Berita Terbaru :
Bocah Diduga Disunat Makhluk Halus Gemparkan Warga Tuban
Hasil Swab, 19 Pegawai Dispendukcapil Positif Virus Corona
Siswa Tuna Netra Kelas 1 SLB Ikut Lomba Hafalan Alquran Tingkat Asia
PKB Rekom Gus Ipul Maju Pilwali Kota Pasuruan
Direktur Pasca Sarjana UINSA Melapor Dianiaya Teman Sejawat
Tabrak Dump Truk Parkir, Seorang Pengendara Tewas di Mojokerto
Dua Bakal Calon Bupati Sidoarjo Masih Menunggu Rekom DPP PDIP
Polda Jatim Gelar Lomba Dalmas Sabhara dan Wanteror Brimob
Sholawat Lita Machfud berkumandang di Kampung Surabaya
Sangat Penting Mencegah Konflik Dengan Teman
Satgas Covid Sidoarjo Gelar Razia Masker di Pasar Taman
KPU Sumenep Umumkan Pendaftaran Cabup dan Cawabup Segera Dibuka September
Gas Lpg 3 Kilogram di Magetan Mulai Sulit Didapat
Tercatat, Ratusan Hektar Sawah di Kabupaten Madiun Rusak Diserang Hama Wereng
Lestarikan Sumber Mata Air, Bupati Bojonegoro Bersama Forkopimda dan Masyarakat Kerja Bakti
   

Kekerasan Rohingya Berlanjut, Aung San Syuu Kyi Diam Saja ?
Peristiwa  Minggu, 03-09-2017 | 08:18 wib
Reporter :
Jakarta pojokpitu.com, Wakil Ketua Komisi I DPR TB Hasanuddin yang membidangi urusan luar negeri menyatakan, komunitas ASEAN harus kompak menekan Myanmar agar menghentikan kekerasan terhadap etnis minoritas Rohingya di Rakhine. Menurutnya, Idul Adha menjadi momen penting untuk menyuarakan pembelaan kepada kaum terindas.

Hasanuddin mengatakan, hingga pekan ini saja sudah lebih dari 100 muslim Rohingya tewas. Politikus PDI Perjuangan itu menegaskan, hak-hak seluruh pengungsi maupun etnis Rohingya harus dikembalikan, serta mendapat jaminan perlindungan dari negara yang pernah dikuasai junta militer itu.

"Jangan berpikiran dulu pengungsi ditampung negara-negara lain, maka masalah itu akan terus menerus terjadi. Myanmar harus bertanggung jawab dengan apa yang dilakukannya. Kekerasan harus dihentikan!" ujar Hasanuddin, Minggu (2/9).

Mantan sekretaris militer kepresidenan itu menambahkan, terlepas dari permasalahan politik, setiap negara harus menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia. Tapi, di Myanmar memang terlihat hal yang sangat ironis.

Aung San Suu Kyi yang saat ini menjadi penasihat negara di Myanmar merupakan peraih Nobel di bidang perdamaian. Namun, tokoh yang kini punya pengaruh besar dalam politik dan pemerintahan di Myanmar itu justru diam.

"Kita meminta kepada pemerintah Myanmar untuk bersikap arif, bijak dan adil. Apalagi, Aung San Suu Kyi adalah tokoh yang pernah mendapatkan Nobel Perdamaian," tutur Hasanuddin.

Pensiunan TNI dengan pangkat terakhir mayor jenderal itu menambahkan, jika kekerasan terhadap etnis Rohingya masih terus berlanjut, mestinya Nobel untuk Suu Kyi dicabut. Sebab, tokoh dunia kelahiran 19 Juni 1945 itu ternyata tidak menunjukkan sikap layaknya penyeru perdamaian, bahkan ketika punya posisi penting dan menentukan.

Selain itu, Hasanuddin juga mendukung dukung pertemuan rencana Menteri Luar Negeri Retno Marsudi untuk menemui Suu Kyi di Myanmar. "Kita mengharapkan ini diselesaikan dengan baik, sesuai dengan prinsip-prinsip keadilan," harapnya.(ara/jpnn/end)



Berita Terkait

Demi Rohingya, Menlu Retno Temui Aung San Suu Kyi demi Rohingya

Kekerasan Rohingya Berlanjut, Aung San Syuu Kyi Diam Saja ?
Berita Terpopuler
Direktur Pasca Sarjana UINSA Melapor Dianiaya Teman Sejawat
Metropolis  2 jam

Lagi, Perawat Senior RS Delta Surya Meninggal Akibat Covid 19
Metropolis  12 jam

Punggung Naga, Jalur Ekstrim Menuju Puncak Piramid
Mlaku - Mlaku  13 jam

Hasil Swab, 19 Pegawai Dispendukcapil Positif Virus Corona
Covid-19  34 menit



Cuplikan Berita
Ratusan Ibu Hamil Swab Massal di Gelora Pancasila
Pojok Pitu

Begini Pengakuan Bupati Menanggapi Pemakzulan DPRD Jember
Pojok Pitu

Awal September Subsidi Gaji Dari Pemerintah Cair 1,2 Juta
Jatim Awan

Lupa Mematikan Kompor, 1 Rumah di Bojonegoro Terbakar
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber