Berita Terbaru :
Pelaku Diduga Copet Diamankan Polisi Usai Gasak HP Milik Demonstran
Demo Tolak RUU Omnibus Law di Tengah Pandemi Covid-19
Dokter dan Perawat RSUD Caruban Terpapar Virus Corona
Warga Dibuat Bingung Atas Pelayanan PDAM
Sebanyak 30 Persen PPDP Surabaya Enggan Melakukan Rapid Tes
Polresta Banyuwangi Ungkap Kasus Narkoba Dalam Bungkusan Rengginang
Empat Tahun Buron, Perampok Sadis Dibekuk Jatanras
Robot Arta Mulai Layani Rapid Tes UTBK di Unair
Menko PMK Kecewa Jatim Tak Bisa Penuhi Target Dua Minggu Dari Jokowi
Perwali No 33, Masuk Surabaya Wajib Rapid Tes Bagi Warga Luar Kota
Sidak Takaran Minyak, Petugas Temukan Produsen Nakal
Program Diskon Pajak Selama Corona Berhasil Meningkatkan PAD Rp 562 Milyar
Kemenko PMK Tinjau Ruang PUPR Untuk Pasien Suspect Covid 19
3 Terdakwa TPA Winongo Divonis 5 Tahun Penjara
Demo Mahasiswa Didepan Kantor Bupati Berujung Ricuh
   

Kekerasan Rohingya Berlanjut, Aung San Syuu Kyi Diam Saja ?
Peristiwa  Minggu, 03-09-2017 | 08:18 wib
Reporter :
Jakarta pojokpitu.com, Wakil Ketua Komisi I DPR TB Hasanuddin yang membidangi urusan luar negeri menyatakan, komunitas ASEAN harus kompak menekan Myanmar agar menghentikan kekerasan terhadap etnis minoritas Rohingya di Rakhine. Menurutnya, Idul Adha menjadi momen penting untuk menyuarakan pembelaan kepada kaum terindas.

Hasanuddin mengatakan, hingga pekan ini saja sudah lebih dari 100 muslim Rohingya tewas. Politikus PDI Perjuangan itu menegaskan, hak-hak seluruh pengungsi maupun etnis Rohingya harus dikembalikan, serta mendapat jaminan perlindungan dari negara yang pernah dikuasai junta militer itu.

"Jangan berpikiran dulu pengungsi ditampung negara-negara lain, maka masalah itu akan terus menerus terjadi. Myanmar harus bertanggung jawab dengan apa yang dilakukannya. Kekerasan harus dihentikan!" ujar Hasanuddin, Minggu (2/9).

Mantan sekretaris militer kepresidenan itu menambahkan, terlepas dari permasalahan politik, setiap negara harus menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia. Tapi, di Myanmar memang terlihat hal yang sangat ironis.

Aung San Suu Kyi yang saat ini menjadi penasihat negara di Myanmar merupakan peraih Nobel di bidang perdamaian. Namun, tokoh yang kini punya pengaruh besar dalam politik dan pemerintahan di Myanmar itu justru diam.

"Kita meminta kepada pemerintah Myanmar untuk bersikap arif, bijak dan adil. Apalagi, Aung San Suu Kyi adalah tokoh yang pernah mendapatkan Nobel Perdamaian," tutur Hasanuddin.

Pensiunan TNI dengan pangkat terakhir mayor jenderal itu menambahkan, jika kekerasan terhadap etnis Rohingya masih terus berlanjut, mestinya Nobel untuk Suu Kyi dicabut. Sebab, tokoh dunia kelahiran 19 Juni 1945 itu ternyata tidak menunjukkan sikap layaknya penyeru perdamaian, bahkan ketika punya posisi penting dan menentukan.

Selain itu, Hasanuddin juga mendukung dukung pertemuan rencana Menteri Luar Negeri Retno Marsudi untuk menemui Suu Kyi di Myanmar. "Kita mengharapkan ini diselesaikan dengan baik, sesuai dengan prinsip-prinsip keadilan," harapnya.(ara/jpnn/end)



Berita Terkait

Demi Rohingya, Menlu Retno Temui Aung San Suu Kyi demi Rohingya

Kekerasan Rohingya Berlanjut, Aung San Syuu Kyi Diam Saja ?
Berita Terpopuler
FKPPI Demo Tuntut DPR RI Membatalkan RUU HIP
Peristiwa  4 jam

Tuntut Kejelasan Kasus Korupsi Warga Demo Kejaksaan
Peristiwa  8 jam

Inkrah Sejak Januari Hingga Juni, Kejari Kabupaten Malang Musnahkan Barang Bukti...selanjutnya
Malang Raya  5 jam

Grebeg Mobil Bergoyang di Dekat Masjid Agung Tuban
Peristiwa  5 jam



Cuplikan Berita
Anak Jerapah Lahir di Tengah Pandemi
Pojok Pitu

Anak SD Dinikahkan Siri Dengan Pria Beristri Tiga
Pojok Pitu

Ingin Ketahui Fakta Penanganan Covid 19, Kapolda Jatim Akan Berkantor di Polsek
Jatim Awan

Begini Gejala Awal Hingga Rudy Ermawan Yulianto Meninggal Dunia
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber