Beranda       Nasional       Internasional       Life Style       Olah Raga       Opini       Sorot
Opini 

Nurani Soyomukti berkaos biru.
Membaca Gerakan Anti Kapitalisme Tambang Trenggalek
Sabtu, 27-05-2017 | 14:55
Oleh : Nurani Soyomukti, pegiat literasi Trenggalek
pojokpitu.com, Tambang akan selalu menjadi incaran pemodal besar dan pemodal asing. Eksploitasi tambang adalah jantung kapitalisme global untuk mengembangkan dirinya, mencari keuntungan, dan mempertahankan relasi imperialisme global. Kenapa demikian? Karena dengan mengeksploitasi tambang, bahan mentah untuk menghasilkan produksi manufaktur yang merupakan bahan dari produk yang nantinya akan dijual ke pasar global. Pun salah satunya juga dijual ke masyarakat di mana hutan-hutan dan tanahnya telah diekploitasi.

Intinya adalah bahwa bahan mentah yang ditambang dari  daerah pedesaan dan wilayah pinggiran itu akan dibawa oleh modal asing ke wilayah produksinya, kemudian hasilnya (produk) akan  dijual ke masyarakat mana saja termasuk daerah di mana bahan mentah itu didapat. Kapitalis telah mendapatkan keuntungan besar dengan mengeksploitasi bahan yang murah, lalu mendapatkan pasar yang luas.

Mereka mendapatkan bahan untuk besi dan baja dari sini. Lalu hasilnya datang ke sini berupa produk-produk yang dijual ke kita. Pertanyaannya adalah kenapa kita yang punya bahan tambangnya, tapi kita tak bisa memanfaatkan dan mengolahnya, justru pihak luar yang mendapat keuntungannya. Pertanyaan ini sejauh ini jarang disadari oleh banyak orang, apalagi para pengambil kebijakan yang justru menjadi sekutu para eksploitator tambang.

Kesadaran justru seringkali muncul dari kalangan rakyat sendiri, terutama yang sudah menyadari bahaya dampak  dari eksploitasi tambang. Didukung oleh wawasan dari para aktivis yang sudah lama mengorganisir gerakan dan wacana untuk menyikapi eksploitasi  tambang. Mulai muncul kesadaran bahwa memang perusahaan (kapitalis) sebagai pihak yang diuntungkan, sedangkan rakyat setempat sebagai pihak yang dirugikan.

Salah satu kerugian yang paling besar adalah yang berdampak jangka panjang, yaitu kerusakan lingkungan hidup dan kelangkaan sumber-sumber pangan. Pembangunan industri  dan limbah industri jelas-jelas akan merusak bahan pangan dan menghancurkan ekosistem yang dihidupi warga. Alasan inilah yang paling menonjol dari yang diungkapkan oleh para juru bicara aksi demonstrasi rakyat Desa Dukuh, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek pada Hari Jumat (26/05/2017) kemarin.  Mereka menolah eksplorasi tambang emas di wilayahnya oleh PT Sumber Mineral Nusantara. Kegiatan eksplorasi yang sudah dilakukan sejak tahun 2013 itu ditolak karena rakyat mulai menyadari bagi kehidupan mereka baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

ILUSI  INVESTASI
Ekspansi modal dengan menyasar pada jantungnya, yaitu pertambangan, sesungguhnya mudah dan sudah diramalkan sejak awal dengan menggunakan hukum-hukum tentang  mosi historikal  sistem kapitalisme dengan epos gerak dan kontradiksi-kontradiksinya. Kapitalisme era kuno berupa kolonialisme telah memetakan kekayaan alam nusantara secara detail. Kehadiran penjajah asing ke nusantara, termasuk di Trenggalek, tentu dimulai dengan pengetahuan mereka tentang betapa kayanya daerah ini.

Trenggalek punya  lahan pertanian yang bisa ditumbuhi tanaman yang bisa jadi komoditas  untuk pasar global di jaman kolonial Belanda. Dan modal asing juga mengetahui bahwa di bawah pepohonan dan tanaman yang tumbuh itu sebagian juga ada pertambangan yang menjanjikan. Maka era inilah saatnya, pemodal asing ingin sekali mengambil kekayaan tanah Trenggalek.

Mereka tampaknya menilai saatnya sudah tepat.  Karena saat ini ijin pertambangan bukan lagi wewenang pemerintah daerah Kabupaten. Dengan mencari sekutu di kalangan pejabat dan orang kuat di atas sana, perusahaan kemudian punya keyakinan kuat bahwa mereka akan bisa dengan mudah melakukan kegiatan eksplorasi dan nantinya eksploitasi. 

Membaca berita yang berkembang, kita tahu bahwa pemerintah Propinsi sendiri mengatakan belum mengetahui kegiatan eksplorasi ini. Sedangkan pemerintah daerah Kabupaten Trenggalek sendiri yang sekarang memimpin juga sudah mengatakan pada janji kampanyenya pada Pilkada 2015 lalu bahwa ia mendukung spirasi rakyat menolak tambang. Demikian juga spektrum politik di lembaga wakil rakyat (DPRD) ketika menanggapi demo warga Dukuh kemarin. Sebagaimana dikatakan Sukaji salah seorang pimpinan Dewan, ia mendukung aspirasi rakyat dalam menolak tambang.

Yang harus dikawal  sebenarnya adalah sikap para elit ini. Apakah bisa konsisten ataukah akan berubah. Kasus-kasus konflik tambang di berbagai daerah menunjukkan bahwa perusahaan bisa melakukan banyak cara untuk memenangkan tujuannya. Mulai dari merubah sikap elit, hingga menghabisi aktivis anti-tambang dengan bantuan mafia dan preman.

Bagi pemerintah sendiri yang punya kepentingan untuk melakukan pembangunan, masuknya perusahaan tambang sebenarnya cukup menggoda dalam konteks mengundang  investasi. Investasi asing yang datang biasanya dianggap biaya gratis untuk pembangunan karena masuknya modal dianggap sebagai awal bagi dinamisnya perputaran ekonomi. Modal datang, peredaran uang akan terjadi.

Modal datang artinya akan ada kegiatan ekonomi produksi (eksploitasi). Kegiatan produktif (ekonomi riil) bagi kapitalis merupakan berkah karena bisa mengatasi krisis kapitalisme  yang biasanya hanya gelembung-gelumbung cek kosong di pasar saham. Kita tentu ingat, tidak mudah mengundang modal besar masuk ke suatu wilayah. Modal besar sulit masuk jika tidak ada garansi keuntungan yang didapat.

Sedangkan bicara Trenggalek, tak ada hal yang strategis untuk dilirik modal besar. Untung mengembangkan usaha produktif selain tambang, tampaknya hampir tak ada harapan. Karena itulah, pihak pemerintah daerah juga mungkin saja melihat tambang adalah satu-satunya cara paling rasional untuk dibiarkan dieksploitasi karena keuntugan datangnya investasi itu tadi.

Maka akan muncul bayangan nikmat tentang hidupnya ekonomi ketika ada perusahaan tambang yang berproduksi dengan cara mengekslpoitasi apa yang ada di dalam tanah Trenggalek. Di situ akan membutuhkan  tenaga kerja. Di situ  mulai banyak orang datang yang membutuhkan konsumsi. Tenaga kerja yang dapat upah butuh membelanjakan uangnya, para penjual akan datang. Usaha dianggap hidup karena ada pertukaran ekonomi. Proyek-proyek insfrastruktur akan lancar. Kegiatan usaha mengundang berbagai jenis usaha lain. Munculnya usaha-usaha baru akan meramaikan Trenggalek. Cara memajukan Trenggalek dengan jalan membuat keramaian ini juga sudah menjadi hal yang sering disajikan. Keramaian yang dianggap sebagai cara memunculkan  kemajuan.

Sedangkan cara pihak perusahaan (kapitalis) tambang untuk mempengaruhi sikap para pengambil kebijakan dan elit lokal bisa jadi menggiurkan, bisa berupa konsesi ekonomi-politik yang menyokong upaya mempertahankan dan meluaskan kekuasaan. Di tengah situasi politik berbiaya tinggi (high-cost politics) di kalangan elit dan politisi, sogokan berupa dana dan sumberdaya politik lain pada kekuasaan lokal bisa jadi membuat mereka mau memuluskan jalan eksplorasi dan eksploitasi tambang ketimbang mendukung dan memperjuangkan penolakan rakyat terhadap perusahaan tambang.

Cara mencegahnya salah satunya adalah melakukan komunikasi verbal melalui tuntutan dan penyampaian aspirasi pada elit Trenggalek. Demo seperti yang terjadi kemarin adalah salah satunya. Kontak-kontak rakyat terhadap elit dengan tuntutan yang tak berubah dan pemahaman yang tajam tentang masalah yang ada harus terus dilakukan. Jika elit dan wakil rakyat, termasuk pemimpin daerah, terus diajak berkomunikasi, mereka akan semakin merasakan betapa seriusnya keinginan masyarakat untuk menolak tambang.

Jadi yang dilakukan bukan menjauhi para pengambil kebijakan dan elit lokal, tapi justru mendekatkan tuntutan rakyat, aspirasi, keinginan, dan narasi-narasi kepentingan massa rakyat pada elit ini. Sebab, musuh utama rakyat sesungguhya bukanlah elit lokal. Di sini, kontradiksinya jelas-jelas antara kapitalis tambang dari luar, dengan rakyat Trenggalek. Komunikasi yang verbal dan intens antara rakyat dan elit lokal, akan membuat kepentingan rakyat Trenggalek melebur jadi satu-menjadi gerakan nyata masyarakat Trenggalek dalam menolak tambang.

MEMBANGUN GERAKAN RAKYAT
Lebih jauh lagi, perjuangan rakyat Trenggalek untuk menyelamatkan masa depan kehidupan ekonomi dan lingkungannya perlu perjuangan massif, serius, dan punya perspektif yang lebih progresif. Perspektif yang maju ini tentunya adalah yang didukung oleh syarat-syarat membangun gerakan yang punya cara pandang ideologis yang maju tentang persoalan, serta membangun strategi-taktik yang canggih untuk mewujudkan tujuannya. Harus ada perspektif penyatuan gerakan rakyat. Dan harus bernuansa lebih politis, sebab jantung persoalan ini adalah politik kaum modal yang akan mungkin bisa bersekutu  politisi dan elit lokal.

Pertama, cara pandang terhadap masalah tambang dengan  lingkungan hidup dan kesejahteraan rakyat, terutama wilayah yang terkena dampak jika benar-benar terjadi eksploitasi. Mereka harus terus memahami persoalan-persoalan mereka dengan berpijak pada cara pandang kerakyatan dan berperskektif ekologis. Harus ada aktivitas penajaman  ideologi dan permasalahan-permasalahan yang ada. Forum-forum rembug warga, terbitan dan bacaan, aktivitas edukasi, harus mulai banyak dilakukan.

Kedua, penyatuan gerak(an). Rakyat yang terancam industri tambang harus terus berjejaring dengan kelompok-kelompok sipil yang peduli lingkungan. Lembaga non-pemerintah yang konsen terhadap isu lingkungan  harus terus mengawal dan memajukan gerakan rakyat. Sedangkan aktivis-aktivis lokal harus dimunculkan terus. Membangun kader-kader militan yang punya kemampuan mengorganisir gerakan. Pada saat yang sama,  antara gerakan satu tempat dan tempat lain, baik rakyat Dukuh, Rakyat Kampak, Rakyat Sumberbening, dan rakyat lain yang tengah menghadapi ancaman yang sama harus disatukan.

Ketiga, memassifkan aktivitas propaganda dan mengundang solidaritas dari berbagai pihak. Memanfaatkan jaringan dan media (sosial) yang mudah diakses. Kasus tambang di beberapa daerah di Indonesia, termasuk daerah Kendeng, bisa dijadikan pelajaran betapa memanfaatkan media sosial juga membantu untuk mendukung perjuangan.

Sejarah menujukkan bahwa perjuangan yang berhasil adalah yang tak mudah terpecah belah, yang terorganisir dengan baik, yang mempunyai kecakapan-kecakapan dalam melakukan pengorganisiran. Sejauh ini yang terjadi pada gerakan anti-tambang Trenggalek sudah berjalan. Tetapi momentum ini harus dijadikan moment kebangkitan rakyat, harus terus maju dan meluas. Bukan hanya menjadi gerakan anti-tambang saja, tetapi kesadaran rakyat yang sudah mulai maju nantinya akan menjadi investasi politik luar biasa bagi kehidupan demokrasi di Trenggalek dan Indonesia.

Sejauh ini, rakyat bawah terus butuh penguatan untuk menjadi sebuah kekuatan kontrol bagi kebijakan yang sementara ini masih elitis dan terlaksana atas dasar imaji-imaji elit yang jauh dari harapan nyata rakyat. Riak-riak gerakan massa bisa menjadi kekuatan sipil yang potensial untuk membesar dan meluas. Sebab kata kunci demokrasi adalah masyarakat sipil yang kuat dan maju, yang dengan mudah merespon anasir-anasir perilaku elit yang punya agenda sendiri. Rakyat bersatu tak bisa dikalahkan. El pueblo unido hamma serra fencido! (end)

Trenggalek, 27/05/2017





Berita Terkait


Membaca Gerakan Anti Kapitalisme Tambang Trenggalek

Berita Utama Lihat Semua

Berita Terkini Lihat Semua

Berita Terpopuler Lihat Semua

Surabaya Raya Lihat Semua

Rehat Lihat Semua

Facebook





Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber