Beranda       Nasional       Internasional       Life Style       Olah Raga       Opini       Sorot
Politik 

Maju Cawagub Jatim, Nurwiyatno (Bisa) Tidak Dilirik Partai
Sabtu, 01-07-2017 | 15:46
Oleh : Dewi Imroatin
Surabaya pojokpitu.com, Di tengah sejumlah nama birokrat yang dinilai layak maju dalam pertarungan Pilgub Jatim ternyata terdapat satu birokrat yang berani mendeklarasikan diri maju sebagai Bacawagub Jatim, yakni Kepala Inspektorat Pemprov Jatim, Nurwiyatno.

Majunya sosok birokrat tulen tersebut memunculkan tanda tanya besar, yakni apakah Nurwiyatno sebagai Ketua (Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia) PA GMNI Jatim benar-benar sosok yang nasionalis dan mampu menguasai daerah abangan atau sebaliknya hanya mengandalkan posisinya sebagai struktur PA GMNI yang imbasnya tidak akan dilirik oleh calon gubernur dan partai pengusung?

Agus Mahfud Fauzi, Konsultan Politik Bangun Indonesia, menyampaikan, memutuskan maju dalam pertarungan Pilgub Jatim tidak sekedar membutuhkan keberanian dengan sebatas mendeklarasikan diri, tapi calon yang maju harus juga memiliki kekuatan riel di bawah sehingga benar-benar diperhitungkan oleh partai politik maupun calon gubernur yang akan maju. 

Sebaliknya, jika hanya mengandalkan keberanian namun belum memiliki kekuatan riel di tingkat bawah maka partai maupun calon gubernur tidak akan melirik.

"Keputusan Pak Nurwiyatno maju Pilgub Jatim tidak cukup hanya dengan modal berani mendeklarasikan diri maju Pilgub Jatim, tapi Pak Nur harus bekerja keras membuktikan dirinya memiliki kekuatan sebagai nasionalis yang mampu menguasai daerah nasionalis atau abangan di Jatim. Jika Pak Nur hanya mengandalkan posisinya sebagai Ketua PA GMNI Jatim, maka tidak akan ada partai politik maupun calon gubernur yang meliriknya," ungkap mantan komisioner KPU Jatim ini.

Agus memaparkan, yang harus diketahui pula posisi Nurwiyatno maju Pilgub Jatim saat ini berbeda jauh dengan posisi Pakde Karwo, yang juga seorang birokrat pada 2008 yang memutuskan maju Pilgub Jatim. Pakde Karwo tidak hanya seorang birokrat tulen tapi dia juga Politisi yang dulu pernah menjadi Sekertaris Partai Golkar Jatim. 

Tidak hanya itu, Pakde Karwo saat itu duduk sebagai orang nomer satu di jajaran birokrasi Pemprov Jatim, yakni Sekda yang memiliki kewenangan mengambil keputusan. Bahkan Pakde Karwo saat memutuskan maju Pilgub Jatim tidak secara tiba-tiba, tapi melalui proses panjang dan penuh perjuangan yakni intens bergerak hingga tingkat bawah, sampai mengikuti dan memenangkan konvensi cagub PDIP. 

"Berbagai fakta itu menunjukkan Pakde Karwo memutuskan maju Pilgub Jatim tidak sekedar mengandalkan posisinya sebagai struktur di PA GMNI, melainkan memiliki kekuatan riel sehingga benar-benar diperhitungkan oleh partai politik," pungkasnya.

Agus kembali memaparkan, sedangkan posisi Nurwiyatno saat ini hanya sebagai birokrat tulen yang posisinya pun bukan sebagai orang nomer satu melainkan suporting, sehingga tidak bisa mengambil keputusan. 

Tidak hanya itu background pak Nur dalam politik pun jauh berbeda dengan Pakde Karwo. Dari latar belakang itu, jika Pak Nur serius maju dalam Pilgub Jatim, ia harus bekerja lebih keras dengan waktu yang singkat ini untuk membuktikan dirinya mampu dan memiliki kekuatan sebagai nasionalis. 

Agus menambahkan, jika Nurwiyatno serius harusnya, mulai saat ini dia ikut mendaftarkan diri ke seluruh partai, sekaligus intens bergerak di bawah, hal itu dilakukan untuk membuktikan dirinya layak dan diperhitungkan sebagai kandidat Bacawagub Jatim. 

"Yang harus diingat, dulu pakde karwo memutuskan berdampingan dengan Gus Ipul sebagai cawagub tidak hanya dikarenakan Gus ipul perwakilan dari NU, tapi juga dikarenakan Gus Ipul memiliki kekuatan riel yang mampu mengamankan suara dari kalangan hijau atau NU, sosok Gus Ipul pun memiliki latar belakang politik yang jelas, sekaligus mantan menteri desa tertinggal. Maju pilgub jatim tidak sekedar mengandalkan kekuatan dari bacagub tapi bacawagubnya pun harus memiliki kekuatan riel," tegasnya.

Agus menegaskan, yang harus diingat pula Nurwiyatno adalah birokrat yang menjadi anak buah dari gubernur artinya ada etika birokrat yang harus dilalui. (end)

Berita Terkait


Soekarwo: Soal Posisi Cawagub Jatim, Partai Demokrat Tak Bisa Ditawar

Partai Demokrat Buka Pendaftaran Cagub-Cawagub Jatim

Maju Cawagub Jatim, Nurwiyatno (Bisa) Tidak Dilirik Partai

Golkar Inginkan Cawagub Jatim di Pilgub Jatim 2018


Maju Cawagub Jatim, Nurwiyatno (Bisa) Tidak Dilirik Partai

Golkar Inginkan Cawagub Jatim di Pilgub Jatim 2018

DPP PPP Siapkan Musyaffa Maju Cawagub Jatim
Berita Utama Lihat Semua

Berita Terkini Lihat Semua

Berita Terpopuler Lihat Semua

Surabaya Raya Lihat Semua

Rehat Lihat Semua

Facebook





Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber