Beranda       Nasional       Internasional       Life Style       Olah Raga       Opini       Sorot
Mlaku - Mlaku 

Ashima dan Ahei Masa Kini : Delegasi Pemprov Jatim mengenakan baju adat Suku Yi
Delegasi Pemprov Jatim Melihat Langsung Eksotika Hutan Batu di Kunming
Jum'at, 19-05-2017 | 17:14
Oleh : Imam Syafii
Kumning pojokpitu.com, Delegasi Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim juga mengunjungi tempat wisata Stone Forest (hutan batu) di Kunming Provinsi Yunnan ketika memenuhi undangan resmi Pemerintah Tiongkok pekan lalu.

Berkunjung ke Kunming terasa kurang lengkap tanpa singgah ke Stone Forest. Destinasi wisata ini menjadi salah satu ikon Provinsi Yunnan. Stone Forest atau Shilin dalam bahasa Mandarin merupakan formasi bebatuan raksasa menjulang tinggi dengan berbagai bentuk.

Stone Forest berada di daerah otonomi Shilin Yi. Wisata bebatuan itu  terletak sekitar 87 kilometer tenggara pusat kota Kunming. Keindahaan lokasi wisata yang masuk daftar cagar budaya alam UNESCO itu sudah terlihat dari jauh. Bebatuan besar menjulang berjajar di berbagai sudut. 

Untuk menjelajahi Stone Forest seluas 350 kilometer persegi, wisatawan disediakan mobil listrik. Pengunjung bisa menyewa mobil berkapasitas 10-12 penumpang tersebut. Seperti dilakukan rombongan kami yang berjumlah 11 orang, yaitu Deasy Diah Ernani dari Biro Humas, Kerjasama dan Protokol Pemrov Jatim, Andhika Paratama Herlambang dari Badan Perencanaan dan Pembangunan, Wemmi Niamawati dari Dinas Peternakan, Sugiastuti dari Dinas Pertanian, dan Deidy Setyawan dari Bagian Kerjasama Luar Negeri Pemprov Jatim. 

Yang lainnya adalah Kasat Bimmas Polrestabes Surabaya AKBP Minarti Tarmijan, Direktur JTV Imam Syafii dan Produser TVRI Yuli Astiono Muji Prayitno. Serta Anita Yang Junchu, penterjemah kami, juga Lili dan Miss Rao Yanli, keduanya dari Pemprov Yunnan. 

Perjalanan kami ke Stone Forest dipandu oleh Liu, warga asli Suku Yi. "Saya akan mengajak Anda mengelilingi hutan bebatuan paling eksotis di seluruh dunia," kata Liu setengah berpromosi. Liu yang mengenakan pakaian adat sukunya memandu kami dengan menggunakan bahasa Inggris yang fasih.

Menurut Liu, Stone Forest merupakan bebatuan purba. Usianya diperkirakan lebih dari 270 tahun. Dulunya bebatuan ini berada di bawah permukaan air laut yang terangkat ke permukaan karena gempa besar yang melanda Tiongkok di masa lalu.

Setelah turun dari mobil listrik, Liu mengajak kami masuk dan menyusuri ke area Greater Stone Forest. Dia menunjukkan bebatuan dengan berbagai bentuk. Mulai dari berbentuk pedang, keris, menara, dan lain-lain. Juga ada batu yang dijuluki Ashima. 

Menurut legenda, Ashima digambarkan sebagai sosok gadis desa berparas sangat rupawan. Dia mempunyai kekasih bernama ahei yang akhirnya tewas dibunuh kepala desa yang ingin merebut Ashima dari tangan Ahei. Ashima pun berduka amat mendalam. Dia kemudian mengasingkan diri ke sebuah tempat yang tidak diketahui orang lain hingga membatu. 

Stone Forest benar benar terawat dengan baik. Tidak corat-coret di bebatuan. Semua batu dalam kondisi bersih. Tidak salah kalau pemerintah China mengklasifikasikan Stone Forest sebagai destinasi wisata level AAAAA (A5) atau tempat wisata dengan tingkat atraktif paling tinggi.

Suasana di Stone Forest sangat nyaman dan aman. Kebersihan terjaga di tempat ini. Di banyak sudut dengan mudah ditemukan tempat sampah dan petugas kebersihan. Selain itu, kamera pemantau juga tersebar di sana sini.

Pengunjung juga bisa menyewa pakaian tradisiional yang disewa seharga 10 Yuan (Rp 20 ribu). Model baju adat yang disewakan itu kabarnya seperti dipakai Ashima dan pujaan hatinya, Ahei. Lima delegasi dari Jatim pun ingin mencoba pakaian tradisional Suku Yi itu. Deasy, Wemmi, Tutik dan Minarti mengenakan baju Ashima, yang lengkap dengan menggendong keranjang bunga. Sedangkan Andhika mengenakan pakaian Ahei berikut pedangnya. Mereka lalu berfoto bersama dengan latar belakang bebatuan. 

Tidak usah khawatir jika tidak membawa kamera. Terdapat puluhan juru foto yang menawarkan jasa foto, termasuk cetaknya. Tidak terlalu mahal. Hanya 10 Yuan (Rp 20 ribu) untuk sekali pemotretan dan cetak foto seukuran kartu pos.

"Pengelola paham di mana lokasi yang bagus untuk berfoto dan beristirahat," kata Deasy yang juga ketua rombongan dari Pemprov Jatim. Di spot tersebut lantas dibangun sarana seperti tempat persinggahan dan toilet. "Hal seperti ini jarang dilakukan pengelola tempat wisata di Jawa Timur," sambung Deasy yang sempat ngleset (tidur, Red) di salah satu spot yang disebut-sebut biasa dipakai untuk bertapa. Udara segar ditambah angin semilir membuat comfort pengunjung di areal spot tersebut.

Hal senada dikemukakan Anita Yang Junchu, dosen bahasa Indonesia yang menjadi penterjemah delegasi Pemprov Jatim selama berada di Kunming. Wanita cantik berambut panjang ini mengaku senang dan nyaman berada di Stone Forest. Meski tempatnya luas, Anita merasa betah berlama-lama menjelajahi spot-spot menarik di hutan bebatuan itu. 

"Udara segar dan lingkungan bersih membuat saya nyaman berkeliling di tempat ini," ujar dosen Guangxi University for Nationalities yang betah melajang ini. Anita baru kali pertama mengunjungi Stone Forest.

Tidak ada salahnya Provinsi Jawa Timur mengelola obyek-obyek wisatanya dengan model seperti di Stone Forest. Secantik apa pun obyek wisata, tanpa dikelola secara profesional, wisatawan pun enggan datang kembali. (end)

Berita Terkait



Berita Utama Lihat Semua

Berita Terkini Lihat Semua

Berita Terpopuler Lihat Semua

Surabaya Raya Lihat Semua

Rehat Lihat Semua

Facebook





Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber