Beranda       Nasional       Internasional       Life Style       Olah Raga       Opini       Sorot
Hukum 

Sengketa Lahan, Perangkat Desa Turut Campur Sembunyikan Informasi
Minggu, 13-08-2017 | 16:06
Oleh : Khaerul Anwar
Malang pojokpitu.com, Penyegelan lahan yang dilakukan LSM Reclassering dengan memberikan bantuan hukum kepada korbannya, Abdul Soleh yang direbut paman korban sendiri, Samawi.

Korban yang tidak ingin meributkan permasalahan ini, memilih menunggu kesadaran pamannya tersebut, namun sang paman malah menguasai sejak 2003 lalu dengan mengatakan dirinya memiliki akta tanah yang mengakibatkan masyarakat hanya bisa diam.

Tanah tersebut merupakan lahan pinjam pakai (P2) yang selama itu digarap oleh paman korbannya, Legimin, yang kemudian dibayar kepada korban sebagai pengganti sebesar Rp 7,5 juta pada tahun 1989.

Bergulirnya waktu, setelah Legimin meninggal dunia, pada tujuh harinya itulah berusaha merebut lahan tersebut dan membabat habis pohon njabon yang tumbuh di dalam lahan itu.

Bahkan, program prona tahun 2003 telah mengeluarkan sertifikat atas nama Abdul Soleh dan sudah dicek di agraria. Selama ini, informasi ini rupanya disembunyikan carik, Suwandi, hingga akhirnya mengeluarkan sertifikat setelah diancam akan dilaporkan polisi.

Bahkan dengan bantuan Badan Reclassering yang bergerak di bidang hukum, sempat dilakukan pengecekan di Badan Pertanahan Nasional (BPN) dan memang sertifikat ada dan juga divalidasi keabsahannya.

Sempat terjadi ketegangan sedikit saat pelaksanaan penyegelan lahan, lantaran Samawi tidak terima dengan menyuruh Muh. Soleh, Kamituo Desa Ringinsari, Kecamatan Sumbermanjingwetan mendatangi penyegelan tersebut.

Namun, setelah ditunjukkan keabsahan kepemilikan tanah dengan menunjukkan sertifikat dan memakai notaris saat penandatanganan, maka perangkat desa tersebut hanya terdiam dan berusaha memojokkan Samawi yang dianggap tidak memiliki surat.

Hal aneh ditunjukkan di desa tersebut dalam pengurusan sertifikat pada program prona. BPN mengeluarkan sertifikat terlebih dahulu sebelum mengeluarkan akta tanah - tanda kepemilikan dari desa, yang seharusnya terbalik.

Menurut Abdul Soleh, pada kejadian meninggalnya Legimin, dirinya sudah mengganti tanah tersebut dengan membayar sejumlah Rp 7,5 juta dan dirampas oleh saudaranya sendiri dengan langsung membabat isi dari lahan itu dan menguasai.

Jika Samawi tidak terima akan keputusan keabsahan kepemilikan lahan tersebut, dirinya menyarankan untuk menempuh jalur hukum dan dirinya diketahui tidak memiliki surat-surat tanah yang disampaikan itu.

Jika ternyata terjadi pengrusakan yang dilakukan pihak Samawi dengan menggunakan orang suruhan, maka terpaksa Abdul Soleh mengggunakan proses hukum yang berlaku saat ini.(end)





Berita Terkait



Berita Utama Lihat Semua

Berita Terkini Lihat Semua

Berita Terpopuler Lihat Semua

Surabaya Raya Lihat Semua

Rehat Lihat Semua

Facebook





Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber