpora dan PSSI sudah menang-menangan. Semua merasa dalam posisi yang benar dan memiliki kewenangan untuk bertindak.


PSSI

Padahal persoalan yang sedang kita bicarakan adalah persoalan olahraga. Kita bukan berbicara persoalan politik yang orientasinya adalah kewenangan dan kekuasaan. Olahraga adalah kegiatan masyarakat yang persoalannya harus diselesaikan dengan cara musyawarah mufakat.

Kedua belah pihak tidak bisa hanya mendahulukan egonya. Ini adalah persoalan bersama dari bangsa ini yang cara penyelesaiannya harus dilakukan secara bersama-sama. Semua masalah harus ditaruh di atas meja dan dicarikan jalan keluar terbaik.

Oleh karena sikapnya sudah menang-menangan, maka cenderung yang muncul sikap yang fatalis. Baik Kemenpora maupun PSSI bersikukuh dengan sikap masing-masing dan tidak peduli persepakbolaan nasional akan masuk ke dalam jurang yang dalam.

Mereka sama sekali tidak peduli bahwa sepak bola Indonesia akan dihukum oleh FIFA. Bahkan banyak pengamat mengatakan, tidak apa-apa sepak bola Indonesia dihukum, karena itu akan menjadi momentum bagi perbaikan sepak bola nasional.

Kelompok fatalis ini begitu menggampangkan persoalan. Padahal ketika sepak bola Indonesia dikucilkan dan kedua kubu tetap bersikukuh yang paling benar, maka pembenahan sepak bola tidak pernah akan terjadi.

Sepanjang masa itu, maka para pemain sepak bola nasional akan kehilangan profesinya. Demikian pula dengan para pelatihnya. Orang-orangtua semakin melarang anak-anak mereka terlibat dalam sepak bola. Para pengusaha yang sudah berminat untuk terjun menangani klub sepak bola akan hengkang. Para sponsor yang selama ini sudah mau mensponsori sepak bola Indonesia akan kapok berbisnis di Indonesia.

Sepak bola Indonesia akan menjadi parah. Klub-klub besar dunia tidak pernah akan mau berlaga di Indonesia, kalau kita dihukum oleh FIFA. Devisa akan mengalir keluar, karena pecinta sepak bola akan pergi ke Singapura, Malaysia, atau Thailand apabila ingin menyaksikan langsung pemain sepak bola dunia tampil.

Jangan Emosi

Persoalan sepak bola Indonesia tidak bisa diselesaikan dengan cara yang emosional. Kita harus berpikir tenang dan jernih untuk membenahi pembinaan sepak bola di negeri ini.
Kita seringkali terjebak dalam sikap emosional ketika berbicara sepak bola. Seakan-akan kita pernah mengalami kejayaan dan mengakui sebagai macan sepak bola Asia.

Padahal kalau kita menggunakan kurva huruf "S", sebetulnya sepak bola kita masih berada di posisi bawah dari kurva. Prestasi yang selalu dibanggakan adalah ketika Ramang dan kawan-kawan mampu menahan Uni Soviet 0-0 di Olimpiade Melbourne. Padahal itu hanya babak pertama dan kita tidak pernah bercerita bahwa keesokan harinya kita kalah 0-4.

Periode 1960 hingga 1990, Indonesia hanya pernah juara di ajang regional seperti Pesta Sukan dan Piala Anniversary Jakarta. Dua kali kita menjadi juara SEA Games 1987 dan 1991, selebihnya kita hanya juara ketiga dan sekali semifinalis Asian Games.

Sekarang ini prestasi semakin mundur karena lapangan sepak bola di seluruh kota di Indonesia semakin berkurang. Kita lebih mementingkan mengubah lapangan sepak bola untuk tujuan ekonomi, baik itu untuk membangun mal, taman kota, atau terminal.

Padahal tidak mungkin kita menemukan bibit berbakat apabila tidak ada ruang untuk bermain. Maradona, Ronaldo, hingga Ronaldinho, ditemukan dari jalanan. Pencari bakat yang menemukan bakat mereka dan kemudian mengasahnya untuk menjadi bintang besar.

Organisasi sepak bola tentunya harus juga dikelola lebih profesional. Mereka harus ditangani oleh sosok yang kredibel dan memiliki komitmen baik pikiran, tenaga, waktu, dan juga materi untuk memajukan persepakbolaan nasional.

Dengan organisasi yang lebih profesional itulah akan membuat pengusaha mau ikut terlibat. Kita sekarang tentunya bersyukur bahwa pengusaha seperti Glenn Sugita dan Erick Thohir mau menangani Persib Bandung. Sentuhan manajemen mereka akan membuat klub semakin profesional dan satu saat nanti diharapkan bisa membuat klub menjadi pilar pemasok pemain nasional.

Sekarang memang baru satu pengusaha yang benar-benar terlibat. Tetapi kita dengar Kelompok Salim dan SCTV juga mulai berminat untuk menangani klub Liga Indonesia. Ini tentunya akan menjadi modal berharga memperbaiki sepak bola nasional.

Tim Adhoc Sinergi PSSI sendiri mengusulkan tiga tahapan perbaikan sepak bola Indonesia mulai dari organisasi, pengelolaan kompetisi, dan pembinaan tim nasional. Lima tahun ke depan merupakan tahapan konsolidasi, karena memang banyak hal yang harus dibenahi. Baru setelah tahapan konsolidasi dilakukan dengan baik, kita memasuki tahapan "lepas landas" untuk periode 10 tahun depan. Setelah itu baru kita bisa menapaki periode "kemenangan" sampai puncaknya saat kita merayakan satu abad kemerdekaan Indonesia tahun 2045.

Lama memang perjalanan yang harus ditempuh sebelum kita mencapai puncak dari kurva huruf "S". Membina sepak bola memang membutuhkan kesabaran dan konsistensi. Tidak bisa kita meraih prestasi hanya sekadar mengandalkan sikap emosional dan personal. (pul)


Berita Terkait


Jelang KLB, PSSI Butuh Figur yang Independen dan Profesional

Yuli Sumpil Bebas Dari Sanksi PSSI

Sori, Edy Rahmayadi Akui Gagal Pimpin PSSI

Edy Rahmayadi Mengundurkan Diri, Harus Segera Siapkan KLB PSSI


Arema FC Tunggu PSSI Sodorkan Program Pembinaan Suporter

Yuli Sumpil Bebas Dari Sanksi PSSI

Ketua KPSN: Saldo Nol, Bagaimana PSSI Mau Biayai Tim Ad Hoc?

Laga Kontra Persinga Suram, Persebaya Siap Bantu PSSI

Sponsored Content

loading...
Berita Utama Lihat Semua

Berita Terkini Lihat Semua

Berita Terpopuler Lihat Semua

Surabaya Raya Lihat Semua

Rehat Lihat Semua



Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber