Beranda       Nasional       Internasional       Life Style       Olah Raga       Opini       Sorot
Ekonomi Dan Bisnis 

Kata Pakar, Harga Rokok Semestinya di Atas Rp 50 Ribu
Rabu, 26-07-2017 | 12:04
Oleh :
Jakarta pojokpitu.com, Pakar kesehatan kembali menggulirkan ide tentang kenaikan harga rokok. Sebab, harga rokok rata-rata Rp 20 ribu hingga Rp 25 ribu per bungkus saat ini masih sangat murah. Mestinya, harganya dua kali lipat. Idealnya justru di atas Rp 50 ribu per bungkus.

Angka itu merupakan hasil kajian para akademisi di bidang kesehatan untuk menekan jumlah perokok pemula. Harga Rp 50 ribu dianggap efektif untuk membuat perokok pemula berpikir dua kali untuk membeli rokok.

Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Hasbullah Thabrany mengatakan, ide tentang harga rokok Rp 50 ribu per bungkus perlu digalakkan terus. Tujuannya untuk mengurangi jumlah perokok.

"Saya kira kita memulai dengan Rp 50 ribu, itu aspirasi publik berdasarkan survei. Kami tanya, harga berapa sih orang akan berhenti merokok, jawabannya segitu," ujarnya seperti diberitakan JawaPos.Com.

Harga Rp 50 ribu pun tidak akan langsung berdampak positif untuk menekan angka perokok pemula. Sebab, efeknya baru akan terasa pada 20 tahun kemudian.

"Rp 50 ribu memang orang akan mulai bergenti merokok namun efeknya masih akan 20 tahun lagi. Masyarakat akan mengurangi konsumsi rokoknya," tegasnya.

Hasbullah menambahkan, saat ini yang dibutuhkan adalah ketegasan politik dari pemerintah. Namun, sambungnya, justru kini yang ramai adalah Rancangan Undang-undang (RUU) Pertembakauan.

Menurut Hasbullah, pemerintah sebenarnya punya peluang menaikkan harga rokok cukai rokok. Namun, hal itu tidak dilakukan.

Padahal, kata dia, potensi cukai rokok besar dan. "Cukai rokok bahkan lebih besar dari tax amnesty. Lebih besar dan negara lagi butuh duit," tukasnya. 

Selain itu Hasballah mengatakan, jurus pemerintah mengampanyekan bahaya merokok dengan memasang gambar seram pada kemasannya ternyata tak efektif. Sebab, langkah itu tak mengurangi jumlah perokok.

"Gambar seram di bungkus rokok kurang. Rokok yang dijual di Nepal dengan volume lebih kecil ada 90 persen dengan bungkus rokok begitu. Kita cuma 40 persen, kenapa takut," jelasnya.

Dia juga menyesalkan banyaknya warung dan toko kelontong yang mengizinkan penjualan rokok dalam jumlah ketengan atau satuan. "Diketeng itu membuat anak semakin terjerumus bisa membeli dengan mudah dan murah," tandasnya.(ika/JPC/jpnn/pul)

Berita Terkait


Jawa Timur Masih Diserang Rokok Ilegal

Cukai Rokok Naik, Pengusaha Minta Pemerintah Tegas Berantas Rokok Ilegal

NGERI, Rokok Elektrik Untuk Anak-Anak Beredar di Sidoarjo, Harganya Rp 38 Ribu

Merokok di Tempat Sembarangan Akan Kena Sanksi


Diduga Karena Api Puntung Rokok, Sebuah Traktor Ludes Dilalap Si Jago Merah

Saat Pemusnahan Jutaan Batang Rokok Ilegal, Mendadak Ada Ledakan Kecil

Begini Cara Hentikan Kebiasaan Merokok

Bea Cukai Kediri Musnahkan Ratusan Ribu Rokok Ilegal, Miras dan Sex Toys
Berita Utama Lihat Semua

Berita Terkini Lihat Semua

Berita Terpopuler Lihat Semua

Surabaya Raya Lihat Semua

Rehat Lihat Semua

Facebook





Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber