Beranda       Nasional       Internasional       Life Style       Olah Raga       Opini       Sorot
Citizen Journalism 

Reuni Literasi Trenggalek, Literasi Sebagai Basis Ekonomi Kreatif
Sabtu, 15-07-2017 | 16:59 wib
Oleh : Nurani Soyomukti
Trenggalek pojokpitu.com, Sekitar 80 aktivis literasi, penulis, dan peminat buku yang terdiri dari aktivis Quantum Litera Center Trenggalek (QLC), pelajar, mahasiswa, guru berkumpul di RT 28 RW 05 Dukuh Tenggong, Desa Kedungsigit, tepatnya di bawah Kaki Gunung Jabung Karangan, Trenggalek.

Acara bertajuk Reuni Literasi Trenggalek 2017 ini mengambil tema Menegaskan Peran Gerakan Literasi Sebagai Basis Ekonomi Kreatif Trenggalek.

Acara ini adalah kesempatan bagi para peminat literasi yang tersebar di 14 Kecamatan Trenggalek melakukan silaturahmi. Sebagian melepas kangen karena ada beberapa penulis dan aktivis literasi yang selama ini hilang dari peredaran datang ke acara ini. 

Beberapa pengurus QLC lama yang tak aktif karena kuliah di luar kota juga banyak yang hadir. Mereka menceritakan bahwa apa yang didapat dari proses berliterasi selama di QLC dulu amat bermanfaat bagi pengembangan diri mereka di kampus. Nikmah, salah seorang mahasiswi di IAIN Tulungagung mengaku bahwa acara ini amat bermakna karena bisa mempertemukan kembali dirinya dengan aktivis literasi Trenggalek. 

"Alhamdulillah, dulu kita belajar berteater dan menulis, sekarang kita ketemu kembali dengan kakak-kakak pelatih," tegas gadis manis dari Kampak ini.

Acara reuni ini  berjalan dengan santai. Tak ada acara sereminial. Pembawa acara, Herie Fendie yang juga salah satu wakil ketua QLC menawarkan siapapun yang ingin maju, boleh bernyanyi, baca puisi, stand up comedy, dan menggagas rencana pemberdayaan literasi.
"Wacana serius dan santai kita jadikan satu saja, monggo siapapun yang ingin maju, yang lain juga boleh ngobrol untuk melepas kangen," papar pemuda yang juga kepala sekolah SMPIT Al Azhar Gandusari ini.

Masing-masingpun maju ke depan. Revy, pemain piano Trenggalek, mengiri penampilan para hadirin. Seperti terbawa kenangan Arisan Sastra 2010-2013 yang menjadi cikal bakal gerakan literasi Trenggalek, beberapa hadirin tak sabar untuk maju dan membacakan puisi.  Aplaus meriah pun tumpah di setiap penampilan. 

Sementara itu, sebagian hadirin juga tampak asik di ruang baca SEKAR (Sanggar Edukasi dan Kreasi Anak Rakyat) yang dikelola Devi Rianti dan Wemin Susanti, warga desa Tenggong Kedungsigit yang menjadi tuan rumah. Ada berbagai rak dengan buku-buku yang menjadi santapan dan mengiringi obrolan ramah di antara mereka. Sebagian hadirin acara ini memang belum berkenalan.

Setelah acara makan bersama dengan hidangan lodho dan ikan Tuna pedas, para hadirin disuguhi dengan  diskusi yang sudah disiapkan oleh panitia. Diskusi bertema literasi sebagai basis ekonomi kreatif Trenggalek didahului oleh ketua QLC Nurani yang menegaskan bahwa peran literasi tak bisa disangkal lagi merupakan basis ekonomi kreatif sekaligus sektor pengungkit kesadaran baru di Trenggalek.

Nurani mengatakan, sebenarnya kalau pemerintah mau mendukung, yang paling siap untuk dibantu dikembangkan adalah industri kreatif bernama literasi dengan produksi buku yang merupakan salah satu ekonomi kreatif. Pada saat sektor lain belum siap, berproduksi secara massif, ungkap Nurani, komunitas literasi terus memproduksi karyanya secara massif.  

"Yang terakhir adalam buku Lelaki Pengagum Hujan (LPH) yang laris manis seperti kacang goreng hingga stok kita habis," papar pria berkepala botak asal Watulimo ini.

Nurani menceritakan bagaimana tim pemasaran buku tiap haris harus ke tempat pengiriman barang karena bukan hanya orang Trenggalek dalam kota yang berminat pada buku tersebut. "Tapi juga lebih banyak orang Trenggalek yang berdiaspora di luar yang menjadi konsumen buku ini," ungkapnya.

Ditambahkan oleh Nurani bahwa mengingat eksistensi penulis yang butuh "eksis", maka seharusnya pemerintah juga  membantu dengan menggunakan wewenang yang bisa dilakukannya. "Misal, menggunakan otoritasnya untuk mewajibkan perpustakaan dan sekolah-sekolah membeli buku buku karya penulis Trenggalek," tambahnya.

Paparan berikutnya  yang amat menarik datang dari seorang peminat literasi yang juga Kepala Dinas Industri dan Tenaga Kerja, bapak Yudy Sunarko.  Ia mengatakan bahwa sektor industri kreatif di Trenggalek belum begitu diperhatikan. Pada hal, paparnya, sektor ini menjadi sektor yang amat penting untuk digali. Industri kreatif yang paling pesat di Jawa Timur, berdasarkan data yang dikutip, adalah kuliner. Dan dalam hal ini, kuliner masih kalah jauh dari Tulungagung. Sektor ini, menurut Pak Yudy, harus digarap. Tapi yang  harus digarap secara serius adalah industri budaya, Trenggalek cukup kaya dalam hal ini.

Pak Yudy menyetujui, bahwa gerakan literasi sangat penting sekali dalam ekonomi kreatif. Tidak ada kegiatan ekonomi kreatif yang lepas dari ini. Ia mencontohkan industri kreatif Kaos Dagadu Yogya yang menggunakan kreativitas menyusun kata-kata sebagai daya tariknya. "Sektor IT, perikalan, perfilman dan lain sebagainya pun juga basisnya adalah literasi," tegas pria kelahiran Nganjuk ini.

Menanggapi pertanyaan tentang bagaimana eksistensi produksi bisa berkembang, ia ingin merangkul QLC untuk membuat naskah film. "Bukan hanya puisi, cerpen, esai, tapi juga saya tantang teman-teman membuat naskah film dan nanti kita kawal bersama hingga produksi dan editingnya," tantang Yudy Sunarko.

Sementara itu, dalam sesi diskusi banyak gagasan yang muncul. Terutama agar eksistensi literasi semakin menyemai. Muncul program kegiatan antara lain rencana launching buku LPH di beberapa kecamatan. Juga acara Tadarus Buku yang akan membuat kampanye buku dan implementasi budaya baca tidak hilang. 

Acara berakhir sekitar pukul 14.00. Gerimis kecil yang turun di pagi hari, ternyata sudah diganti dengan cahaya matahari yang terus bergeser ke  barat. Acara Reuni Literasi ini juga disemarakkan dengan barter buku. Penulis cilik Ifa dengan novelnya yang diterbitkan penerbit Mizan menukar dua eksemplar karyanya dengan kumpulan cerpen Lelaki Pengagum Hujan.

Reuni ini menandai lagi kebangkitan literasi Trenggalek. Salam Literasi!

Berita Terkait


Reuni Literasi Trenggalek, Literasi Sebagai Basis Ekonomi Kreatif

Berita Utama Lihat Semua

Berita Terkini Lihat Semua

Berita Terpopuler Lihat Semua

Surabaya Raya Lihat Semua

Rehat Lihat Semua



Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber